Catatan : Sebelum Menjadi Satu
Belakangan ini banyak membaca, mendengar, juga mempelajari seputar fase sebelum menjadi satu. Ada hal-hal yang kurasa cukup penting untuk digarisbawahi dan dititipkan di sini. Setidaknya penting untukku, belum tentu penting untuk orang lain. Jadi, perbedaan pendapat silahkan saja terjadi.
Pentingnya memiliki pasangan yang ikut mentoring (agama)
Ini merupakan salah satu syarat yang orang tuaku pernah bicarakan. Aku sempat mengkhawatirkan hal ini karena bagiku yang ikut mentoring belum tentu baik, yang tidak ikut mentoring belum tentu tidak baik. Lalu nanti akan timbul candaan, "yang ikut mentoring aja belum tentu baik, apalagi yang nggak ikut.." hehehe. Bercanda.
Seiring berjalannya waktu beberapa nasihat kudengar terkait mengapa ikut mentoring perlu? Karena orang yang mau ikut mentoring atau orang biasanya menyebut "mengaji" (berkumpul dengan orang-orang baik dan mau dibimbing) bisa dikatakan sebagai orang yang mau menerima nasihat. Dan nasihat hanya bisa diterima oleh hati yang lembut. Laki-laki perlu "mengaji" agar tidak menyepelekan urusan akhirat.
Lalu terkait pilihlah seseorang yang paling baik agamanya, bukan melulu soal tampilannya yang menggunakan simbol-simbol keagamaan. Paling baik agamanya dilihat dari hatinya, dari akhlaknya—ialah seseorang yang takut kepada Allah, yang pola pikirnya tak hanya tentang dunia tetapi juga akhirat, lalu bagaimana hal itu tercerminkan dalam kesehariannya, seperti misalnya takut meninggalkan shalat, menjauhi riba, dan lain-lain.
Bolehkah menyebut nama seseorang dalam doa?
Jawaban terkait hal ini terbagi menjadi dua. Boleh dan disarankan tidak. Aku baru mendengar dari dua ustadz aja, sih. Nanti mau coba explore lagi. Ustadz A bilang sebaiknya tidak, karena kesannya ngoyo alias memaksa. Sedangkan ustadz B bilang boleh-boleh saja, namun ada saran yang beliau berikan; bahwa ketika kita berdoa, prioritas kita tetaplah Allah, bukan orang tersebut.
Yang jelas aku setuju banget sama pendapat yang mengatakan bahwa berdoa itu privasi, suatu momen intim antara seorang hamba dengan pencipta-Nya.
Dalam berdoa ada tiga hal yang penting untuk kita minta pada-Nya, ini sih dalam doaku; meminta diberikan hati yang selalu punya niat yang lurus, meminta diberikan hati yang rela/ridho atas segala ketetapan-Nya, meminta diberikan hati yang baik.
• Laki-laki baik untuk perempuan yang baik? Begitu pun sebaliknya?
Setelah menggali banyak hal, ada sedikit kekeliruan orang-orang dalam menyimpulkan makna dari kalimat tersebut sehingga sering kita jumpai banyak orang bertanya-tanya mengapa si A baik tapi dapat pasangan yang buruk? Misalnya.
Perlu dipahami, menurut sebuah tulisan yang aku pernah baca, bahwa maksud laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu pun sebaliknya; bermakna bahwa kita dianjurkan untuk mencari yang sepadan. Entah dari segi usia, pendidikan, harta, latar belakang keluarga, dan lain-lain.
Teringat beberapa percakapan dengan guru mengajiku, yakni teteh S.
"Iya, teteh A itu udah kepengen nikah tapi susah untuk mencarikan yang cocok karena usianya sudah menjelang kepala tiga.."
"Teteh juga nggak berani mencarikan pasangan untuk si D karena dia dari keluarga berada.."
Dan perkara soal masalah seseorang yang baik memperoleh pasangan yang buruk atau sebaliknya ini diperkuat dari sebuah kajian yang aku ikuti. Seorang ustadz berkata,
"Suami-istri itu belum tentu jodoh. Jodoh ditentukan di akhirat, saat suami-istri tersebut sama-sama masuk surga, satu keluarga, atau sebaliknya.. sama-sama masuk neraka. Naudzubillah."
