Emang semudah itu, ya, menghakimi isi hati atau kualitas iman seseorang?

PR's Tumblrdome
No title available

ellievsbear
Cosimo Galluzzi
Sade Olutola
sheepfilms

bliss lane
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
art blog(derogatory)
Cosmic Funnies
The Bowery Presents
Doug Jones
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Phantogram Three

@theartofmadeline
Noah Kahan

❣ Chile in a Photography ❣
Color Me Curious

Discoholic 🪩
seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Poland

seen from Indonesia

seen from Türkiye
seen from Canada

seen from Argentina

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Iraq
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Morocco
@penjejakmakna
Emang semudah itu, ya, menghakimi isi hati atau kualitas iman seseorang?
Dibalik Singgasana Fir'aun
Oleh: Saiful Haris Arahas
Sejarah tidak pernah mengajarkan bahwa kezaliman berdiri oleh seorang penguasa semata. Fir'aun tidak menjadi tiran karena dirinya sendiri. Kekuasaannya tegak oleh tangan-tangan yang merancangnya, lengan-lengan yang menjalankannya, dan lidah-lidah yang membenarkannya.
Tirani selalu lahir sebagai sebuah bangunan, bukan sekadar watak seorang raja.
Disisi singgasana itu berdiri Haman. Ia bukan sekadar seorang pembesar, melainkan arsitek kekuasaan. Di tangannyalah kebatilan disusun menjadi sistem, kezaliman dibingkai menjadi aturan, dan kesewenang-wenangan dipoles agar tampak sebagai ketertiban.
Haman adalah lambang dari mereka yang mengabdikan kecerdasan bukan kepada kebenaran, melainkan kepada kekuasaan. Mereka menjadikan ilmu sebagai alat untuk mengokohkan singgasana, bukan untuk menerangi jalan keadilan.
Di belakangnya berbaris para tentara. Mereka mengetahui ke mana arah kebenaran, tetapi memilih memalingkan wajah demi menjaga sumpah kepada penguasa. Ketika nurani dikalahkan oleh rasa takut, jabatan, atau kepentingan, maka tangan yang semestinya melindungi rakyat berubah menjadi pagar yang menjaga tirani.
Pada saat itulah kekuasaan menemukan kekuatannya yang paling nyata: kepatuhan yang kehilangan hati nurani.
Di hadapan Fir'aun berdiri para penyihir. Mereka tidak hanya memainkan sihir, tetapi menguasai persepsi. Mereka mengubah dusta menjadi keyakinan, mengaburkan batas antara benar dan salah, serta menjadikan kebatilan tampak meyakinkan di mata banyak orang. Mereka memahami bahwa menguasai pikiran sering kali lebih ampuh daripada menguasai pedang.
Demikianlah setiap tirani dibangun. Ia bertumpu pada tiga tiang yang saling menguatkan: mereka yang merancang, mereka yang melaksanakan, dan mereka yang membentuk persepsi.
Selama ketiganya tetap berdiri, kezaliman akan selalu menemukan cara untuk mempertahankan dirinya, sekalipun berganti nama, wajah, atau zaman.
Karena itu, sejarah tidak hanya meminta kita mengenali siapa Fir'aun. Ia juga mengajarkan agar kita waspada terhadap Haman-Haman yang menyusun jalan bagi kezaliman, terhadap tangan-tangan yang menjalankan perintah tanpa keberanian mempertanyakan kebenaran, dan terhadap para ilusionis yang menjadikan dusta lebih memikat daripada kenyataan.
Pada akhirnya, setiap singgasana akan runtuh. Namun sebelum sebuah tirani tumbang, sering kali yang lebih dahulu roboh adalah nurani orang-orang yang memilih menjadi penopangnya.
Sebab kezaliman tidak pernah kekurangan penguasa; yang sering kekurangan hanyalah manusia yang berani berdiri di pihak kebenaran.
•
•
•
Lueng Bata, Banda Aceh
3 Agustus 2026
Ketika Aku Pernah Menjadi Haman Kecil
ADA tokoh yang namanya tidak sebesar Fir'aun, tetapi tanpa dirinya, sejarah mungkin tidak akan mengenal sebuah tirani yang demikian kokoh. Dialah Haman.
Al-Qur'an tidak menampilkan Haman sebagai seorang raja, bukan pula sebagai panglima perang. Ia hadir sebagai orang kepercayaan, sebagai tangan kanan kekuasaan, sebagai akal yang bekerja di balik singgasana.
Fir'aun adalah wajah dari kekuasaan. Haman adalah pikirannya.
Jika Fir'aun melahirkan kehendak, maka Haman menerjemahkannya menjadi kenyataan.
Ia merancang, menyusun, mengatur, dan memastikan setiap titah penguasa berubah menjadi sistem yang hidup.
Ia bukan pemilik mahkota, tetapi ia adalah orang yang membuat mahkota itu tetap bercahaya. Ia tidak mengangkat dirinya sebagai tuhan, tetapi ia mengabdikan seluruh kecerdasannya kepada seseorang yang mengaku sebagai tuhan.
Di situlah tragedi Haman bermula.
