Genggamlah erat satu kunci keyakinanmu yang kamu percaya dapat membukakan pintu-pintu mustahil bagimu kelak di masa depan.

seen from France
seen from China
seen from China
seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Greece

seen from India
seen from Russia
seen from Singapore

seen from Brazil

seen from Germany
seen from Serbia
seen from India
seen from China

seen from Italy
seen from China
seen from Spain
seen from China
seen from Greece
Genggamlah erat satu kunci keyakinanmu yang kamu percaya dapat membukakan pintu-pintu mustahil bagimu kelak di masa depan.
avatarpandorarising
Which Warrior will lead your Na'vi Troops? #AvatarPandoraRising
Dan jarak pun tak ada arti. Kau tahu? Yang ditakdirkan bersamamu akan tetap didekatkan padamu. Walaupun jarak jauh, tapi hati saling berpaut. Lalu yang jaraknya dekat bisa apa?
Nanti, setelah ini, akan dipertemukan. Bersabarlah, sedikit lagi.
kalau nanti aku bersedih lagi, itu karena hidup ini tidak hanya satu emosi saja. masih ingat, bahagia juga tidak abadi?
Setelah Menikah
Dulu, mama sering sekali berpesan tentang nanti bila aku dewasa dan telah mampu membangun rumah tangga
"Neng, ingat setelah menikah ada yang berubah tapi ada juga yang tidak akan pernah berubah. Setelah menikah seorang perempuan itu benar-benar berubah, ia harus mendahulukan baktinya kepada suaminya dibandingkan ibu dan bapaknya. Tapi berbeda dengan laki-laki, selamanya ia tetap milik kedua orangtuanya. Kewajibannya mendahulukan kepentingan ibu dan bapaknya diatas kepentingan istrinya."
"Apaan kok gak adil. Masa aku gak boleh berbakti sama mama setelah nikah?"
"Bukan gak boleh, tetapi sudah bukan lagi prioritas. Neng, kalau neng jadi istri gak perlu khawatir gak kebagian ladang pahala berbakti kepada mama dan bapak karena dengan neng mendukung suami neng nanti untuk berbakti kepada kedua orangtuanya insyaAllah neng akan mendapat pahala kebaikan yang sama"
"Oooo gt, iya iya da masih lama atuh ma. Kata mama kan harus jadi orang dulu"
"Heh, hidup mah gak ada yang tahu. Kalau nanti mama meninggal duluan gimana? Sama satu lagi, setelah menikah biarkan suami neng menikmati masakan ibunya"
"Gak suka ah kalau udah ngomong kaya gt teh. Mama kan bakalan nemenin neng kuliah, nikah, punya anak :') Emang kenapa harus membiarkan dia menikmati masakan ibunya?"
"Nanti neng bakalan ngerti kalau udah jadi istri"
"Iya iya, doain aja ma jodoh neng nanti laki-laki yang sholeh dan baik. Jadi nanti neng tetep bisa berbakti sama mama. Haha"
"Aamiin"
"Neng sayang mama"
"Mama juga"
(Berpelukan)
Saat nasihat itu terlontar aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dulu sepertinya percakapan itu tak ada artinya, sekarang justru itu yang menjadi hal yang paling aku ingat dan berkesan.
Ya, seperti sekarang saat aku dihadapkan dengan situasi rumah tangga anggota keluargaku, kerabat atau bahkan teman-teman yang bermasalah hanya karena hal-hal kecil, bahkan bisa menjadi ribut karena hal yang sepele. Nasihat-nasihat pernikahan yang pernah mama titipkan justru menyeruak ke permukaan. Seperti sebuah isyarat bahwa aku harus banyak berbenah dan bersiap.
Seperti belakangan ini seorang kerabat bercerita betapa sedihnya, anak laki-laki yang amat ia rindukan menolak masakan yang dulu si bujang favoritkan hanya karena alasan 'istri udah masak di rumah'. Qadarulullah sang istri juga bercerita hal yang sama, ia kerap kali kesal ketika suaminya pulang lalu tak menyantap masakan yang telah ia buat dengan susah payah dengan alasan 'tadi mampir ke rumah mama, sebelum pulang makan dulu disana jadi udah kenyang'
Ketika menceritakan ini, aku bukan untuk menyalahkan salah satu pihak (suami/istri, orangtua/mertua) tapi aku ingin berbagi nasihat yang dulu mama titipkan. Ternyata memang nyata, meskipun aku belum mengalaminya.
Ya, semoga aku selalu ingat nasihat tersebut.
Setelah menikah aku tidak ingin menjadi istri yang mudah kecewa hanya karena nanti ketika suamiku pulang ia tak mencicipi masakanku lalu mengeluh bahwa ia sudah kenyang. Aku ingin menjadi seorang istri yang ketika suaminya akan berkunjung ke rumah ibu nya, aku menjadi istri yang mengatakan:
"Jangan lupa makan masakan ibu, kalau bisa bawa pulang buat aku ya :)"
Rasanya mungkin setiap pasangan akan lebih mampu meminimalisir konflik, ketika satu sama lain bersedia untuk memberikan pemakluman.
Jangan khawatir nasihat ini bukan untuk yang sudah menikah saja, bila kita oleh Allah belum diberi kesempatan untuk menanam kebaikan di ladang pernikahan. Mari aplikasikan nasihat tersebut saat belum menikah ketika kita berkunjung ke rumah kerabat, teman bahkan tetangga ketika ditawari makanan. Makanlah, setidaknya cicipi dan berikan pujian. Sungguh hal tersebut benar-benar membahagiakan bagi mereka. Aku sudah membuktikannya.
Sebelum menikah maksimalkan kebaikan yang bisa kita lakukan, setelah menikah kebaikan itu harus bertambah-tambah.
Selamat belajar, semoga hikmah dalam tulisan ini bisa terselami :) 💙
*Menuliskannya untuk menjadi pengingat
Nanti. Akan ada saatnya kita mendengar lagu (ini) bersama. Menyanyikannya bersama. Aih, betapa menyenangkannya. Saat itu, aku menjadi wanita yang beruntung di Dunia.
Jogja ngangenin ya (?) Padahal baru satu minggu lebih satu hari 🙃
teruntuk kamu yang nanti jadi masa depannya dia;
hai, aku adalah pengagum rahasia dia. aku cuma mau berterima kasih sama kamu karena telah membuat dia bahagia.
siapapun kamu, kamu adalah perempuan yang paling beruntung dan aku ingin jadi kamu. tolong selalu buat dia bahagia. dan tolong sampaikan, aku pernah menyayangi dia dalam diam.
dari aku yang ingin jadi kamu, @naadep