Jadi, kalau cuma istrinya saja yang baik dan masuk surga, nanti istrinya dapat jodoh yang lebih baik di surga, kata ustadz tersebut. Jadi, caption pasangan-pasangan, insyaaAllah till jannah yah.. itu bukan sembarang caption, lho. Menambahkan sedikit, jadi putar ulang ke masa taaruf bahwa sebelum menikah itu taaruf topeng, nanti setelah menikah adalah taaruf yang sesungguhnya.
Perkara hak-hak untuk istri
Persoalan ini adalah tentang hak antar manusia. Dan pengen bahas yang hak istri aja. Hak-hak istri: disayangi, didengarkan (curhatannya), diberi tempat tinggal yang nyaman, dinafkahi secara lahir dan batin. Yang secara batin, tidak melulu soal hubungan intim, tapi hak untuk didengarkan itu termasuk dinafkahi secara batin. Dan poin-poin tersebut disampaikan oleh seorang ustadz. Bukan kata aku yaaaa. Dan entah kenapa ustadz tersebut terus-terusan cuma bahas soal hak istri. Sampai berkali-kali ngomong, bahwa suami itu kalau minta maaf ke istri, jangan cuma sekedar minta maaf, tapi kejar terus sampai istrinya ridho. Sampai aku heran, kenapa ustadz ini berkali-kali bahas soal perlakuan suami ke istri.
• SAMAWA bukan sembarang doa
Sakinah tidak turun dari harta, tampilan, dan lain-lain, melainkan lahir dari ketakutan suami-istri kepada Allah SWT sehingga mereka menjadi pribadi yang amanah. Sakinah juga lahir dari sifat qona'ah atau merasa cukup dan bersyukur. Sakinah bermakna ketenangan, ketentraman, yang termasuk di dalamnya berupa kecenderungan terhadap pasangan sehingga tidak berpaling kepada yang lain, tidak egois karena ia akan memikirkan pasangannya, keluarganya.
Di dalam mencapai sakinah, ada hal-hal seperti pentingnya merencanakan tempat tinggal dan hal-hal lain menyangkut kenyamanan hidup pasangan.
Lalu ada mawaddah wa rahmah, yang silahkan cari tahu sendiri karena ternyata maknanya sedikit vulgar.
Bagaimana agar dijauhkan dari perpisahan?
Salah satunya dengan memperbanyak ilmu dalam proses rumah tangga. Iman bisa tumbuh karena seseorang itu belajar, berilmu. Sakinah, Allah tanamkan di hati orang-orang beriman.
Ada sebuah kalimat dari seorang ustadz yang sangat menohok, begini,
"Zaman sekarang tidak mudah mendapatkan pasangan yang benar-benar takut kepada Allah sehingga kemungkinan besar kita akan menikah dengan orang-orang yang memang bisa saja menyakiti hati kita. Misal ternyata akhlaknya tidak seperti penampilannya.
Jangan pernah menikah niatnya untuk bahagia, tetapi niatnya ibadah, maka akan terjadi prinsip dalam diri bahwa besarnya pahala itu sesuai dengan beratnya ujian seorang hamba, semakin berat ujiannya, semakin banyak pahalanya. Kalau nanti ternyata menikah dengan orang yang dzolim maka; bersabar, berdoa, memohon pertolongan Allah dan memohon hidayah untuk pasangan."
Dan teringat aku pada kata-kata bang Junot, "Salah satu kriteria calon istri gue adalah seseorang yang sudah bahagia dengan dirinya sendiri, sehingga mudah untuk bahagia bersama-sama." Aaaaaa❤️
Untuk teman-teman yang sedang berjuang menunggu, ingat-ingat pesan dari Ustadz Salim A. Fillah bahwa,
harapan tanpa iman adalah kekecewaan yang menunggu waktunya.
Menemukan jodoh itu rumit, sejalan belum tentu seiman, seiman belum tentu setujuan, setujuan belum tentu sejalan, sejalan belum tentu sekufu, sekufu belum tentu sejodoh, kata Mbak Mutia Prawitasari melalui pemikiran seorang tokoh bernama Kica.
Bdg, 14 Sept 2021 | 19.23