Jika kamu meminta bunga kepada Allah, jangan khawatir dan takut jika la mengirimkan hujan terlebih dahulu kepadamu. Bahagia itu ada harganya, yang seringkali dibeli dengan kesabaran, penantian yang panjang, dan doa yang tiada bosan.
@jndmmsyhd
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
occasionally subtle
Sweet Seals For You, Always

Product Placement

titsay
Mike Driver
The Stonewall Inn
h

izzy's playlists!
noise dept.

pixel skylines

Andulka
EXPECTATIONS
Lint Roller? I Barely Know Her
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

oozey mess
KIROKAZE

gracie abrams

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi

seen from Italy
seen from Ecuador
seen from Kenya
seen from Israel
seen from Austria

seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from Chile

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Kazakhstan

seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from United States
seen from Chile

seen from Burkina Faso

seen from Portugal
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Russia
@pemulunghikmah
Jika kamu meminta bunga kepada Allah, jangan khawatir dan takut jika la mengirimkan hujan terlebih dahulu kepadamu. Bahagia itu ada harganya, yang seringkali dibeli dengan kesabaran, penantian yang panjang, dan doa yang tiada bosan.
@jndmmsyhd
Biarlah kita keliatannya jelek, hidupnya amburadul, tapi diem-diem berusaha buat jadi kecintaan-Nya Allaah. Beneran senyaman itu gak keliatan jadi apa-apa di hadapan manusia, tapi usahanya kenceng banget buat bikin Allaah jatuh cinta.
@terusberanjak
Zaman mamang kecil dulu, nggak ada istilah quality time. Yang ada cuma: “Bapak ada di rumah.”
Walaupun nggak selalu ngajak main, nggak pandai ngomong soal perasaan, tapi dengan beliau duduk di ruang tengah sambil nonton TVRI aja rasanya nyaman.
Sekarang, kita punya banyak istilah keren. Parenting, healing, trauma, luka pengasuhan. Tapi sering lupa satu hal paling mendasar, yaitu hadir.
Anak mah sederhana. Nggak nanya kerja ayahnya apa, gajinya berapa, atau prestasinya apa. Yang mereka ingat cuma, "Waktu itu Ayah ada.”
Dan dari “ada” yang sederhana itu, anak belajar percaya, belajar tenang, belajar merasa cukup.
Kalo mau jujur ya, jadi orang tua itu nggak perlu terlalu canggih. Cukup pulang lebih cepat, duduk sebentar, dan nggak sibuk sama dunia ketika anak lagi cerita.
Bagi orang lain, kita mungkin baru dihargai ketika sudah jadi "orang berada." Ada rumah, ada kendaraan, ada pencapaian yang bisa dibanggakan. Tapi bagi anak, kita nggak perlu sejauh itu.. Kita hanya perlu ada.
Berhenti membanding-bandingkan diri kita dengan orang yang sekarang kita lihat berada di puncak karir dan kesuksesannya.
Sebab barangkali kita hanya fokus melihatnya pada posisi sekarang, tanpa tahu bahwa sebelumnya ia adalah orang yang tertatih-tatih melewati kepahitan demi kepahitan hidup, barangkali sudah tak terhitung berapa banyak air mata dan keringat yang jatuh untuk berada di posisinya yang sekarang.
- khadijah1998
Sabar itu seperti menanam benih di tanah yang terlihat tandus. Tak ada suara, tak ada gerak, tak ada tanda-tanda. Hanya keheningan. Lalu tiba-tiba, pada suatu waktu yang tidak kita duga, Allah menumbuhkan tunas kecil, tanda bahwa usaha diam dan panjang itu ternyata sedang diperhatikan-Nya.
Pada akhirnya, semuanya akan kembali. Namun kitalah yang menentukan bagaimana kita kembali.
Hidup ini memang selalu memutar. Luka akan pulang, bahagia pun akan kembali. Tapi bagaimana bentuk diri kita ketika semua itu kembali, lebih matang atau lebih patah, kitalah yang memilih.
