Kalau bicara sulitnya menjadi suami/istri, pasti sama-sama sulit. Sulit dengan kadar yang berbeda. Sulit yang tak akan bisa disandingkan atau dibandingkan, namun bisa dipertimbangkan dan dicari solusinya bersama.
Jelas dari judulnya, tulisan ini adalah POV dari seorang istri yang baru menjalani dunia rumah tangga selama hampir 5 tahun.
Di tengah maraknya konten rumah tangga ‘ideal’, melirik rumah tangga sendiri rasanya ada banyak sekali kekurangan di dalamnya. Sering terheran-heran juga, “Wah rumah tangga ternyata bisa sehebat itu, ya? Apalah daya rumah tangga aku ini”. Sering sekali hati ini membandingkan dan berakhir dengan ketidakpuasan atas rumah tangga ini.
Lalu dalam sebuah kajian tarhib, ustadz menyampaikan
“Kemampuan seorang hamba dalam bersyukur bukan hanya saat ia melihat suatu kenikmatan lalu ia mengucap Alhamdulillah. Melainkan ketika ia berdoa kepada Allah mengucp syukur atas nikmat yang tak tampak dan menerima semua ketentuan Allah dengan lapang. Seringkali kita ini kurang bersyukur. Suami tidak melirik perempuan lain, mau handle anak, sholat wajib tidak ketinggalan, bukankah semua itu juga perlu disyukuri?”
Benar. Seringkali sebagai istri aku hanya bersyukur saat mendapati suami memberi sesuatu atau melakukan sesuatu yang istimewa. Padahal keikhlasannya memberikan ruang untukku terus berkarya dan bermain dengan teman juga adalah salah satu yang mestinya menjadi hal yang aku syukuri tiap hari. Saat aku melupakan semua nikmat Allah dan tidak mampu merasakan nikmat yang ‘tak terlihat’, maka responku selanjutnya adalah melempar tuntutan yang tak ada habisnya kepada suami. Selain menuntutnya untuk melaksanakan ibadah wajib, aku juga minta ia melaksanakan ibadah sunnah, tilawah ODOJ, punya income tambahan, membantu mengurus rumah dan anak, tetap bekerja, tidak begadang, tidak bermain bersama teman dan tuntutan lainnya.
Iya, bahwa laki-laki yang paham agama akan bekerja keras, memberikan nafkah makan hingga terhidang di atas meja, menghadiahkan asisten rumah tangga dsb. Tapi di sisi lain, seorang istri juga perlu memahami bahwa setiap hidup punya latar belakang dan cerita yang tak sama. Ideal sebagaimana Rasul contohkan, iya kita semua berharap mampu menujunya. Tapi mari bergeser ke arah lain. Selain patokan ‘ideal’ ada lebih banyak urusan dan ladang pahala yang terbuka lebar di depan mata.
Rumah tangga tidak semuanya harus sama. Lagi-lagi, kita punya cerita hidup yang tak sama. Ujian yang tak sama. Suka dan duka yang tak sama. Kalaulah belum mampu jadi ideal bukan berarti kita melakukan kesalahan. Kalaulah belum ideal belum tentu semuanya dosa. Selama ikhtiar dilakukan, selama hati masih bergetar mengharap ridho Allah, semoga bersamaan dengan semua itu Allah kirimkan petunjuk dan pertolongan.
Mari fokus membangun diri, tegak dan tegap menghadapi suratan takdir. Berusaha menjadi support system terbaik suami, menjadi permata bagi mata dan hatinya. Menjadi ibu terbaik bagi anak-anak kelak. Bertekad membangun peradaban meskipun kadang seorang diri. Kalaulah ada lelah yang tak sanggup ditanggung dan dipanggul, mari mengadu pada Allah, berharap belas kasihNya dan uluran tanganNya.
“Ya Rabb, mampukan aku, seorang istri yang seringkali kufur nikmat ini fokus membangun diri, fokus memperkuat diri agar bisa menjadi sosok yang menginspirasi keluarga, agar mampu menajdi sosok yang menggerakkan roda rumah tangga mendekat menuju amanahMu. Ya Rabb, jadikan keluarga kami keluarga yang senantiasa berikhtiar mendekat kepadaMu, selalu berharap padaMu, mengingatMu dalam setiap kondisi
Ya Rabb, jadikan kekurangan dan kelebihan kami sebagai pelengkap bagi pasangan kami, sebagai jalan menuju misi yang lebih besar, sebagai bekal perjalanan kami meniti kehidupan di dunia yang fana ini.
Ya Rabb, berbagai harapku pada suami aku sampaikan melalui doa-doaku, sebab Engkaulah satu-satunya yang mampu menggerakkan suami hamba. Begitupula diri hamba.
Ya Rabb, sampaikan langkah kami pada sosok teladan rumah tangga terbaik, rumah tangga Rasulullah kekasihMu. Kalaupun tak bisa sampai ke sana, mampukan kami untuk sedikit demi sedikit mengikuti jejaknya.”