Ingat, y, kamu itu tida banya uang. Kamu hanya banya gaya.
--aku kepada aku
occasionally subtle

★
YOU ARE THE REASON

祝日 / Permanent Vacation
No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sade Olutola
No title available
Stranger Things
Peter Solarz
Not today Justin
Mike Driver
tumblr dot com
he wasn't even looking at me and he found me
Game of Thrones Daily
ojovivo
trying on a metaphor

pixel skylines

JVL
Cosimo Galluzzi

seen from Switzerland
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Poland

seen from Italy

seen from Australia

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from T1

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from France
@khusnuel
Ingat, y, kamu itu tida banya uang. Kamu hanya banya gaya.
--aku kepada aku
A Higher Level of Goodness
Next level berbuat baik: bukan sekadar karena kamu udah dibaikin terus kamu pengen balas kebaikannya.
Berbuat baik pada orang karena kamu paham bahwa Allah menyukainya. Berbagi bukan hanya pas momen balas budi, tapi karena kita meneladani Rasul yang sangat hobi memberi.
Berbuat baik karena ingin dibalas baik itu sah-sah saja. Memberi dengan keyakinan bahwa kebaikan akan memantul balik padamu pun wajar-wajar saja.
Tapi pada akhirnya hidup memberi tahu kita, bahwa tak semua orang mampu membaca kebaikan kita dengan peka. Ada yang memang sukanya minta tolong, ketika datang waktunya kita yang butuh pertolongan; mereka tak ada.
Ada yang sukanya meminta dan merepotkan, tapi hanya itu yang bisa mereka lakukan; tak kenal yang namanya balas budi dan memantulkan kebaikan yang kau lakukan.
Maka di situlah mestinya pemahaman kita naik kelas. Islam mengajarkan kita berbuat baik karena Allah dan Rasulullah ﷺ perintahkan. Masalah mau dibalas atau dibiarkan itu dipikir nanti. Karena sejak awal niat kita adalah berbuat, bukan demi dibalas.
Energi yang timbul dari pemahaman itu akan membuat kita tak mudah menghakimi orang, tak pusing menuntut balik perbuatan baik. Ketika kebaikanmu dibalas oleh orang, tandanya dia menghargai. Tapi jika pun tidak dibalas; sejak awal kita sudah yakin bahwa kebaikan Allah pasti jauh lebih besar dan lebih megah.
اللهم حب حلال لا فراق فيه
Yaa Allah, anugerahkan lah cinta yang halal dan tidak ada perpisahan didalamnya.”
Marhaban Ya Ramadhan, Semoga kali ini kita bisa jauuh lebih baik.
Sedikit wallpaper buatmu untuk memulai hari yang baru. Semangat ya, kita berjuang sama-sama!
Sambil ngantuk-ngantuk, ada murrotal surat dhuha lewat di Youtube. Tiba-tiba kepikiran sesuatu tapi ndak sempet ngetik panjang. Tapi kalau dirangkum tuh kurang lebih begini:
Allah sudah menjamin kehidupan setiap makhluk-Nya. Hal yang tersulit bagi kita justeru menjaga akal kita agar tetap menghadap kepada Allah saat kita dikaruniai kebahagiaan ataupun diuji dengan kesedihan.
Hal yang perlu kita syukuri adalah....
Permintaan Allah kepada hamba-Nya tidak muluk-muluk. Dia menyediakan ladang amal di setiap kondisi. Dalam kelapangan ataupun kesempitan. Di waktu dhuha ataupun di waktu malam.
Melihat bagian akhir di surat dhuha yang mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada dhuafa semacam memberi insight bahwa atas segala hal yang telah lama kita khawatirkan, biarlah semua dalam genggaman Allah. Kita percayakan kepada-Nya.
Selebihnya, seperti firman Allah dalam surat dhuha, kita jalankan peran sebagai manusia untuk berbuat baik kepada sesama dan melindungi yang lebih lemah.
Apa yang ada di bumi itu amanah kita bersama. Kita tidak perlu menjadi orang dengan kemampuan super dan karya monumental. Cukuplah menjadi manusia yang selalu berusaha sadar atas kewajibannya baik di waktu lapang ataupun sempit.
...
Kalau surat Al Fatihah dianggap intisari isi Al Qur'an, mungkin surat dhuha memperjelas Iyyaaka na'budu, wa iyyaka nasta'in. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. Bahkan untuk menjalankan peran sebagai manusia yang sederhanapun, kita tetap butuh pertolongan dari Allah....