Maka ketika hidup terasa berat, jangan hanya fokus pada sakitnya. Fokuslah pada dirimu yang sedang dibentuk. Karena bisa jadi, Allah tidak sedang menunda apa yang engkau minta; Ia sedang menyiapkan engkau agar pantas menerimanya.
Kadang Allah tidak langsung memberi, bukan karena Ia tidak sayang, tetapi karena Ia ingin menghadiahkan sesuatu yang tidak akan kita sia-siakan nanti.
@jndmmsyhd
Baru aktif lagi nulis di tumblr, insyaallah bakal banyak hal yang saya tulis setiap harinya :')
Tahukah kamu apa yang paling dikhawatirkan untuk mereka yang sedang menunggu?
Bukan lamanya waktu yang membuat hati rapuh, bukan pula panjangnya penantian yang melelahkan jiwa. Yang paling dikhawatirkan adalah ketika penantian itu mengikis keyakinan, saat hati mulai bertanya, “Apakah janji itu benar akan datang?”
Menunggu sesungguhnya adalah madrasah kesabaran. Di dalamnya, iman diuji: apakah kamu masih teguh percaya pada Rabb yang tidak pernah alpa menepati janji-Nya? apakah kamu tetap menjaga doamu agar tetap hangat, walau hari-hari terasa dingin tanpa jawaban?
Yang paling ditakutkan bukanlah keterlambatan, melainkan hati yang menyerah di tengah jalan, jiwa yang letih lalu memilih meninggalkan doa, padahal pintu itu sudah hampir terbuka. Maka, jagalah hatimu ketika menunggu. Rawatlah keyakinanmu dengan dzikir, basuhlah resahmu dengan istighfar, dan peliharalah harapanmu dengan shalawat.
Karena di balik sabar yang terus terjaga, ada hadiah yang sedang dipersiapkan. Dan di balik doa yang tak henti dipanjatkan, ada janji Allah yang tidak akan pernah dikhianati.
@jndmmsyhd
Kita butuh dipatahkan agar tau bahwa kita lemah. Kita butuh dibuat menangis agar tidak sombong. Sebab kadangkala bila bahagia menyapa, kita kerapkali mendadak lupa siapa diri kita dan tujuan kita berdiri di dunia ini.
@terusberanjak
Gemuruh
Kadang yang membunuh kita itu bukan orang lain melainkan diri sendiri semisal berpikir terlalu berlebihan setelah berbincang dengan teman, padahal teman kita saja orangnya santai dan menganggap pembicaraan sebelumnya tidak berarti apa-apa atau berpikir berlebihan tentang hal-hal yang belum terjadi. Kita banyak langsung mengasumsikan seolah ketakutan kita pasti terjadi, padahal belum tentu. Satu lagi kita juga kadang menganggap diri kita tak layak mendapatkan sesuatu yang baik hanya karena merasa kita tidak pantas.
Mengapa kita demikian? Seolah apa-apa yang akan terjadi kepada kita adalah hal-hal yang tak baik. Pada akhirnya kita gak jalan, gak berkembang. Dan buruknya yang membuat kita diam di tempat adalah diri kita sendiri bukan orang lain.
Bisakah mulai dari sekarang kita percaya dengan diri sendiri? Percaya bahwa hal-hal baik selalu ada untuk kita, bahwa setiap manusia punya keberuntungan masing-masing yang Allaah kasih, bahwa kita layak menjalani hari sebagai manusia yang positif.
Jangan membunuh diri dengan pikiran dan asumsi yang membuat mata buta dari melihat yang baik-baik. Tak ada untungnya. Kalau overthinking membuat kita semakin melemah dan rendah diri, lebih baik redam itu dalam-dalam sampai tak terlihat lagi wujudnya. Tidak mau kan hidup selamanya dalam gemuruh yang tak berkesudahan? Kepala kita berhak diisi oleh yang baik-baik.
@terusberanjak
aku tidak ingin berandai-andai.
terkadang aku penasaran, bagaimana ibunda Aisyah Radhiyallahu 'anha menghadapi hari-harinya dengan tetap kuat dan yakin kepada Allaah atas takdir yang ditetapkan untuknya. Allaah telah menetapkan Ibunda Aisyah Radhiyallahu 'anha tidak memiliki keturunan.
aku hanya ingin tahu bagaimana beliau menghadapi banyak pertanyaan yang mungkin diajukan kepadanya kala itu. kalaupun tidak ada bagaimana beliau melalui hari-harinya selain belajar, menjadi salah satu perawi hadits terbanyak dikalangan para sahabat. akupun ingin tahu apakah semasa beliau hidup, apakah pernah beliau meminta agar dikarunia keturunan? ataukah beliau bahkan tidak pernah sama sekali meminta akan hal tersebut?