Ia tidak kehilangan kepandaiannya. Ia kehilangan arah bagi kepandaiannya. Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi penyangga kezaliman. Jabatan yang semestinya menjadi amanah berubah menjadi alat untuk mengokohkan kekuasaan. Kesetiaan yang semestinya diberikan kepada kebenaran justru dipersembahkan kepada singgasana.
Namun Al-Qur'an mengajarkan bahwa Allah adalah Hakim Yang Maha Adil.
Haman memang bersalah. Ia memikul dosa karena memilih berdiri di sisi kebatilan. Ia mengetahui kebenaran, tetapi tetap membantu menegakkan sebuah sistem yang menindas. Ia mengorbankan akal, integritas, dan nuraninya demi menjaga kekuasaan Fir'aun.
Akan tetapi, dosanya tidak menghapus kenyataan bahwa Fir'aun memikul beban yang lebih besar. Sebab Fir'aun adalah sumber perintah, pemilik kuasa, dan penggerak seluruh roda kezaliman.
Jika Haman adalah arsitek, maka Fir'aun adalah pemilik bangunan. Jika Haman menyusun jalan, maka Fir'aun menentukan ke mana jalan itu diarahkan.
Karena itulah, ketika hukuman Allah datang, keduanya tidak dipisahkan. Singgasana runtuh bersama para penopangnya. Kekuasaan yang mereka banggakan tenggelam bersama kesombongan yang mereka pelihara.
Sejarah mencatat nama mereka bukan sebagai lambang kejayaan, melainkan sebagai pelajaran tentang bagaimana kekuasaan dan kecerdasan dapat sama-sama binasa ketika keduanya tercerabut dari kebenaran.
Aku membaca kisah itu bukan sekadar sebagai cerita tentang Mesir yang telah lama berlalu. Aku membacanya sebagai cermin.
Pernah, tanpa kusadari, aku menjadi Haman kecil bagi seorang Fir'aun.
Aku bukan penguasa. Aku tidak memiliki singgasana. Aku tidak mengeluarkan titah yang menindas manusia. Tetapi aku pernah berada begitu dekat dengan kekuasaan sehingga mengira bahwa kesetiaan kepada seseorang lebih utama daripada kesetiaan kepada nilai-nilai yang benar.
Aku pernah menggunakan tenaga, kemampuan, bahkan pikiranku untuk membantu berdirinya sesuatu yang belakangan kusadari tidak sepenuhnya berpijak di atas keadilan.
Aku tidak mengaku sebagai Fir'aun. Aku pun tidak hendak menyamakan siapa pun dengan Fir'aun dalam arti yang sesungguhnya. Sebutan itu hanyalah sebuah perumpamaan bagi hubungan antara pemegang kuasa dan orang yang menopang kuasa tersebut. Sebab sering kali, kezaliman tidak meminta kita menjadi penguasa. Ia hanya meminta kita menjadi orang yang bersedia membantunya bekerja.
Barangkali, di situlah ujian yang paling halus.
Tidak semua orang diuji dengan mahkota. Sebagian diuji dengan kedekatan kepada mahkota.
Dan aku pernah berada di sana.
Hari ini aku memahami bahwa menjadi Haman, meskipun hanya "kecil", tetaplah sebuah pelajaran yang mahal. Sebab yang paling berbahaya bukan ketika seseorang menjadi pusat kekuasaan, melainkan ketika ia membiarkan kecerdasan, jabatan, dan pengaruhnya dipakai untuk menopang sesuatu yang keliru.
Kini aku mengerti, kesetiaan yang paling mulia bukanlah kepada manusia, melainkan kepada kebenaran. Sebab manusia dapat berubah, kekuasaan dapat runtuh, dan singgasana dapat hilang dalam sekejap. Tetapi kebenaran tetap berdiri, bahkan ketika seluruh penyangganya telah tumbang.
Maka, jika kisah Fir'aun mengajarkan bahaya kesombongan, kisah Haman mengajarkan bahaya pengabdian yang kehilangan nurani.
Dan mungkin, pelajaran terbesar bukanlah bertanya apakah kita pernah berhadapan dengan seorang Fir'aun, melainkan berani bertanya kepada diri sendiri: pernahkah kita, dalam kadar tertentu, menjadi Haman bagi kekuasaan yang tidak semestinya kita bela?
•
•
•
Lueng Bata, Banda Aceh
3 Agustus 2026
Catatan Penulis:
Tulisan ini lahir dari sebuah perenungan terhadap firman Allah dalam Surah Ghafir ayat 36–37, ketika Fir'aun berkata kepada Haman:
"Wahai Haman, bangunkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi..." (QS. Ghafir: 36).
Ayat ini bukan sekadar kisah tentang Fir'aun dan Haman di masa lalu, tetapi menjadi cermin bagi penulis untuk melihat kembali perjalanan hidup.
Dalam perenungan itu, penulis menyadari bahwa manusia tidak selalu diuji dengan menjadi Fir'aun. Ada kalanya manusia diuji dengan berada di dekat kekuasaan, menjadi bagian dari sebuah sistem, dan ikut menopang sesuatu tanpa cukup bertanya apakah ia berdiri di atas kebenaran.
