Terimakasih telah mampir,
Walau hanya dalam pejamku
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

#extradirty

ellievsbear

No title available
h
we're not kids anymore.
taylor price
almost home
d e v o n

Origami Around
Not today Justin
todays bird

titsay
KIROKAZE

★

Janaina Medeiros
Monterey Bay Aquarium
Stranger Things
Keni

seen from Malaysia

seen from Japan

seen from Malaysia
seen from Saudi Arabia

seen from Canada
seen from France

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from Australia

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Australia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States
@pena-permaisuri
Terimakasih telah mampir,
Walau hanya dalam pejamku
Tempat pulang terbaik dan ternyaman adalah ibu, ibu, ibu.
Perihal kidung rindu yg berharap temu, masih saja kunyanyikan meski tanpa melodi indahnya. Diam-diam, masih saja kurajut dengan harap, bahwa perihnya hari²ku akan tertebus dg temu yg indah. Aku, yg bahkan saat diampun, masih membisikkan namamu, bagaimana caraku hentikannya?
Sampai pada titik dimana kita tidak memiliki siapapun untuk menceritakan kesedihan yang sedang kita lalui. Hanya diam, sendiri, larut dalam doa.
Akupun
Bagaimana mungkin, bahkan dalam mimpikupun sikapmu selalu manis. Tapi nyatanya, kisah kita begitu pahit.
"Akumu"
Patriarki dan segala tetek bengek yg membuat bengek pihak wanita. Salah. Salah. Salah.
Apapun yg d lakukan juga tidak d hargai.
Pontang panting tunggang langgangpun, jangankan say thank you, sikap baik pun terlalu 'mewah' didapatkan.
Teruntuk mereka yang diam - diam kita mintakan banyak kebaikan kepada Allaah, yang diam - diam kita begitu menginginkan agar Allaah mewujudkannya, yang diam - diam kita begitu berharap agar mereka mendapatkan kebahagiaan serta kelapangan hidup. Semoga tidak lama lagi, Allaah berkenan karuniakan ya.
— menyapamentari 🌻
Aamiin
Dear self,
Kamu lelah?
Kamu jenuh?
Kamu kecewa?
Sini sini, kita berpelukan.
Aku tau sakitnya jadi dirimu,
Saat kamu harus mengutamakan orang lain, padahal hatimu yg sakit.
Aku mengerti, rasanya perih, saat kamu harus memastikan semua orang baik² saja padahal kamu yg sedang terluka.
Menangislah, boleh. Gapapa. Jangan disimpan.
Kan kamu memangis hanya utk sekejap.
Tangismu ga selalu menunjukkan kelemahanmu kok.
Iya benar, aku sependapat, dunia memang kejam.
Memuakkan, bahkan kamu sempat berpikir utk menyerah kan?
Jangan ya, tolong bertahanlah lebih lama lagi
Masih banyak yg harus kamu hadapi.
Kamu harus lebih semangat lagi.
Ayo aku, aku kuat kan?
Sama,
Tintaku masih seputar rasa sakit yg kurajut hati²,
Menggoreskannya dalam sepi menyayat,
Lanjutkan episode²ku hanya dengan nyeri yg kunikmati sendiri
Memilih bercerita dalam kelunya lidahku
Diam-diam.
Rasaku kupeluk dg aroma itu
Aroma yg sama yg membawaku tergelam dalam melodi menentramkan sekaligus menyakitkan
Biar, biar aku sendiri yg menikmatinya
Diam-diam, kebetulan yg manis menjadi penyemangatku dalam melanjutkan episode² kedepanku..
Yang menyakitkan saat senyum manismu ternyata adalah persembunyian utk getirnya hidupmu.
"Pena Permaisuri"
Dia bilang "kita tidak ada chemistry, aku bahas apa, kamu bahas apa. Bagaimana bisa? Kamu lupa akan hal² sederhana yg kamu lakukan? "