aku penasaran bagaimana beliau akan menjawab sebuah pertanyaan "wanita yang memiliki keturunan/ anak banyak biasanya ia sangat mencintai pasangannya (suami). sementara wanita yang tidak memiliki keturunan biasanya ia tidak mencintai suaminya. cintanya tidak besar."
bagaimana mungkin?
membaca kisah beliau ketika difitnah saja membuatku menangis, bagaimana bisa beliau setegar itu kalau bukan karena pertolongan Allaah. bagaimana beliau tetap memilih diam dan menyerahkan semuanya kepada Allaah tanpa sedikitpun mengklarifikasi kebenarannya seperti apa. jika ku kembalikan kepada diriku, maka aku akan sibuk klarifikasi kesana kemari mengatakan bahwa berita itu tidaklah benar. namun demikianlah generasi terbaik memberikan tauladan.
kenapa menuliskan ini?
beberapa waktu lalu aku mengikuti sebuah kajian Ibu hebat. disana mengundang sebuah pemateri seorang ustadzah yang terbilang masih muda. didalam ceramah beliau, beliau menyampaikan bahwa ibu-ibu harus bangga kalau memiliki anak lebih dari tiga. artinya ibu sangat mencintai bapak (pasangannya). apalagi kalau anak pertamanya mirip sekali dengan ibu, artinya ibu dicintai bapak dengan begitunya.
kemudian beliau melanjutkan tausiyahnya,.
karena biasanya Bu, para wanita yang tidak memiliki anak kebanyakan dari mereka biasanya tidak begitu mencintai suaminya. kalau punya anak satu atau dua cintanya tidak sebesar seperti cintanya ibu yang anaknya lebih dari tiga. ujar beliau dengan di iringi sebuah senyuman.
aku tertegun lama sekali, hal itu membuatku menginstropeksi diri. bertanya dengan jujur, apakah benar demikian?
malamnya aku berdiskusi dengan suami, lalu ku tutup dengan tangisan.
ah, pertanyaan seperti itu mungkin terasa ringan dan tidak menyakitkan bagi mereka yang telah Allaah karuniai buah hati meski hanya memiliki satu ataupun dua. dan pertanyaan tersebut sangat membuat bangga dan bahagia buat mereka yang memiliki buah hati lebih dari tiga. lalu bagaimana dengan mereka yang sedang Allaah uji dengan sebuah penantian?
jika ditanya kok belum isi, kok belum hamil, kok masih belum punya anak. kapan hamil, kapan punya anak, kapan merasakan hamil dan melahirkan. dengan pertanyaan sebelumnya. entah mengapa pertanyaan "mereka yang belum punya anak biasanya tidak benar-benar mencintai suaminya."
menghujam sekali, sampai ke inti jantungku. dan aku menangis setiap kali mengingatnya.
aku tidak ingin berandai-andai. tapi aku hanya ingin tahu bagaimana Ibunda Aisyah Radhiyallahu Anha akan menyikapi hal demikian jika dihadapkan pertanyaan tentang hal tersebut. namun, pada akhirnya aku sadar bahwasanya beliau adalah wanita yang cerdas, beliau tak akan sibuk dengan penilaian makhluk. baginya cukuplah Allaah sebagai saksi dan sebaik-baik penolong.
kalimat pertanyaannya tidak begitu panjang, namun membuatu seperti beku. membuatku tidak berdaya untuk sekadar menulis, menumpahkan semuanya dalam kata-kata. tapi sekarang, aku lebih tenang. dan aku ingin kembali berkarya. siapapun yang membaca tulisan ini, semoga Allah karuniakan kepada kalian kesehatan dan kebahagiaan yang berlipat-lipat..
sejumput hikmah || 18.23
Bercerita
Setiap kisah pasti ada bagian terbaiknya, yang terkadang itu adalah bagian tersedih dalam kisahnya, atau bagian paling bahagianya.
Bukan, bukan soal kisah seseorang, tapi soal kisah hidup kita masing-masing. Andai hari ini gemuruh dan hujan lebat sedang datang padamu, tak apa, pertanda langit akan segera cerah dan itu bisa menjadi bagian terindah dari kisah yang akan kamu kenang.
