DARI RINTIK
Banyak yang perlu disadari dari apa yang sudah terlewati. Dari rusaknya raga hingga jeritan emosi yang tak sempat diperbaiki. Rasanya sakit, pedihnya terasa hingga ke dalam naluri. Naluri yang menelisik berkata, sejauh mana si raga bisa diobati ?
Sebelum tertidur, terdengar rintik dari luar yang aku kira itu teman tidur yang mampu mendengar. Mendengar segala bisu yang sempat tertahan, yang tak sempat diceritakan ke dunia luar. Hanya orang terpilih yang bisa tahu yang membalur memberi ketenangan yang ia berikan.
Seperti selalu memberi nada yang tenang, suaranya yang selalu dirindukan. Bahkan saat kebisingan datang, rintik meredakan. Meredam semua yang tampak membuat bising. Yang membuat asing ia tutup dengan nada yang apik. Sehebat itu, rintik membuat raga menjadi lebih baik terlebih saat malam menyergap. Mendukung untuk memberi ruang bagi raga yang jiwanya sedang tenggelam.
AIR
Aku hanya air yang menusuk bumi
Berikan aku izin jatuh
Berikan aku ruang agar keadaan subur kembali
Bukannya tanah kering, setelah aku tiada?
Bukannya rasa sesal datang, setelah ia pergi juga?
Atau aku datang tak merasakan apa-apa?
Aku hanyalah air yang diabaikan
Kau lupakan secara perlahan
Padahal kau tak tahu aku sanggup menenangkan
Aku bisa, semampuku menahan yang dirasa membuatku terganggu
Bahkan bisa meluapkan egoku sebisa yang aku mampu
Dan sewajarnya akan aku perlihatkan kepadamu
Bagaimana cara aku mengabaikanmu
Selebihnya aku mampu
Diiringi suara rintik, raga mengingat kembali suatu obrolan. Seseorang bertanya, "Kenapa kamu diam?". Lalu orang di sampingnya menjawab, "Aku bisa bicara dan bicara secukupnya saja." Yang bertanya tertegun karena baru tahu jawaban dari orang yang disampingnya. Segala sesuatu yang kita ucapkan namun berlebihan dan tak ada artinya hanya merusak perkataan yang dilontarkan. Hanya orang tertentu yang bisa mengendalikan tentang bicara yang secukupnya.
Hujan sudah mereda, rintik yang terdengar sudah hilang bersamaan dengan timbulnya keheningan yang mendalam. Sesuatu yang membuat takut terjadi, takut terjadi lagi. Sesuatu yang lama hilang takut datang kembali. Takut merusak yang sudah diperbaiki dari hari ke hari semakin menjadi. Menjadi sulit mengendalikan lagi.
Lalu raga tarik napas lagi, memulai mengendalikan apa yang sudah hampir merusak diri. Jangan terulangi lagi, jangan sampai menyakiti diri sendiri lagi. Masih banyak harapan yang harus ditanam, masih banyak rasa yang harus ditumpahkan kepada orang yang berhak untuk menerimanya.
Ia sudah pergi bersamaan dengan aroma hujan yang menguar ke dalam rongga hidung. Menghirup aroma baru, memberikan angin baru ke dalam raga bahwa saatnya menerima. Menerima keadaan yang nggak sesuai yang diinginkan. Disinilah awal mula rasa syukur terjadi. Semakin menikmati semakin sadar hanya orang terbaik yang akan memberikan kesan baik dalam kehidupan kita.
Dari rintik,
Sejak turun aku menunggu orang-orang mulai bercerita. Tentang apa yang dirasa. Tentang segala yang tersimpan rapat. Mereka bercerita dengan air mata berurai. Tak seorang pun dapat mendengar. Tak seorang pun. Namun, hanya aku yang dapat mendengar.
---Masihkah kamu bercerita saat rintik hujan turun, pernahkah?











