KITA LUPUT (UNTUK) MEMBACA
Seseorang sering membuka percakapannya dengan kata-kata “Sebelumnya, aku ini belum banyak ilmu tentang hal ini.” Kata kata ini jadi pembuka untuk setumpuk permasalahan yang akan diperbincangkan dengan sahabat atau teman-temannya. Sehabis kata-kata itu, mulai teori-teori dan seabrek komentar akan meluncur dari mereka. Jika obrolan sudah dimulai dengan kata kata ‘ketidaktahuan’, mengapa kemudian harus melanjutkan pembicaraan tanpa ilmu itu?
Mengulang perkataan Imam Ibnu Hajar al Asqalani, “Jika engkau melihat seseorang berbicara tidak pada keahliannya, maka lihatlah banyak keajaiban.” Bahwa riuhnya permasalahan orang beragama adalah karena banyaknya orang-orang tak ahlinya berbicara tentang hal-hal yang bersangkutan dengan agama dan syariatnya.
Membaca nash syariat agama misalnya ada ilmunya. Itu didapat dengan belajar dan luasnya bacaan. Bahkan untuk memberi komentar, kita lebih sering berbahan komentar orang-orang yang didapat di media sosial atau yang didengar dari orang-orang lainnya. Kita sering berbicara tanpa bekal pengetahuan yang cukup atau setidaknya tau pangkal dan awaknya. Darisana didapat cakupan dan batas-batas yang bisa untuk diperbincangkan. Akhirnya, ini kembali kepada insyafnya kita pada kebodohan yang ada dalam diri.
Kita luput untuk membekali diri dengan bacaan-bacaan yang akan memberi pengetahuan saat kita berbicara. Akhir dari itu adalah pembicaraan tanpa ilmu yang tak berakhir dengan nilai dan lebih seringnya menggantung dan diulang lagi di lain waktu. Pembicaraan yang seperti itu juga punya akhir negatif sebab tidak menghasilkan sebuah solusi yang bisa jadi manfaat kedepannya.
Kita misalkan hal yang lain adalah permasalah politik yang banyak menghiasi pembicaraan banyak masyarakat Indonesia. Jika sudah masuk tahun-tahun politik, maka akan banyak lahir para pengamat-pengamat politik yang bahkan membaca koran saja tidak pernah. Nafsu untuk banyak berbicara membawa kita luput membaca.
Seharusnya bacaan-bacaan kita bisa jadi bekal utama mempertentangkan pikiran dengan pikiran, bukan pembicaraan yang kalah menangnya ditentukan dengan suara siapa yang paling tinggi dan paling keras. Kita luput untuk membaca dan bermain dengan diskusi-diskusi pikiran sendiri dan bacaan sebelum akhirnya turun gunung dan memperbincangkannya dengan yang lain. Kita luput untuk membaca sebelum berbaju terbaik, dipuji dan diberi panggung yang besar untuk membaca. Membaca adalah bagian dari usaha kita untuk terus belajar dan mempersiapkan diri yang akan berbicara dengan ilmu, bukan dengan nafsu.
Kita luput untuk membaca dan melihat diri yang masih penuh kekurangan dan berlumur kejahilan. Orang yang akan membaca, mendapati dirinya perlahan-perlahan ditelanjangi oleh bacaannya sendiri. Jika dia membaca sebuah nasehat, didapatinya dirinya yang berlawanan dengan hal itu, insyaf dia bahwa selama ini ia salah. Orang yang membaca sebuah analisis masalah, dengan cermat lah dia paham bahwa orang punya banyak cara untuk melihat masalah saat ia masih melihatnya masih dengan satu kacamata. Ketika membaca sejarah, didapatinya bahwa ini pernah terjadi dan itu jadi sumber masalahnya dan solusinya seperti ini. Begitulah bacaan memberi nilai luarbiasanya pada kita. Luputnya kita membaca, membawa kita pada keangkuhan diri bahwa ‘aku tahu semua’ dan ‘benar hanya padaku.’ Wallahu’alam bis shawab