...
Fa amma bini'mati robbika fahaddist. Semoga kita bisa menjadi manusia yang selalu bersyukur dan menampakkan rasa syukur atas nikmat Allah melalui perbuatan baik kepada sesama. Sehingga orang di sekitar kita juga bersyukur atas kehadiran kita. Kemudian rasa syukur mereka juga membuat mereka istiqomah berbuat baik.
...
What a random ~XD
Dari banyak kegagalan rumah tangga yang pernah saya saksikan. Saya jadi punya minimal satu syarat sebelum memutuskan untuk membawa seseorang hingga ke pelaminan.
Jangan bersama seseorang yang tak bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Sebab manusia akan menjadi sangat bahaya, saat ia lepas kendali dan dipenuhi penyakit hati.
semakin dewasa
semakin takut ngomongin orang lain. takut kalau suatu hari kita jadi seperti yang diomongin. takut karena yah, kita cuma beda dosa aja.
semakin hati-hati membuat komitmen. lebih banyak menolak daripada menerima. lebih banyak berkata tidak daripada berkata iya. punya not-to-do list alih-alih to-do list saja.
semakin sabar urusan rezeki. sudahlah, yang memang untuk kita pasti akan datang dari mana pun itu. yang bukan untuk kita, nggak akan sampai meskipun sudah di depan mata. juga, semakin sadar bahwa setiap manusia bisa jadi wasilah rezeki bagi manusia lain. termasuk diri kita.
semakin bersyukur sama pasangan, anak, dan keluarga. rasanya, di luar sana orang tuh macam-macam banget. kadang artinya "ada-ada saja". pasangan yang setia, terbuka, dan menyayangi itu sangat istimewa. selebihnya maafkan dan terima.
semakin ingin mengikhlaskan. barang-barang, kepemilikan, masa lalu, luka, beban. ingin semua bersih agar setiap hari bisa berjalan dengan hati ringan.
semakin yakin dengan jalan yang dipilih. ternyata nggak berubah, krisis identitas itu selalu ada di setiap fase hidup. tugas kita adalah membuat kapital identitas yang jauh lebih besar daripada krisisnya. caranya, tetap teguh berjalan pada pilihan. jadilah pemenang yang sabar.
semakin sadar betapa kecilnya manusia. bumi Allah luas, kekuasaan Allah tinggi, Allah Mahabesar. nggak ada yang nggak mungkin bagi Allah.
semakin sayang orang tua. ya Allah, muliakanlah kedua orang tua kami.
Parenting : Minum
Aku dan suami punya kebiasaan kecil (yang lucu) untuk mengekspresikan perhatian dan rasa sayang. Kami sering mengambilkan minum satu sama lain tanpa diminta. Jadi kalau makan, kadang kejadiannya aku nggak ambil minum untuk diriku tapi untuk suami, dia juga sebaliknya hahaha.
Itu nggak hanya di waktu makan, waktu suami kerja, waktu aku kelihatan lelah, atau waktu-waktu random pengen merhatiin satu sama lain. Pagi hari kami juga bergantian membuatkan teh.
Ternyata kebiasaan kecil itu dilihat oleh anak pertama kami, Shabira. Shabira akhir-akhir ini sering sekali mengambilkan minum untuk kami berdua. Ketika melihat itu, aku langsung ngeh, ini dia mulai meniru kebiasaan kami! Haha. Ternyata bener yaa kita nggak bisa seenaknya aja di depan anak. Karena mereka benar-benar belajar dari orangtuanya, peniru ulung.
Biasakan yang baik, contohkan yang baik. Ingin anak shaleh, dimulai dari orangtuanya. Ingin anak senang belajar, apa bisa kalau orangtuanya mageran? Ingin anak mandiri, tapi orangtuanya manja. Ingin anak bisa bijak, tapi orangtuanya tidak konsisten. Ingin anak-anak rajin, tapi orangtuanya pemalas. Apa bisa?
Tentu orangtua bukan faktor penentu. Ada banyak, tapi peran orangtua besar untuk bisa membentuk kepribadian anak.
Shabira pernah di fase sukaa banget marah-marah. Selain belum bisa mengungkapkan perasaannya, aku yakin karena di saat itu aku juga sedang mudah uring-uringan :")
Ketika aku instropeksi dan berusahaaa sekali untuk lebih sabar, beberapa minggu setelahnya anakku mulai melunak. MaasyaAllaah huhuhu