Pastikan saja, bahwa setiap langkah kaki dan potongan perjalanan kita ini adalah untuk mencari keberkahannya. Bukankah hidup tanpa keberkahan itu layaknya mayat yang berjalan? Raganya hidup tapi hatinya mati.
Aku tahu dan aku pun pernah melakukannya, sekadar menyendiri sesaat untuk menangis, sebab hidup ada saatnya harus menangis, ada saatnya pula hidup harus tertawa bahagia.
Aku hanya punya 1 doa yang biasa aku panjatkan dan sampaikan pada-Nya, pada pemilik dunia dan masa depan.
"Yaa Allah, muliakan hidupku, bimbing langkahku, ingatkan dengan lembut setiap khilafku, jangan engkau ambil nikmat yang kau berikan, ajari aku cara bersabar dan bersyukur dengan kenikmatanmu, dan matikan aku dalam kebaikan"
Doa yang begitu singkat, tapi itu menenangkan untukku, barangkali juga menenangkan untukmu.
Selamat menulis kisah :')
@jndmmsyhd
Jika kita berbuat dan beramal karena Allah, maka jangan pernah berhenti hanya karena manusia. Yang mahal darimu adalah niat baik dan keistiqomahan, dan yang membuatmu receh itu jika semuanya diniatkan untuk manusia. Padahal kamu tahu, memuaskan manusia itu mustahil.
— Dawuh guru
Kelak, engkau akan paham, bahwa melibatkan Allah dalam setiap urusanmu, bukan hanya agar engkau segera mendapatkan apa yang engkau inginkan, melainkan agar engkau temukan ketenangan dalam setiap urusanmu.
Melibatkan Allaah memang tidak selalu kita segera temukan jawaban atas doa-doa kita, tapi jauh lebih penting dari itu, dengan melibatkan Allaah, selalu kita segera temukan ketenangan.
Tumbuh dan Bercerita
Tidak semua masalah kita harus diketahui orang lain, bukankah ada banyak masalah yang kemudian semakin membesar hanya karena kita salah bercerita?
Lelah ya berproses menjadi dewasa itu, tapi setidaknya kita bisa lebih bijaksana dalam bersikap. Sebab dewasa itu adalah akumulasi dari kumpulan masalah yang bisa kita lewati dan hadapi, bukan menghindar atau mengabaikan.
Selamat bertumbuh, tidak apa-apa, insyaallah semua akan baik-baik saja.
Sederas-derasnya hujan, ada juga masa ia reda. Seterik-teriknya matahari, ada masa pula ia akan teduh dan rindang. Tak apa, dunia ini berputar, tak ada kesulitan yang abadi, sebagaimana tak ada pula kenyamanan yang kekal.
Selamat bertumbuh dan dewasa :)
@jndmmsyhd
Diam
Kadang, kita memang sepatutnya diam daripada mengomentari yang tidak perlu.
Kalau ada orang yang bahagia karna sesuatu yang menurutmu sangat sepele, yasudah, jangan rusak kebahagiaannya dengan kata-kata yang tidak perlu. Bisa jadi menurutnya itu adalah pencapaian besar di hidupnya yang telah ia usahakan sampai berdarah-darah.
Just because your path is much easier, doesn't mean you can judge others and ruin their happiness.
Habiskan waktumu untuk Allah sampai tak ada celah untuk mencari perhatian manusia atau sibuk memikirkan pendapat manusia tentangmu. Habiskan waktumu untuk Allah sampai benar-benar tak ada lagi celah untuk melakukan apapun kecuali agar Allah semakin menyayangimu, tak lebih.
@terusberanjak
"Kupikir yang paling beruntung adalah yang Allah izinkan hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya kepada Allah. Yang Allah izinkan hatinya merasa cukup dengan Allah. Sebab kalau sudah begitu apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya, dia tau itu hanya jalan buat membuktikan iman dan cintanya ke Allah segede apa. Nikmat banget ya?"
@terusberanjak
Habiskan waktumu untuk Allah sampai tak ada celah untuk mencari perhatian manusia atau sibuk memikirkan pendapat manusia tentangmu. Habiskan waktumu untuk Allah sampai benar-benar tak ada lagi celah untuk melakukan apapun kecuali agar Allah semakin menyayangimu, tak lebih.
@terusberanjak