Kau memang pandai memberikan motivasi, tapi kenapa kau sangat kismin dengan aksi.
Bukankah itu tandanya kau sedang berhalusinasi?

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Sweden
seen from China
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from Australia
seen from Sweden
seen from South Korea
seen from China

seen from Romania
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from China
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Australia

seen from United Kingdom
Kau memang pandai memberikan motivasi, tapi kenapa kau sangat kismin dengan aksi.
Bukankah itu tandanya kau sedang berhalusinasi?
HALUSINASI
Aku masih mencintaimu dalam diam, dalam senyap dan bisu
Mencintaimu secara egois tanpa memandang tempat dan waktu
Tanpa tahu diri, tak peduli dengan urat malu
Aku masih mencintaimu, masih rindu sampai aku jadi abu.
Masih terbayang semua kemungkinan itu
Senyumanmu yang melekung karena candaan konyolku
Genggaman tangan imutmu saat menonton film terbaru
Pelukanmu saat keliling Ibukota untuk menembus malam minggu
Aku tenggelam dalam angan tentang kita, tentang aku dan kamu
Walaupun semua itu tidak nyata, hanya berputar dalam kepalaku
Tentang hubungan kita mungkin diselingi dengan luka dan liku
Namun kupastikan kamu bahagia jika kamu menjadi milikku.
Senja, diluar hujan.
di kamarku juga, sedang turun hujan lokal. dari mataku.
sayangnya, tidak bisa kamu lihat.
sebenarnya aku tidak mau lagi menangisi semuanya, Senja. tapi aku bisa apa? hatiku tak sekuat itu ternyata.
katamu perjuangan itu harus sampai akhir. aku masih berjuang sampai titik ini. aku berjuang menuju akhir, seperti katamu. tapi sampai penghujung ini, aku tak sekali pun menemukanmu. —Senja, apakah ini akhirnya? apakah tanpa kamu adalah akhir dari semuanya?
–
Jingga. 200131
TEMAN
Tak sekalipun mengeluh, pada riak gemuruh cemooh merendahkan
umpama lagu yang acapkali kudengarkan, nada-nadanya menyiratkan kehancuran.
Dan mataku lelah,
melihat tiap kata tersusun
menjadi sajak sendu pilu yang ragu kutulis untuk mengatakan pada semesta
bahwa aku ini sedang setia bersama duka.
Ada lagi resahku pukul sembilan malam, sampai terlelap
adalah hening yang hening, cekam yang cekam, dan
kosong yang kosong.
Harapan hanyalah delusi, bagiku.
Suara teman yang hangat, salah satu memori yang menjadi halusinasi
samar, samar,
mendekat, dan hilang.
Ruang ini semakin menghitam
sedang aku hanya mengalah pada mengeluh,
lelah juga perlahan luluh.
Kabur pandang pada kabar,
juga ikrar yang dulu akbar, kini
menghilang sebab terhalang.
Aku pergi ke warung remang yang mulai lapuk
dan bertanya berapa harga sebuah peduli,
anak kecil yang melayaniku itu sulit mendengar,
senyumnya kaku.
Tuhanku yang galak,
bunyi kertap itu... ditutupkah pintu untuk temanku singgah?
Jangan begitu.
Amsalnya angin dari luar itu adalah musim semi yang mendekap hangat.
Di sini,
dingin dan miskin.
— Bandung, A.
Ruang Bersama Bapak
#1 [Tentang Pernikahan dan aku]
Semalam sebelum puncak dari ibadah ramadan datang, aku bertatap muka dengan bapak. Hanya berdua. Di teras rumah, di waktu jalanan mulai menyepi. Mulut ku memberanikan diri.
"Pak, sepertinya anak mu ini ndak akan menikah dalam waktu dekat, bahkan kepikiran pun mboten." Sesaat hening. Di antara suara takbir yang berkumandang dari segala penjuru mata angin, entah setan apa yang membuatku mengatakan itu.
"eheemm.." deham ku mencoba memecahkan kecanggungan.
Tanpa berkata bapak mulai membuka bungkus rokok yang ada di meja, diambilnya satu batang, dinyalakan, kemudian disesapnya dalam-dalam. Sesaat kemudian asap batang kehidupan mulai menyatu dengan udara dingin malam itu. Sepertinya bapak lupa kalau di sisi kursi sebelah ada anaknya yang tidak akur dengan asap rokok.
"Pak, masih ngerokok? aku kira bapak sudah berhenti." kesal ku.
"Padahal kemarin puasa ndak nyentuh rokok sama sekali, waktu buka juga mboten. Apa bapak lupa kesehatan bapak?" usaha ku mengalihkan topik.
"Kalau memang seperti itu keinginan mu, bapak juga nggak akan paksa kamu le. Koe kan udah gede, Udah saatnya buat keputusan sendiri. Bapak cuma bisa mendoakan yang terbaik." sahut bapak.
Sepertinya bapak lebih tertarik dengan pernyataan ku tentang pernikahan tadi dari pada membahas tentang kesehatannya. Sifatnya memang keras kepala kalau sudah membahas tentang rokok yang sudah jadi candu nya. Semua keluh kesah tentang rokok dari anak atau istri nya seakan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, berlalu begitu saja.