Maka ketika penulis mengatakan pernah menjadi "Haman kecil", itu bukanlah penyamaan dengan tokoh dalam Al-Qur'an, melainkan sebuah pengakuan bahwa pernah ada masa ketika peran, loyalitas, dan kemampuan mungkin lebih banyak diarahkan kepada manusia daripada kepada nilai kebenaran yang Allah ajarkan.
Ayat ini menjadi teguran bagi diri penulis: bahwa kecerdasan tanpa nurani dapat menyesatkan, dan kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh membuat seseorang jauh dari kebenaran.
Sebab pada akhirnya, setiap manusia bukan hanya akan ditanya tentang apa yang ia lakukan, tetapi juga tentang apa yang pernah ia bantu tegakkan.
Suka banget sama kalimat ini:
"Apa pun kekurangan (hak) yang tidak kamu dapatkan dari orang tuamu karena keterbatasan mereka, maka mintalah pada Tuhanmu tanpa perlu membenci mereka."
Mungkin kita kurang kasih sayang dari orang tua, tapi Tuhan kita adalah Ar-Rahim—Yang Maha Penyayang.
Mungkin kita kurang dapat cinta kasih dari orang tua, tapi Tuhan kita adalah Al-Wadud—Yang Paling Bersedia Membuktikan Cinta-Nya.
Mungkin orang tua kita kurang memberikan waktunya untuk kita, tapi Tuhan kita adalah Al-Qarib, Dia bersama kita di mana pun kita berada.
Mungkin pendapat kita kurang didengar sama orang tua, tapi Tuhan kita adalah As-Sami'—Yang Maha Setia Mendengar.
Mungkin orang tua kita kurang dalam memberi kita nafkah, tapi Tuhan kita adalah Ar-Razaq—Yang Paling Sanggup Memberi Rizki dari arah mana pun.
Mungkin orang tua kita kurang bisa menjaga kita, tapi Tuhan kita adalah Al-Mu'min—Yang Maha Menjamin Keamanan, Dia Al-Waliy—Yang Maha Melindungi.
Mungkin kita kurang mendapatkan didikan dan ajaran yang baik dari orang tua, tapi Tuhan kita adalah Al-'Alim—Yang Maha Mengetahui sekaligus yang paling bersedia mengajari kita.
Dan mungkin masih banyak kekurangan lainnya yang tidak kita dapatkan dari orang tua.
Karena, pada dasarnya orang tua kita juga manusia. Mereka juga cuma salah satu dari sekian banyak hamba Tuhan di muka bumi ini yang mungkin masih tertatih mencari jalan untuk sampai kepada-Nya.
Siapakah Haman di Zaman Ini?
HAMAN tidak selalu hadir dengan pakaian seorang pejabat istana. Ia bisa hadir dalam setiap zaman, dalam diri orang-orang yang menggunakan kecerdasan, jabatan, dan pengaruhnya untuk menopang kekuasaan tanpa bertanya tentang kebenaran.
Fir'aun mungkin berubah wajah, tetapi pola kekuasaan tetap sama.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya: "Siapa Fir'aun hari ini?"
Tetapi juga: "Apakah kita pernah menjadi Haman kecil yang membantu menguatkan sesuatu yang seharusnya kita koreksi?"
Sebab sejarah tidak hanya mengadili mereka yang memerintah, tetapi juga mereka yang memilih berdiri di belakang perintah.
•
•
•
Lueng Bata, Banda Aceh
3 Agustus 2026
Ada orang-orang yang memang tidak pernah benar-benar selesai kita sayangi.
Bukan lagi dalam arti romantis. Bukan pula karena masih berharap.
Melainkan karena pada suatu musim dalam hidup kita, mereka pernah datang membawa kehangatan saat kita paling membutuhkannya.
Ada kepahitan dan kesedihan yang tidak aku kehendaki, tapi telah terjadi dalam hidupku..
Ada pula angan dan mimpi yang sangat aku harapkan menjadi kenyataan, tetapi sampai kini masih menjelma doa harapan..
Aku tidak bisa mengendalikan takdir, dan hanya bisa menata kehendak dan sikap menghadapi semuanya.
Kejadian demi kejadian yang terjadi mengajarkanku bahwa aku tidak berdaya atas hidupku sendiri. Rejeki dan takdirku telah Allah aturkan sesuai kehendak-Nya..
Di tengah segala hal yang tidak sesuai harapan terbesarku, Maha baik Allah memberikanku banyak nikmat yang tak terhitung dan karunia yang tidak akan pernah mampu tertakar.
Doa-doa yang belum terkabul itu, Sungguh Allah telah mengubah bentuknya dalam banyak kucuran nikmat yang tidak bisa aku dustakan.
Dan sangat ingkar jika sebagai hamba diri ini masih mengeluh kepada-Nya. Dan sangat jahat diri ini jika masih berburuk sangka akan takdir Allah.
