Selamat merayakan hal-hal sederhana
Apapun itu, semoga tetap bahagia

titsay
Xuebing Du
Game of Thrones Daily
No title available

@theartofmadeline

Product Placement
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
hello vonnie

oozey mess

❣ Chile in a Photography ❣

roma★
sheepfilms
Interview Vampire Daily

Discoholic 🪩

tannertan36
KIROKAZE

Kiana Khansmith
Cookie Run:Kingdom Official!
🪼

#extradirty
seen from South Africa

seen from Netherlands
seen from Taiwan
seen from Colombia
seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Austria

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@nurulbeysha
Selamat merayakan hal-hal sederhana
Apapun itu, semoga tetap bahagia
Bunga di tepi jalan yang hampir patah
Tertiup angin, terhempas hujan
Di balik dikara-nya
Tersimpan luka yang tak dapat diutarakan
Jika angin datang lebih keras
Apa mungkin dia akan tetap berdiri?
Seseorang datang, menahan batang kecil itu dengan telapak yang hangat
Tanpa suara, hanya tatapan dan senyuman lembut
Seakan berbisik, "kau tidak sendiri."
Di rimba kalbuku, aku tersesat. Pengembara yang pernah menepi, kini menghilang tanpa jejak. Aku kelelahan, pikiran dan hati menolak beriringan, menyisir jalan yang berbeda.
Sakit! Luka-luka kecil perlahan menggores kalbu. Meninggalkan sebuah harapan yang tiada ujung.
Mungkin, aku hanya butuh waktu untuk memahami. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun atau sepuluh tahun aku baru akan memahaminya.
Aku melangkahkan kaki ke tempat yang sejak lama kuimpikan
Tertawa lepas di sudut ruang, seolah luka tidak pernah ada
Lorong sunyi yang semakin jauh semakin gelap
Fatamorgana masa lalu silih berganti menghampiri
Harsa, berujung luka yang menganga
Langkahku semakin berat, penuh kebimbangan
Di setiap persimpangan aku pun ragu, ke mana arahku setelah ini?
Terus melangkah? Atau berbalik arah merubah tujuannya
Suara angin berbisik, menemani langkahku yang terasa hampa
Mendorong ke depan, menunjukkan perjuangan
Hingga pada akhirnya, kutemukan cahaya kecil yang mulai menerangi
Membuat nyaman atma dan renjana yang porak-poranda
Katanya, "Kalau luka lama terasa perih saat cuaca dingin. Itu bukan karena lukanya belum sembuh, hanya saja bekasnya masih sensitif."
Begitu juga hatimu.
Dia...
Begitu indah untuk dilupakan
Setiap detik bersamanya menyimpan banyak kenangan
Aku keberatan menerima bahwa langkah kakinya sudah terlalu jauh meninggalkan
Dia...
Hanyalah angan yang kutulis dalam puisi
Hadir sebentar, melahirkan ribuan tulisan patah hati
Aku kecewa, bukan hanya kepada dia tapi kepada diriku yang terlalu mudah menaruh hati
Menata kembali yang berantakan itu tidaklah mudah. Tertatih menelusuri jalan yang panjang seorang diri. Kamu tidak akan pernah tahu seberapa besar usahaku untuk sampai di titik ini. Sungguh, hatiku patah. Jadi, wajar saja kalau aku lebih berhati-hati menaruh hati sekarang. Sebab, patah hati bukanlah episode yang menyenangkan untuk diulang.
Perasaanku ada bukan untuk dipermainkan, Tuan. Mungkin aku terlihat kuat. Lalu, bagaimana jika aku sedang sendiri? Di malam hari? Di waktu hujan? Aku rapuh, dari banyaknya manusia, hatiku yang menjadi sasaranmu untuk dilukai.
Apakah benar semua ini telah direncanakan, Tuan? Melukai hatiku lalu tertawa bahagia di belakangku.
Pikiranku kembali menang, mengungkit semua hal yang telah terjadi.
Dengan beralasan ingin melupakan, aku menyibukkan diri. Melakukan hal-hal yang tidak kusukai.
Hingga pada akhirnya, aku berada di titik lelah dan sulit untuk bangkit. "Jangan terlalu keras menghukum diri!" ucapku.
Kemudian, aku sadar bahwa hal yang terpenting bukanlah melupakan namun menerima dengan lapang dada.
Thank you @syhrp and everyone who got me to 10 reblogs!
Katanya, berusaha terlalu keras untuk melupakan hanya akan membuat terluka dan menyerah. Kenanglah selalu dalam ingatan, baik sedih ataupun bahagia. Nanti, biarlah waktu yang akan menjawab ke mana arahnya.
Menjadi kenangan yang tak terlupakan? Atau menjadi kenangan yang harus diikhlaskan.
Tidak, kali ini aku benar-benar lelah.
Melihatmu dan kau melihatku. Sementara kita tidak saling menyapa, rasanya cukup menyakitkan.
Bahkan untuk saling mengatakan "Hai" kita tidak.
Tidurku sudah tidak nyenyak sejak kemarin
Aku membenci fakta berapa terlukanya aku waktu itu. Aku benci diriku, mengapa begitu mudahnya terluka? Mengapa sulit berdamai dengan realita? Terkadang, aku berharap adanya ketidakpedulianku tentang luka yang pernah digoreskan olehnya.
Hujan, apakah aku bisa melupakannya? Sebagaimana dia melupakanku.
Aku juga ingin sepertinya, pergi sesuka hati dan berpura-pura tidak mengerti bahwa hal itu menyakiti.
Tanpa peduli, bahwa luka yang dia tinggalkan begitu membuat berantakan hari-hari.
Saking terlukanya, aku tidak tahu cara menjabarkannya lagi.
Ternyata, perjalanan menuju ikhlas tidak sesingkat enam huruf yang tersusun.
Ternyata butuh waktu, keikhlasan, kesadaran dan menerima kenyataan yang tak sesuai harapan. Dan, menurutku, setiap orang memang memiliki caranya sendiri menuju titik ikhlas itu.
Ada kalanya tak bisa tidur nyenyak dalam waktu yang lama. Terbangun di tengah malam lalu menangis di keheningannya, tidak jarang rasa sesak yang tak berkesudahan. Mungkin memang butuh waktu yang sangat panjang.
Menepi dulu, menyembuhkan beberapa memori yang masih sakit jika diingat
“Dia beruntung dalam semua hal, padahal pernah menyakiti hatiku.” Aku menangis tidak mengeluarkan suara di sudut ruang itu dalam waktu yang cukup lama, ketika merasakan sakit kepala, baru aku mencoba berhenti menangis. Perlahan kuusap air mata yang enggan berhenti, lalu, menyilangkan kedua tangan untuk mendekap tubuh yang mulai menggigil. Besar harapan agar waktu bisa sembuhkan.
It's my 2 year anniversary on Tumblr 🥳
Hujan di penghujung November
Biarlah hujan yang menjadi tempatku bercerita.
Barangkali, nanti akan tersampaikan pada orang yang diharapkan.
Nanti, tidak tahu kapan.