Yang Terjaga dan Yang Menjaga
Shafura, nama perempuan itu, putri dari seorang syaikh di kota Madyan. Dia diminta untuk menemui Musa guna menyampaikan amanah dari ayahnya yang sudah sangat sepuh.
Pergilah Shafura menemui Musa hari itu, dengan langkah yang terjaga oleh rasa malu.
Malu untuk tidak menutup aurat dengan sempurna di depan lelaki yang bukan mahramnya. Malu untuk tidak menjaga mata dari memandangi sesuatu yang berpotensi mengotori hati. Malu untuk berbicara hal-hal yang tidak perlu, apalagi dengan nada yang mendayu-dayu.
Sementara itu, Musa sedang duduk berteduh di bawah pohon rindang tak jauh dari sumber mata air tempat tadi ia menolong Shafura dan saudarinya memberi minum ternak-ternak mereka. Musa baru saja selesai berdo'a, meminta rahmat dari Rabb-nya.
Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir.
Wahai Rabbku, sesungguhnya aku, terhadap apapun yang Engkau karuniakan di antara kebaikan amatlah memerlukan.
Ketika kelebat bayangan perempuan berkerudung panjang itu kian mendekat ke arahnya, Musa pun segera menundukkan pandangannya.
“Sesungguhnya Ayahku memintamu datang ke rumah agar dia dapat membalas kebaikanmu yang telah memberi minum ternak-ternak kami”
Ucap Shafura. Singkat, jelas, to the point.
Musa mengiyakan dan bersedia datang. Tapi kepada perempuan asing nan jelita di hadapannya dengan santun namun tegas ia katakan:
"Berjalanlah di belakangku, dan berilah isyarat ke mana arah yang harus dituju."
Mengapa Musa justru meminta Shafura berjalan di belakangnya padahal Musa tak tahu di mana alamat rumah mereka?.
Sebab Musa mengerti, jika perempuan yang bukan mahram berjalan di depan, sementara lelaki mengiring di belakang, setan akan menjadikan si perempuan tampak begitu menawan dalam pandangan si lelaki hingga terfitnahlah mata dan hati.
Pun juga, kenapa Musa hanya meminta Shafura memberi isyarat untuk menunjukkan ke mana arah yang dituju, agar tak banyak pembicaraan yang tak perlu selama perjalanan itu. Hingga syaithan tak lagi punya celah untuk memunculkan fitnah.
Kelak, karena ucapannya itu, Musa dijuluki Yang Terpercaya. Sebab memang, sungguh terpercaya pemuda yang tetap menjaga pandangannya pada perempuan asing nan jelita yang mendatanginya, yang kemudian terpaksa harus berjalan hanya berdua.
Selanjutnya kita tahu, sejak hari itu berubahlah hidup Musa. Sang pelarian dari Mesir itu menemukan jodohnya di rumah seorang syaikh di Kota Madyan. Dia dijamu diberi makan, dilingkupi perlindungan, difasilitasi tempat tinggal, ditawari pekerjaan, kemudian nantinya dinikahkan, dan akhirnya diberi tugas kenabian.
MasyaAllah, alangkah indah hikmah yang kita dapatkan dari mentadabburi Kisah Shafura dan Musa.
Dari Shafura kita belajar, alangkah mulianya perempuan yang terjaga oleh rasa malu, hingga Allah abadikan kisahnya dalam surat Al Qashash ayat 25 itu, untuk jadi teladan dan pelajaran bagi para perempuan akhir zaman.
Dari Musa kita belajar, alangkah terpercaya lelaki yang menjaga pandangannya dari memandang yang tak halal baginya. Hingga Allah karuniakan untuknya sebaik-baik pasangan, seorang perempuan mulia yang benar-benar terjaga.
Maka, tetaplah terjaga dan tetaplah menjaga. Hingga tiba kelak waktunya, Allah pertemukan kita dengan jodoh sejati kita dalam seberkah-berkahnya pernikahan. Sebagaimana Allah nikahkan Shafura dan Musa lewat skenario terbaik-Nya.