Sebab bagaimanapun Dialah Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. Ya Allah lembutkan lah hati ini untuk selalu bersyukur padaMu.🪷
Kamis, 30 Juli 2026 13.55 wita
Mengapa Laki-laki Wajib Punya Rencana Pasca Menikah
Beberapa hari yang lalu, seorang kawan menemui saya dan bercerita tentang beban pikiran yang akhir-akhir ini sangat mengganggunya. Ia bercerita bahwa kondisi rumah tangganya terasa semakin hambar. Ia bekerja jauh dari keluarga (LDM), sementara istrinya yang kini punya penghasilan mandiri perlahan menunjukkan perubahan sikap yang dingin dan berjarak.
Mendengar curhatan tersebut, saya mencoba membantunya membedah situasi dari sudut pandang yang berbeda. Barangkali akar masalahnya bukanlah pada kemandirian finansial sang istri, melainkan akumulasi rasa lelah. Bayangkan, selama empat tahun sang istri membesarkan anak nyaris tanpa kehadiran suami secara fisik karena tuntutan pekerjaan di luar kota.
Sikapnya yang berubah barangkali adalah mekanisme pertahanan diri—sebuah sinyal tak terucap bahwa ia lelah, sekaligus pembuktian bahwa ia bisa berdiri tegak meski tanpa sandaran suaminya. Lalu, saya memberikan rekomendasi langkah sederhana, yang mungkin tidak sedikit laki-laki akan kesulitan karena harus melawan egonya sendiri.
"Pulanglah, ceritakan kondisi yang kamu hadapi dengan sejujurnya namun kali ini awali dengan meminta maaf."
Saya memintanya untuk memposisikan diri murni sebagai pendengar sebelum mulai 'menggurui'. Tentu, saya juga memvalidasi bahwa perjuangan dan usaha kerasnya di balik layar untuk menafkahi keluarga sama sekali tidak bisa dianggap enteng. Namun, karena tujuan utamanya adalah islah (memperbaiki hubungan), ia memilih untuk mengaminkan nasihat itu dan menekan egonya.
Tujuannya agar istrinya merasa aman dan yang utama, nyaman, untuk berterus terang tentang perasaannya. Selain itu, saya mengingatkannya untuk menggunakan waktu pulangnya murni untuk "bekerja" sebagai suami dan ayah seutuhnya—yakni mengambil alih tugas-tugas domestik dan pengasuhan.
Beberapa hari setelahnya dia memberi kabar:
Kisah di atas adalah tamparan sekaligus pengingat keras, khususnya bagi kita para laki-laki yang sedang merencanakan masa depan rumah tangga. Resepsi pernikahan hanyalah garis awal. Tanpa cetak biru pasca-menikah yang matang, kapal keluarga akan mudah karam oleh badai-badai kecil yang dibiarkan menumpuk.
Nyatanya, menikah memang tidak mudah. Semua ada ilmunya, dan wajib dipelajari sebaik mungkin. Sedikit atau banyak ilmu yang diserap dari kelas-kelas atau literatur pranikah, masih jauh lebih mending ketimbang tidak berbekal sama sekali. Sebab, ilmu betul-betul memiliki peranan vital sebelum amal.
Oleh karena itu, jangan hanya menghabiskan energi untuk merencanakan indahnya hari pernikahan, tetapi rencanakanlah dengan detail bagaimana akan memimpin pada hari-hari setelahnya.Persiapkan mental untuk berbagi peran pengasuhan, belajarlah menundukkan ego untuk menjadi pendengar yang baik, dan pastikan tidak hanya hadir sebagai penyedia materi, melainkan sebagai tempat pulang yang paling menenangkan bagi pasangan.
Gatau nikahnya kapan, yang penting ini pesan untuk diri. Hehe.
Berbahagialah mereka; yang air matanya tidak diketahui bumi, tetapi diketahui langit. Yang kesulitannya tidak menjadi cerita manusia, tetapi menjadi rahasia antara dirinya dan Allah. Yang malamnya panjang oleh doa, tetapi paginya tetap membawa senyum untuk orang lain.
Mereka mungkin tidak memiliki banyak saksi atas perjuangannya, namun mereka memiliki Rabb yang tidak pernah melewatkan satu pun detik kesabaran seorang hamba.
Kelak, semua yang disimpan dengan sabar akan menemukan tempatnya. Semua yang ditahan karena Allah akan menemukan balasannya. Sebab tidak ada air mata yang jatuh karena-Nya kecuali Allah mengetahui nilainya.
Pernah ngerasain gak, takut berdoa karena kebayang ke depannya bakal diuji sesuai dengan doa-doa kita?
Aku pernah.
Dan mungkin aku baru mengerti kenapa dulu para sahabat begitu bergetar ketika solat, membaca doa اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْم (Tunjukilah kami jalan yang lurus), karena berarti kita meminta jalan keselamatan yang mendaki lagi sukar. Yang jalannya penuh tantangan dan ujian. Jalannya para nabi dan orang-orang soleh yang kehidupannya kaya - gada istirahatnya?! Namun, at that condition seperti tak ada pilihan lain karena memang begitulah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan dan keselamatan.