"Sampai kapan bapak mau ngerokok?" tanya ku menuntut jawab.
Mendengar pertanyaan ku, dimatikannya rokok yang dipegangnya di asbak kayu buatan bapak sendiri.
"Le, kenapa kepikiran gak mau nikah?" lagi-lagi bapak menghindar dari pertanyaan anaknya ini. Membenahkan posisi duduknya. Menatap ku.
"Bukan ndak mau nikah pak, cuman kaya gak ada hasrat atau keinginan buat nikah saat ini. Entah dua atau tiga tahun mendatang." jawab ku.
"Ya gak apa-apa kalo memang saat ini belum kepikiran, toh umur mu ijek enom. Wis dinikmati dulu masa-masa muda mu. Bapak cuma pesen, ojo lali sholat, ngaji, kewajiban agama, lan keluarga mu." Kalimat terakhir yang diucapkan bapak seolah menjadi tuntutan yang harus aku penuhi, terlihat bagaimana tegasnya raut wajah tua bapak saat menyampaikan itu. Jelas dan lugas.
"Siap, Komandan!" siap ku, sambil ku angkat tangan kanan memberikan penghormatan kepada bapak. Tak lupa ku sisipkan senyuman tawa slengekan terbaik malam itu. Bapak juga ikut tertawa, dengah wajah yang semakin menua bahagia.
Aku adalah tipe manusia yang tak mau terlalu terlibat dengan situasi canggung dan serius seperti ini. Bapak pun tau, kalau anak lelaki satu-satunya ini memang selalu menolak masuk kedalam obrolan serius, sekalipun mau pasti anaknya membawakannya dengan guyonan. Tak tahu apa yang dipikirkannya, tapi bapak tahu kalau anaknya selalu mengerti maksudnya.
"Jujur pak, sebenernya aku merasa kaya belum ada rasa ketertarikan buat jalani hubungan yang serius, kalo temen-temen bilang sih cinta buat orang lain."
"Koe normal tho le?" tanya bapak. Aku tahu maksud arah pertanyaan bapak satu ini. Raut mukanya mendadak serius lagi, meskipun aku tahu ini cuman bercanda.
"Alhamdullilah pak normal, kalau suka sama lawan jenis mah banyak pak. Tapi ya sekedar suka aja, gak lebih. Dan juga gak pernah kepikiran buat nerusin ke hubungan yang lebih serius." bela ku.
"Halah ngomong opo ke tho le, bapak sudah tua, gak paham lagi cinta-cintaan anak muda jaman now ini." balas bapak.
"Bener juga ya pak, Apa aku minta tolong Bulik is buat dicariin santriwati yang pinter ngaji, agama nya bagus, baik, sopan, cakep, gitu aja ya pak? biar gak susah-susah hehe" ide ku.
"Wah beres yen kui, nanti biar bapak yang minta ke bulik."
Kami pun tertawa bersama seolah baru saja memenangkan sebuah kesepakatan. Entah pernyataan bapak tadi hanya sebuah guyonan atau tidak, aku tak terlalu memikirkanya. Bahkan untuk saat ini apabila hal itu memang benar, aku pun tidak akan menolaknya. Yang jadi masalah calonnya mau apa tidak jadi istri dari manusia guyonan seperti ku ini. Pasti mau dong. Percaya diri sekali aku.
Entahlah sempat terbesit dalam otak ku kalau suatu saat nanti aku menikah, tidak masalah tidak ada cinta. Cukup pasangan ku menjalankan kewajibannya sebagai istri, dan aku akan menjalankan kewajiban ku sebagai suami. Dan cukup berbuat baik satu sama lain, tak apa tak ada cinta di dalamnya.
Akan kah suatu saat ada seseorang yang mampu melawan teori ku ini? Ku rasa ada, tapi aku tak berharap.
🌻
"Aku hanya ingin bahagia. Cukup."
—anak guyonan
Sejujurnya, aku tak terlalu percaya dengan kalimat 'saat rindu, aku melihat wajahmu pada wajah orang-orang yang kutemui seharian'. Namun, aku bisa apa saat kenyataan berbicara sebaliknya. Pernah suatu masa, aku melihat wajahmu menitis pada dua orang yang kutemui di hari yang sama. Di kesempatan lain, kulihat wajahmu merupa pada tiga orang yang kutemui di waktu berdekatan. Mungkin, saat kegilaanku sudah mencapai puncaknya, semua orang yang kutemui akan menyerupai wajahmu seorang.
Fatamorgana yang selalu aku perjuangkan itu kamu. Iya, aku sadar aku ini sangat keras kepala. Aku mau kita selamanya. ‘Hahahaha’ -- tapi jauh disana mereka menertawakanku. Mereka bilang, aku senang berhalusinasi. Makanya, aku pernah ingin berhenti dan pergi. Namun sial, itu pun hanya ilusi. Dan aku masih disini lagi.
Aku gemar berimajinasi, namun aku takkan membuai perihal mengasihi. Jadi, maukah kamu menjadi kekasih?
Kunci biar tidak keseringan patah hati, berhenti kebanyakan berdelusi, dan banyak-banyak tebar manfaat di muka bumi. Semoga dengan keduanya, lukamu terobati.