Kejadian ini membuat aku kembali refleksi, sudah benarkah aku mencontohkan? Sudah cukup bijakkah sehari-harinya di rumah? Semoga sisi negatifku bisa diambil hikmahnya oleh anak-anakku kelak. Dan sisi positifku bisa diserap sebanyak-banyaknya. Huhu bismillaah untuk perjalanan parenting yang masih panjang ini!
Laa haula wa laa quwwata illa billaaah..
Salah satu cara agar tak sering kecewa adalah kurangi ekspektasimu yang kian tinggi terhadap orang-orang disekitarmu, terutama orang terdekatmu.
Semakin kamu tidak mengharapkan apapun dari mereka, maka semakin kecil kemungkinan kamu akan kecewa.
Itulah mengapa sebagai sesama makhluk, hanya kepada Allah saja kita boleh menaruh harap setinggi mungkin.
Karena pada Dasarnya Manusia Sendiri
Kalo lg meluk anak tuh kadang kepikiran, dalam perjalanan hidupnya pasti akan mengalami penolakan, dibenci, diabaikan, ditolak, direndahkan, tidak didengarkan. Tadinya secara heroik saya berpikir, kalaupun seluruh dunia membencinya, akan ada saya yang menjadi tempatnya pulang dan yang mencintainya.
Lalu teringat semua kekurangan diri baik sebagai ibu maupun istri dan bahwa orang terdekat justru akan berpeluang memberikan luka batin yang paling dalam. Maka bisa jadi saya justru yang akan sering menyakitinya. Kadang cinta memang menyakitkan. Kita merasa bisa mengeluh kapan saja, ternyata keluhan kita membuat lelahnya. Kita merasa bisa bercerita tentang segalanya, ternyata banyak bagian yang tidak ingin didengarnya.
Maka, kalaupun seluruh dunia membencinya termasuk saya ibunya, semoga dia selalu punya Allah sebagai satu-satunya tempatnya pulang dan menghalau kesepian. Semoga dia selalu dikuatkan dengan keyakinan yang tidak hangus oleh kesendirian. Semoga dia pintar merahasiakan derita dari manusia sehingga tidak bergantung pada telinga-telinga yang mungkin mengabaikan.
Semoga dia jauh lebih tangguh dari pada ibunya yang terlalu sering mengaduh.
“Tuhan tidak menciptakan kita hanya untuk bahagia, Tuhan menciptakan kita untuk hidup. Hiduplah sebagaimana kehidupan mesti dijalani.”
— Tidak ada yang abadi, begitu pula kesedihanmu.
Jangan nikah, kalau masih bucin. Karena pasanganmu tidak butuh seorang istri yang menye-menye sepertimu. Anak-anakmu juga tidak butuh seorang ibu yang alay seperti dirimu. Dan mertuamu juga tidak butuh menantu yang hatinya melow seperti kamu.
Kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri jika suatu saat kau memutuskan menerima seseorang, padahal hatimu belum dewasa dalam hal pemikiran. Kamu hanya akan banyak 'makan hati' jika memutuskan untuk menikah padahal mentalmu belum siap.
Banyak pengalaman teman-teman yang akhirnya berpisah pada usia pernikahan yang masih seumur jagung, hanya karena ia tak memiliki ketangguhan iman dalam dirinya untuk bisa menyelesaikan masalah-masalahnya dengan bijaksana.
Jangan nikah, kalau masih bucin. Karena setelah menikah, bukan kamu yang akan dilayani. Bukan keinginanmu yang akan dituruti. Bukan dirimu yang terus-terusan akan di mengerti. BUKAN.
Maka, akan sangat kecewa bila kamu berpikir setelah menikah kamu akan diperlakukan seperti seorang putri. Yang hidupnya begitu dimanja oleh sang suami.
Realitanya, hidup ini penuh dengan ujian. Dan dalam rumah tangga, ujiannya jauh lebih rumit dari sebelum kamu menikah. Maka, jika kamu tak punya pegangan ilmu dan iman yang kuat, bersiap-siaplah untuk hidup berumah tangga dalam penderitaan.
Jika kamu ingin menyelamatkan rumah tanggamu, maka mulai sekarang berhentilah menjadi budak cinta untuk seseorang. Mulai sekarang belajarlah untuk menjadi perempuan yang mengagumkan. Mulai sekarang isilah kepalamu dengan ilmu-ilmu pengetahuan. Ikutilah kajian yang dapat menambah iman.