Maka di penghujung solat, aku selalu berdoa:
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَا قَةَ لَنَا بِهٖ
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. (potongan QS. 2:286)
Karena ujian-ujian yang datang akan selalu menguji, bukan hal yang mudah ditebak dan dapat dinegosiasi. Karena ujian-ujian yang datang pula, sifatnya akan selalu menghilangkan penyakit hati/aqidah/langkah, memurnikan iman, yang rasanya mungkin pahit.
Tentang pilihan-pilihan kecil
Aku ingat pembahasan malam minggu kemarin, bahwa di setiap perputaran waktu yang sama, Allah akan membuat perjalanan tiap orang dengan bentuk ujian yang berbeda. Dan barangkali ujian itu hadir di setiap pilihan-pilihan kecil kita, di setiap harinya.
Konsepnya kaya kita yang selalu ga aware dan ngerasa "ih tiba-tiba ko udah besar aja? Ih tiba-tiba kok udah jauh aja?" Padahal tiap harinya kita mungkin sudah bergeser hanya 0,1 derajat. Tapi semakin hari, derajatnya semakin besar, dan ternyata kita terus menjauh dari kebenaran.
Maka dengan ujian-ujian itu, Allah sebenarnya sedang melatih respons kita. Apakah kita bisa menimbang-nimbang pilihan sesuai dengan ridho-Nya?
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)." (QS. 7:201)
Begitulah kata Allah cerminan orang bertaqwa. Orang bertaqwa (ternyata) bukan berarti ga pernah kepikiran berbuat maksiat. Tapi taqwa adalah respons dzikrullah terhadap ujian yang Allah berikan. Sehingga dengan respons itu, Allah menyelamatkannya dari perbuatan yang tidak diridhoi-Nya.
Barangkali ada beberapa dosa yang terlihat sederhana, tetapi taqwa juga bisa sesederhana merespons baik dari pilihan-pilihan kecil di setiap harinya.
Jadi setiap kali 'kepikiran' suatu hal, seorang yang bertaqwa akan berhenti sejenak, mengolah pikir dan rasanya, menimbang-nimbang, Apakah Allah ridho aku berbuat seperti itu?
Ya Rabbi, aku memohon ampun atas segala khilaf dan dosa
Kamu yang sekarang adalah kamu yang sudah babak belur menjalani kehidupanmu. Tak perlu kembali menjadi dirimu yang lama. Kamu yang sekarang adalah versi dirimu yang sangat kuat. Aku cuma ingin kamu jadi yang terbaik untuk dirimu sendiri, literally the best for yourself.
Tuhan dituding memberi takdir yang keji, seakan manusia tak pernah ikut menciptakan tragedinya sendiri. Saat doa tak berujung pada yang diingini, langit dituduh tak peduli. Manusia begitu cepat menggugat Sang Pencipta, seolah hidup memang berutang kebahagiaan tanpa jeda dan luka tanpa makna.
Mereka meminta hujan, lalu mengeluh saat jalanan menjadi becek. Meminta kekuatan, tapi marah ketika diuji. Meminta perubahan, namun membenci proses yang menyakitkan. Anehnya, yang salah selalu Tuhan, sementara keserakahan, ego, dan pilihan-pilihan buruknya sendiri dibiarkan lolos dari pengadilan.
Barangkali yang keji bukan takdirnya, melainkan hati yang hanya pandai bersyukur saat diberi, lalu berubah menjadi hakim ketika kehilangan. Tuhan tetap dipersalahkan atas segala duka, padahal sering kali manusialah yang menanam duri, lalu menangis saat kakinya sendiri berdarah.
Written by Aftansa
Untuk setiap rencana yang patah di tengah jalan, dan untuk setiap impian yang terpaksa harus kamu kubur dalam-dalam.
Gagal bukan berarti kamu selesai. Itu hanya sebuah tanda mati yang memintamu berbelok ke arah jalan yang baru.
Hari esok tidak pernah berwajah sama dengan hari ini. Selama detak dadamu belum berhenti, kesempatan untuk memulai kembali akan selalu mekar dengan warna yang baru.
Kamu tidak kalah, kamu hanya sedang bersiap untuk melompat lebih tinggi.
Menangislah jika itu meringankan, tapi jangan biarkan kecewa mengunci langkahmu selamanya.
Ya Allah, jika keterlambatanku disebabkan oleh mata jahat, iri hati, kecemburuan, atau hanya penghalang yang tak terlihat, mohon hapuskanlah dengan lembut.
Engkau Al-Fattah, pembuka segala pintu dan Engkau tidak pernah menunda do'a-do'a kami tanpa alasan, pun Engkau tidak menolak tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
~ repost instagram iinsafrina
Sa'ad bin Abi Waqash
Air mata Sa'ad berlinang setelah para utusan kembali dan menyampaikan tidak ada jalan lain selain perang.
Panglima kaum muslimin itu sedang sakit parah, ia berharap andai pertempuran itu bisa diundur sebab lawan kali ini benar- benar sulit.
Perang berlangsung dan ia memimpin perang dari atas barak tempat markas komandonya.
Di bawah komando Sa'ad bin Abu Waqqash 100 ribu prajurit Persia takluk oleh 30 ribu pasukan mujahidin.