Andai, peluhku saat bergumul dg segala rutinitas dilihatnya, mungkin tak sampai hati kalimat itu tersampaikan. Jika aku sampaikan, dia akan mengatakan "ah kamu selalu mengeluh, tak usah kau lakukan jika itu bebanmu".
Padahal bukan itu yg aku mau, setidaknya saat celotehku seputar beratnya hariku, dia akan berkata "kamu mau dibantu apa? " Ah bahkan terlalu berlebihan. Bukan hanya sekedar bertanya "apa kamu baik² saja? " Bukan justru menggertakku dg suara lantangnya. Dan selalu saja disaat² seperti itu aku merasa menjadi manusia paling bodoh. Paling kacau, yg tak ada baiknya. Padahal aku sudah melalukam semuanya semampuku aku bisa.
Aku pikir, "dulu kurangku di terima, dulu celaku bukan masalahnya, ternyata waktu bisa mengubahnya".
Kadang saat lelah aku berpikir, akankah semuanya tetap baik² saja jika tak ada aku? Atau minimal akan lebih baik jika tak ada aku? Atau dia akan jauh lebih baik tanpa aku? Mungkin.
Aku pernah bercerita kepadaNYA, bahwa aku lelah. Aku sakit dan luka. Tapi entah masih ada kekhawatiran² lain jika ternyata saatku tiba lebih cepat. Bagaimana dg mereka² yg tidak biasa tanpaku? Akankah mereka juga baik² saja? Si tangan mungil itu, siapa yg akan melindunginya? Apa dia juga berpikir bahwa aku tak ada artinya? Aku kacau dan bodoh juga d hadapannya? Atau suatu hari saat dia bertanya, akan muncul cerita bahwa aku memang kacau dan bodoh?
Katanya "Tuhan menciptakan umatNya dg segala kebaikan. Tapi kenapa katanya aku tidak punya itu?"
Belakangan ini, duniaku sedang tidak baik² saja. Sesak. Hingga aku tak tau, sanggupkan bertahan. Atau takdirku harus berakhir karena rasaku sendiri?
"Permaisuri"
Sudah tidak ada tenaga untuk sekedar berbagi rasa sakit, sudah pasrah dengan segala kemungkinan di masa depan yg entahlah. Cerita recehpun dianggap beban dan salah, padahal kodratku adalah didengarkan.
Pernah seorang putri bahagia dg hidupnya, tak pernah sekalipun bulur bening itu basahi pipinya. Segala yg laku ucapnya yg d lakukan dihargai, cacatpun tak kan jadi cela. Namun, usia membawanya kepada sesempurnanya kesakitan . Kesakitan luar biasa yang hanya bisa d jelaskan olehnya. Perihnya, sakitnya begitu menghujam hingga dia lupa dulu tawanya begitu sempurna. Hingga lupa dulu suaranya begitu dirindukan.
Tangan² renta itu tak lagi kokoh mampu lindunginya. Hanya suara lembut itu yg selalu menyapanya dan memastikan bahwa dia baik² saja. Yg lebih menyakitkan, rasa sakitnya tak sampai ia bagikan pada mereka. Semoga kuatmu segera datang, semoga bahagiamu segera sempurna. Dunia ini terkadang terlalu kejam utk beberapa makhluk.
Bagaimana tetap kau tersenyum manis, saat pedar di dinding kalbumu terasa menusuk?
_permaisuri_
Ada ruang² yg tiba² terasa kosong. Sepi. Hening. Aku bertemankan sakit, kecewa, pedih. Luka yg dulu pernah sembuh entah tiba² kembali membayang.
Kadang mulutku ingin bicara. Tapi rasa takut akan banyaknya hati yg tersakiti memaksaku menikmati rasa sakit itu. Meneguk setiap nyerinya meski aku tau mungkin racunnya bisa saja merusak organku cepat atau lambat. Bahkan mungkin akan membunuhku. Tapi bukankah mengorbankan satu hati dari pada menyakiti banyak hati?
Semoga kuat.