Dengan begitu, kamu telah mempersiapkan dirimu menjadi seorang ibu yang terbaik untuk anak-anakmu. Dengan begitu, kamu telah menyelamatkan rumah tanggamu dari tengkar-tengkar yang tidak perlu.
Maka, jangan nikah kalau masih bucin.
📝@gadisturatea
_____
🌟 Order buku BERSAMA LAGI via WA 085756813214 sebelum promonya berakhir 🌟
Bucinnnn 😢
beres-beres
tentang menjadikan rumah selalu rapi dan bersih, yang sering disampaikan oleh ibu.
1. jangan ada barang di lantai. ada satu saja barang di lantai, rasanya rumah langsung jadi berantakan.
2. jangan ada barang di atas meja/rak/lemari--yang seharusnya tidak ada di sana. adanya satu saja barang yang tak pada tempatnya akan "mengundang" barang lain untuk nggak pada tempatnya juga.
3. semua barang harus ada rumahnya, kembalikan ke rumahnya setiap selesai pakai. investasi jangan hanya untuk barang, tetapi juga penyimpanan. kalau mau beli barang baru, pikirkan di mana penyimpanannya kelak.
4. sebelum tidur dan bangun tidur adalah waktu baik utk bersih-bersih. tentukan dan laksanakan pekerjaan apa yg dilakukan sebelum tidur dan setelah bangun tidur (habis shubuh, biasanya).
5. cicil pekerjaan membersihkan. misalnya, nyikat kamar mandi nggak harus semua bagian dalam sekali waktu. bisa hari ini hanya dinding sebelah kanan, besoknya dinding sebelah kiri, besoknya lagi lantainya.
6. lakukan spontan pekerjaan merapikan. kalau ada yang nggak pada tempatnya--termasuk sampah--ambil tindakan cepat sebelum tambah berantakan.
7. cuci piring langsung setelah makan. cuci alat masak langsung setelah masak. alasannya dua. pertama, agar orang lain di rumah terdorong melakukan hal yang sama, semangat karena sink bersih. kedua, agar diri sendiri nggak malas krn cucian terlanjur menumpuk.
8. jika hendak melakukan beres-beres akbar, rumusnya: rapikan, bersihkan, lalu rapikan lagi. maksud rapikan yang kedua adalah rapikan alat-alat kebersihannya juga.
9. berkeliling ruangan dan dari atas ke bawah. berkeliling: supaya tidak ada yang tertinggal. dari atas ke bawah: supaya yang sudah bersih tak terkotori lagi.
10. bersih dan rapi adalah kata sifat namun sebenarnya merupakan kata kerja. jadikan bersih-bersih dan rapi-rapi sebagai kebiasaan.
“Jika ada api dalam rumah tangga, maka jadilah air, karena itulah yang mampu meredam api. Jika api bertemu api, maka itu hanya akan membakar rumah tanggamu sendiri”
— Choqi Isyraqi
Ketenangan Hati
Selepas punya anak kedua, suami meminta saya untuk lebih fokus kepada anak-anak. Saya diminta berhenti berjualan online. Saya sih denial, ngakunya ikhlas dan baik-baik saja. Padahal mah takut juga nggak punya pegangan di tengah bulan kalau mau beli sesuatu yang peruntukannya untuk saya sendiri--yang biasanya saya beli pakai uang hasil jualan. Haha. Ngakunya enteng-enteng aja ngelepas, padahal saya berusaha cari 'income' lain selain jualan.
Sampai kemarin saya ditegur sama Allah sewaktu datang ke sebuah kajian. Kehilangan harta adalah sesuatu yang paling ringan ujiannya, ada yang lebih berat dari itu yaitu kehilangan ketenangan hati.
"Ketenangan hati itu datangnya dari Allah, mintanya ke Allah. Bukan minta pada materi. Apakah setelah punya banyak uang menjamin ketenangan hati? Kalian pikir orang kaya banyak uangnya pasti bahagia? Kalau kita sandarkan kebahagiaan itu pada harta, hati-hati syirik."
Jleb. Jleb buat saya yang kelimpungan ini.
Mintanya ke Allah. Saya masih takut sama nggak punya uang. Padahal segala sesuatu sudah dijamin sama Allah. Saya masih takut aja...takut banyak hal, ternyata Allah sedang mencabut nikmat ketenangan hati itu dari saya.
Sedih sih. Menerima kenyataan bahwa diri ini sungguh sudah salah meletakkan persepsi akan lebih tenang dan enak hidup ini kalau ada 'uangnya'. Siapa yang menjamin?
Haha terngiang kata-kata ayahku kalau saya lagi suka ndableg : "kaya ndak punya Tuhan aja kamu itu!"
Hehe. Hehehehehehhee.
Dear aku, sadarlah :))))
1 januari 2020