Perang Qadisiyah yang masyhur itu berjalan saat pucuk panglima perangnya sedang sakit parah. Tapi liatlah bahkan Rustum, panglima terkenal Persia itu tewas saat itu.
Sungguh jalan Hidup Sa'ad sangat mengagumkan. Ia masuk islam saat usianya 17 tahun dan sang ibunda menjadi penentangnya paling keras.
Lelaki yang pasukannya mampu menyembarangi sungai Tigris ini wafat di usia 80 tahun.
Ia wafat tahun 54 H dan jasadnya dibungkus dengan pakaian yang ia kenakan saat perang Badar. Ia simpan selama 52 tahun. Jasadnya bersemanyam dipelukan tanah Baqi al Gharqad, Madinah Al Munawawwarah.
Menyikapi Perbedaan Pandangan Dalam Fiqih
Kadang miris rasanya, tiap kali menemukan bahwa masih ada saja sesama muslim yang ribut gara-gara memperdebatkan perkara-perkara yang bersifat furu’iyyah. Yang kemudian tak jarang menjadi sebab renggangnya ikatan ukhuwah.
Meributkan hal-hal yang masing-masing memiliki dasar, seperti perkara qunut dalam sholat subuh, atau perkara ketika hendak sujud, yang turun tangan dulu atau lutut dulu?, dan lain sebagainya.
Mari sejenak belajar dari sejarah, bagaimana Rasulullah menyikapi perbedaan fiqih di kalangan para sahabat dengan akhlak yang begitu indah lagi sarat hikmah.
Pada saat terjadi perang Ahzab atau yang dikenal juga dengan sebutan perang Khandaq, orang-orang Yahudi dari Bani Quraizhah berkhianat kepada kaum muslimin. Padahal dalam perjanjian yang termaktub di Piagam Madinah, seharusnya mereka ikut bersatu padu dalam memerangi musuh. Jika ada 1 orang penduduk Madinah yang diserang, tak peduli agama atau pun sukunya, itu berarti serangan untuk semua penduduk Madinah. Namun ketika kaum muslimin diserang oleh kaum kafir Quraisy, orang-orang Yahudi dari Bani Quraizhah justru bersekutu dengan musuh.
Maka usai peperangan, yang atas izin Allah, dimenangkan oleh kaum muslimin, Rasulullah ﷺ segera perintahkan pasukan kaum muslimin untuk pergi ke Bani Quraizhah guna mengepung orang-orang Yahudi yang berkhianat. Sementara Rasulullah menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu, dan akan menyusul kemudian.
Kepada pasukan yang diperintahkan, Rasulullah ﷺ bersabda;
"Kalian jangan sekali-kali mendirikan sholat Ashar, kecuali di Bani Quraizhah!"
Singkat cerita, berangkatlah rombongan pasukan tersebut menuju Bani Quraizhah. Ternyata di tengah perjalanan, matahari sudah mau terbenam. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan pandangan dalam pasukan ini, hingga akhirnya terpecahlah mereka menjadi 2 kelompok.
Kelompok yang pertama, mereka yang baru akan menunaikan sholat Ashar setibanya Bani Quraizhah. Sedang kelompok yang kedua adalah mereka yang memilih berhenti sejenak untuk menunaikan sholat Ashar terlebih dahulu.
"Kan perintah Rasullah tadi sudah sangat jelas, jangan sholat Ashar kecuali di Bani Quraizhah. Ya sudah, kita lakukan saja sesuai perintah dari Rasulullah." Ucap kelompok yang pertama.
“Jangan dipahami begitu dong. Kan sholat juga ada batas waktunya. Maksud dari perintah Rasulullah tadi itu agar kita sesegera mungkin berangkat ke Bani Quraizhah. Kalau ternyata di waktu Ashar kita belum sampai juga di Bani Quraizhah, ya berarti sholat Asharnya di perjalanan” Timpal kelompok yang kedua.
Masing-masing kelompok bersikukuh dengan pendapatnya.
Akhirnya, sebagian pasukan berhenti dan melaksanakan sholat ashar di tengah perjalanan, sedang sebagiannya lagi baru melaksanakan sholat ashar setibanya di Bani Quraizhah, yaitu menjelang waktu sholat isya.
Bagi kelompok yang memilih berhenti, adalah tidak mungkin melanggar batas waktu sholat ‘Ashr dengan menunaikannya nanti. Mereka telah memperhitungkan, secepat apapun mereka gesakan, Benteng Bani Quraizhah baru akan mereka capai jauh setelah mentari terbenam. Andai menjama’ shalat ‘Ashr dengan Maghrib ada dalilnya, tentu mereka akan maju terus. Tapi tidak. Mereka memutuskan harus shalat sekarang.
Adapun para sahabat yang terus berjalan berpendapat bahwa sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu mutlak sebagai perintah seorang panglima. Mereka tidak boleh shalat ‘Ashr kecuali di Bani Quraizhah. Dalam perintah tersebut, yang ditentukan dan ditetapkan oleh Sang Nabi adalah tempatnya, bukan waktunya. Bagi mereka, menyelisihi perintah Rasulullah adalah kedurhakaan dan pelanggaran berat. Maka merekapun jalan terus meski belum shalat ‘Ashr dan waktunya sudah habis.
