Dari segala riuh yang tinggal di kepalaku
yang memenuhi setiap sudut pikiranku,
aku melihatmu terlalu nyaman menetap di tempat yang sama.
Merasa semua tanggung jawab telah selesai kau tunaikan,
padahal hidup tak hanya tentang cukup makan, cukup bekerja,
cukup pulang lalu beristirahat.
Ada masa depan yang seharusnya kita kejar bersama,
ada kehidupan setelah dunia yang juga perlu kau perjuangkan.
Dadaku sesak setiap kali melihatmu begitu saja.
Terlalu akrab dengan malam dan begadang,
hingga lupa bagaimana hangat mentari pagi menyapa.
Bangun sesukamu, menjalani hari seadanya,
seolah dunia ini tak sementara.
Aku lelah.
Benar-benar lelah.
Doaku tak pernah putus kusebut namamu.
Dalam sujudku, aku selalu meminta
agar Tuhan melembutkan hatimu,
menggerakkan langkahmu,
membangunkan jiwamu yang tertidur terlalu lama.
Tapi mungkin ini juga ujian untukku—
tentang sabar yang terus dipaksa bertahan,
tentang hati yang berkali-kali harus meredam kecewa.
Aku kehabisan cara.
Saat aku marah, kau menjadi lebih marah.
Saat aku menegur keras, kau menjauh.
Namun ketika aku lembut,
kau justru menganggap semua perhatianku biasa saja.
Seolah cintaku hanyalah angin lalu.
Harus dengan cara apa lagi aku menjangkaumu?
Melihatmu setiap hari seperti ini
membuat hatiku perlahan runtuh.
Aku tidak meminta yang muluk-muluk.
Setidaknya…
tunaikan lima waktumu.
Dekatlah pada Tuhanmu.
Karena mungkin dari sana
hidup kita perlahan akan dibukakan jalan yang lebih baik.
Mungkin rezeki kita dilapangkan,
hati kita ditenangkan,
dan langkah kita tak lagi terus tertahan di titik nol.
Aku hanya ingin kita bertumbuh bersama.
Bukan berjalan di tempat,
sementara waktu terus membawa usia kita pergi.


















