Pembicaraan dengan laki-laki 1:
🧕🏻: kalau nanti sudah menikah, masih bolehkah aku bekerja, S2 dan travelling?
👨🏻🦱: hemm, aku sih pengen setiap aku pulang kantor kamu ada di rumah.. makanya puas-puasin deh kamu berpetualang sebelum menikah...
Pembicaraan dengan laki-laki 2:
🧕🏻: kalau nanti sudah menikah, masih bolehkah aku tetap bekerja, S2 dan travelling?
💁🏻♂️: why not? Emangnya kalau nikah jadi gak boleh menggapai mimpi/ cita-cita? Ya memang sih pasti ada prioritas, tapi kan bukan halangan..
Terasa kan perbedaannya? Percayalah ini semua pembicaraan yang nyata adanya..
Laki-laki pertama adalah orang yang kutemui di umur 20an awal. Itulah kenapa ketika dia hendak melamar, ku tolak saat itu karena aku belum puas berpetualang. Kan katanya saya disuruh puas-puasin diri sebelum menikah dengan dirinya... gak salah toh?
Sayangnya dia tidak mau menungguku berpetualang dahulu. It's okay, I continue my life and catch my dream & do my adventure.
Laki-laki kedua adalah orang yang kutemui di umur 20an akhir. Saat itu banyak petualangan yang sudah kulakukan, tapi belum semua mimpi terwujud dan ada kemungkinan akan muncul petualangan lain di masa depan yang ingin dilakukan. Oleh karena itu, pertanyaan yang sama tetap ku ajukan dan jawabannya membuatku tenang dan yakin untuk menerima pinangannya.
Terlepas dari diskusi patariaki vs feminisme yang kadang suka melebar kemana-mana di media sosial.. Menurutku pernyataan lelaki pertama sudah termasuk bentuk pemikiran patriaki. Dimana saya, seolah tidak boleh lagi memiliki keinginan dan cita-cita pribadi di luar ranah 'keluarga'. Padahal saya tetaplah seorang individu yang punya pemikiran dan keinginan yang bisa saja berbeda dengan pasangan saya. Padahal walau sudah menjadi ibu & istri, saya tetap 'seseorang' tanpa harus mengemban sebuah title.
Tapi bukan berarti pemikiran laki-laki pertama salah ya.. bisa saja benar bahkan mungkin ada sesosok perempuan yang sepemikiran dengan si laki-laki. Dimana mimpi/cita-cita perempuan tersebut murni fokus untuk menjadi istri dan ibu, pokoknya mengabdi pada keluarga 100% deh! Tidak salah kan?
Yah itulah kenapa saya tidak berjodoh dengan laki-laki pertama, karena saya bukan perempuan yang dia butuhkan. Saya lebih memilih pasangan yang melihat saya sebagai partnernya, bukan sebagai 'wife material' atau 'mother material' karena saya percaya kemampuan menjadi seorang istri dan ibu yang baik dapat dipelajari dan bahkan naluriah ada dalam diri setiap wanita. Namun untuk menjadi seorang partner yang sepadan, itu yang perlu dibedah jalan pemikirannya ketika masa perkenalan & pendekatan.
Yah begitulah...
Jadi kamu cari partner hidup yang seperti apa?
Kalau aku yang anti-patriaki, sesimple dari kesediaan dia untuk membebaskan pasangannya tetap berkarya walau telah menjadi istri dan ibu.