Bagi mereka yang berhenti, anggota pasukan yang berjalan terus itu berdosa karena tidak shalat ‘Ashr pada waktunya.
Pun sebaliknya, bagi yang melanjutkan perjalanan, anggota pasukan yang berhenti itu berdosa karena menyelisihi perintah Rasulullah dengan shalat tidak di tempat yang telah beliau tentukan.
Betapa rumitnya kedua pemahaman ini.
Ketika akhirnya Rasulullah ﷺ menyusul para pasukan dan tiba di Bani Quraizhah, kedua kelompok ini menghadap Rasulullah dan saling melaporkan.
Kelompok yang pertama berkata, “Ya Rasulullah, kemarin mereka tidak menaati perintahmu. Bukankah engkau telah perintahkan kami semua untuk sholat Ashar di Bani Quraizhah, tapi mereka malah sholat Ashar di tengah perjalanan.”
Kelompok yang kedua membalas, “Ya Rasulullah, masa mereka baru sholat Asharnya di waktu menjelang Isya. Bukankah dulu engkau pernah sampaikan kepada kami, kalau batas waktu sholat Ashar itu sebelum matahari terbenam. Maka, kami ikuti ketentuan waktu yang telah ditetapkan."
Setelah mendengar penjelasan dari kedua belah pihak, Rasulullah ternyata tidak menyalahkan siapa pun sama sekali.
Seraya tersenyum, Rasulullah berkata; "Tidak apa-apa, tidak masalah."
Begitulah Fiqh, ia bermakna pemahaman. Kadang pemahaman memang tak bisa seutuhnya satu dan tak dapat sepenuhnya sama.
Dalam kisah di atas, kedua kelompok sama-sama tidak disalahkan oleh Rasulullah.
Maka, para Imam Fuqaha’ yang agung mengajari, bahwa;
Ikhtilaf tak selalu berarti yang satu benar dan yang satu keliru secara mutlak.
Pada dua pendapat yang semacam ini, hatta meski kita hanya meyakini salah satunya, haruslah ia diletakkan sebagaimana ujaran indah Imam Asy Syafi’i.
“Pendapatku benar”, kata beliau, “Tapi berkemungkinan mengandung kekeliruan. Adapun pendapat orang selainku itu keliru, tapi berkemungkinan mengandung kebenaran.”
Pun, ketika membahasnya dengan mereka yang berbeda, perbantahan harus didasarkan juga pada semangat menemukan kebenaran.
Sebagaimana yang dimiliki Imam Asy Syafi’i rahimahullah. “Sungguh demi Allah”, papar beliau, “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang, melainkan aku sangat berharap agar Allah menampakkan kebenaran padaku melalui lisannya.”
Di saat lain beliau menyampaikan, “Kuburu akhlaq dan ilmu dari setiap orang yang dengannya aku bertemu, bagaikan seorang ibu mencari anaknya semawata wayang yang telah hilang.”
Semoga Allah merahmati Imam Syafi'i, salah satu lelaki yang dengan gemilang telah menunjukkan pada kita betapa beriris-iris perbedaan pendapat para ‘ulama adalah lapis-lapis keberkahan bagi ummat ini.
Khazanah Fiqh dalam cabang-cabangnya begitu kaya. Di dalam himpunan pendapat yang benar, masih ada mana-mana yang lebih tepat dan mana juga yang ternyata luput. Di dalam himpunan pendapat yang tepat termaktub mana-mana yang disepakati jumhur dan mana pula yang menjadi qaul menyendiri seorang faqih tapi terakui mendalam ilmunya lagi kokoh ijtihadnya. Ada yang rajih, ada yang marjuh. Ada pendapat yang ‘lebih disukai’ oleh sebagian Imam. Ada pula yang disikapi dengan kehati-hatian, sehingga ditinggalkan bukan karena kepastian bahwa ia keliru, melainkan demi terraihnya sesuatu yang lebih terjamin keselamatannya dan terhindarkan kemungkinan buruknya.
Di kalangan Tabi’in, Imam Atha’ ibn Abi Rabah menabrak pendapat Jumhur ‘Ulama kala menyatakan bahwa melempar jumrah sebelum lingsir mentari adalah utama. Pendapat beliau, pada zamannya, dianggap ganjil dan menyalahi ijma’. Sebab berbagai riwayat menyatakan, Rasulullah hanya melaksanakannya setelah lingsir.
Tapi lalu tibalah masa di mana pendapat beliau dianggap tepat dan dirujuk demi terraihnya kemaslahatan dan terhindarkannya bahaya. Masa itu adalah hari ini, ketika jama’ah haji membludak dan jamarat serta jalan menujunya amat padat jika semua mengambil waktu utama menurut jumhur ‘ulama.
Pendapat Imam Atha’ ibn Abi Rabah yang meluaskan waktu utama, menjadi dasar untuk menghimbau jama’ah agar berkenan menerima pembagian jadwal demi kesentausaan dan keamanan, ketertiban dan kenyamanan.
