Untuk Rumah Kedua; Aku Ada!
Izin tinggalku di rumah kedua hampir habis. Aku tak bisa memperpanjang pun aku tak mau untuk memperpanjanganya. Akan tetapi, di sisa waktu yang singkat ini. Aku melihat, rumah keduaku tak terawat, ruang di dalamnya begitu pekat; gelap. Perlahan, orang-orang yang selama ini membersamaiku, berjanji untuk melangkah bersama, menjaga, membangun, dan membesarkan rumah kedua pergi. Pergi tanpa permisi. Pergi seolah lupa akan janji. Terkadang, di waktu-waktu tertentu mereka datang. Entah kenapa, aku malah tak senang. Melihatnya pun aku enggan. Tapi, mau bagaimana lagi? aku harus memposisikan diri, kalau aku bermuka kecut apa kata orang? apa kata mereka yang kurang suka terhadap rumah keduaku?
Aku adalah orang yang cukup sulit untuk jatuh cinta, tapi perasaanku terhadap rumah keduaku masih sama; sama seperti 2 tahun lalu. Saat pertama kali aku masuk, dan menjadi bagian rumah keduaku ini. Aku sudah jatuh cinta, aku sudah kepalang sayang. Aku sayang dengan kehangatannya, kebersamaanya, kepedulian, pun kekeluargaan yang ada di dalamnya. Aku merasa, tak apa jika aku harus banyak menahan rasa sakit, tak apa jika aku harus menambah tingkat kesabaranku, tak apa jika aku harus berkorban waktu, tenaga juga pemikiran dan bahkan materi, tak apa. Kian hari aku makin belajar ikhlas, aku makin mendewasa, tanpa terasa jiwaku bertumbuh juga disana. Setiap kali aku lelah, ingiiiin sekali rasanya menyerah. Mempercayakan rumah keduaku, tanggung jawabku pada yang lain saja. Tapi nuraniku tak pernah meng-amininya, hatiku selalu saja berkata apakah masih ada rasa malu di dada? apakah kau lupa siapa yang memilih untuk menjadi bagian dari rumah kedua? apakah kau lupa masa dimana kau sangat menginginkannya?
Dan, setelah itu yang bisa aku lakukan adalah meluruskan kembali niatku, mempertebal lagi semangatku juga daya juangku. Aku juga teringat ke-17 adikku yang juga tumbuh bersamaku sekarang. Apakah layak bagiku meninggalkan mereka? menelantarkan tanpa memberikan hak mereka? hey, apakah menurutmu itu adil? Jika demikian kau bukan hanya sekedar tak adil, tapi kau dzalim terhadap diri sendiri pun orang lain. Maka sekarang ini, aku merasa belum saatnya untuk berhenti. Aku hanya perlu berjalan lagi, melanjutkan langkahku tanpa peduli siapa-siapa saja yang masih mau membersamaiku. Karena sekarang, bukan tentang orang lain, tapi tentang diriku! Aku percaya sumber semangat dan motivasi terbesar bagi seseorang adalah dirinya sendiri.
Ayo bangun, dunia terus berputar. Dunia memang ladang ujian bukan? jika rumah keduamu gelap, maka kau harus menjadi lilin. Lilin kecil pun tak apa, karena gelap sepekat apapun akan kalah oleh cahaya kecil yang terus menyala. Menerangi, dan semoga menjadi pemberi signal bahwa kau masih ada, bahwa rumah keduamu masih kau jaga.
Meski sulit, meski pahit jalani saja, telan saja, belajar darinya, ambil hikmahnya. Kau harus kuat. Jika rumah keduamu telah membentukmu menjadi pribadi yang sekarang, maka di sisa waktumu yang sebentar ini berikanlah yang terbaik. Buatlah generasi penerusmu adalah mereka-mereka yang tangguh. Yang tak hanya pandai beretorika, tapi pandai dalam mengeksekusi ide pun gagasan-gagasannya dengan penuh bijaksana. Generasi penerus yang gagah dengan kepemimpinannya, yang hebat dengan keputusan-keputusannya, yang cerdas degan inovasi, ide dan solusi kreatifnya. Tanggung jawabmu hampir usai. Berdo'alah! Semoga generasi penerusmu adalah mereka-mereka pemimpin muda yang berjiwa melayani, mengesampingkan ego, menghilangkan arogansi, pemilik kesabaran yang tinggi, dan selalu belajar mencintai. Agar mereka bekerja dengan hati. Menghidupi tanggung jawabnya dengan jiwa. Agar selelah-lelahnya mereka, selalu ada bahagia juga syukur yang tercipta atas pembelajaran yang ada.
Selamat belajar, selamat berjuang untuk kalian yang kelak meneruskan dan menjadi bagian dari rumah kedua. Allah bersama kalian, Allah bersama mereka yang mau berjuang. Semoga senantiasa diberi hati yang lapang dan pemikiran yang teduh. Semoga selalu dilancarkan dalam mengemban amanah. Semoga rumah kedua menjadi lebih baik.