Semoga Allah merahmati Imam Muhammad ibn ‘Abdirrahman ibn Husain, pemuka madzhab Asy Syafi’i pada zamannya. ‘Alim Quraisy keturunan Sayyidina ‘Utsman yang bermukim di Damaskus ini menulis kitabnya dengan judul Rahmatul Ummah fi Ikhtilafil Aimmah. Artinya; rahmat bagi ummat dalam perbedaan pendapat para Imam. Walau disandarkan pada kalimat yang dianggap hadits namun tak terlacak keshahihannya yakni “Ikhtilafu ummati rahmah, perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat”, tetapi para ‘ulama mempersaksikan kebenaran dan kebaikan isi kitab ini. Sebab yang dimaksud rahmat dalam tajuk itu adalah keluasan, tenggang rasa, dan keragaman yang bermanfaat bagi ummat.
Demikianlah perbedaan di kalangan ahli ‘ilmu, ada dasarnya, dan lembut penyampaiannya. Tentu hal ini tak sama dengan beda pendapatnya para ‘awam, yang tak berdasar ilmu namun hawa nafsu, yang diikuti ta’ashub dan tak sudi mendengar, yang diisi bertengkar dan enggan belajar.
Perbedaan pendapat para Imam adalah rahmat bagi ummat, seperti kita baca dalam kisah Imam Atha’ ibn Abi Rabah dan pendapatnya tentang melempar jumrah. Perbedaan pendapat yang berdasar ilmu dan ditampilkan dengan akhlaq, akan menjadi lapis-lapis keberkahan.
Fiqh dengan kekayaan khazanahnya, akan menemukan tempat dan waktu di mana ummat menghajatkan fahaman tepat dari berragamnya pendapat.
Maka setelah ‘ilmu, ada yang tak kalah penting kita warisi dari Salafush Shalih ialah akhlaq. Bahwa setelah hujjah bertemu hujjah, saling hujat tak lagi mendapat tempat.
Mari perbanyak do'a, agar Allah tidak hanya mengkaruniakan kita ilmu yang bermanfaat, tapi juga keindahan adab dan akhlaq.
Allahumma aghninaa bil 'ilmi, wa zayyinnaa bil hilmi, wa akrimnaa bit taqwa, wa jammilnaa bil 'afiyah.
@rizqan-kareema
Tadi sempet baca kata-kata bagus,
"ngeliat dia ngelanjutin hidupnya tanpa menoleh ke arahku sedikit saja, rasanya malu kalo masi kangen sama kenangannya."
Dan jujur aja, kalimat itu agak ngena.
Kayak tiba-tiba ada bagian lama di kepala yang kepanggil lagi.
Bukan karena aku pengen balik ke masa lalu, tapi karena rasanya masih ada sisa yang belum sepenuhnya selesai di dalam diri sendiri.
Dia udah jalan jauh banget sekarang, udah bisa ketawa lepas sama hidup barunya, sementara aku masih kadang berhenti di momen kecil yang dulu pernah berarti.
Hal-hal sepele yang mungkin buat dia udah nggak penting lagi.
Kadang aku ngerasa aneh sendiri, kenapa masih inget hal-hal kecil begitu. Padahal buat dia mungkin semua itu udah jadi bagian yang selesai.
Dan aku masih aja kadang nyari jawab darisesuatu yang nggak lagi nyari aku.
Kadang aku mikir, ini sebenernya rindu atau cuma kebiasaan yang kebetulan belum berhasil aku lepasin sepenuhnya. Soalnya kalau dibilang masih berharap, aku juga nggak tau. Tapi kalau dibilang udah bener-bener lepas, juga belum sepenuhnya. Ada hari di mana aku ngerasa udah baik-baik aja, tapi ada juga malam di mana semuanya tiba-tiba balik lagi. Dan aku cuma bisa diem sambil mikir, kok masih kebawa ya.
Di satu sisi aku pengen bener-bener lupa, biar bisa jalan tanpa ngerasa ada yang masih ketinggalan.
Tapi di sisi lain, bagian dari diriku masih nyimpen hal-hal kecil itu.
Entah karena masih berarti, atau karena belumsanggup ngelepasin sepenuhnya. Lucunya, yang aku simpen mungkin udah lama dia tinggalin.
Dan sadar hal itu kadang bikin malu sendiri.
Bukan karena masih kangen, tapi karena belum sepenuhnya berhenti.
Mungkin yang paling nyakitin bukan dia yang udah berubah, tapi sadar kalau yang aku tunggu sebenernya udah lama pergi.
Dan yang aku harapin buat balik, ternyata nggak pernah niat balik.
Kadang rasanya kayak nunggu kereta di stasiun yang udah tutup. Tetap berdiri, padahal tau nggak ada lagi yang dateng. Dan yang tersisa cuma diri sendiri yang belum bisa bener-bener pergi. Padahal semua tanda sebenernya udah jelas dari dulu.
Jadi sekarang aku coba jalan pelan-pelan aja. Nggak maksa diri buat lupa semuanya, tapi juga nggak terus-terusan balik ke hal yang sama.
Belajar nerima kalau ada hal yang emang cuma boleh jadi kenangan. Nggak semua yang pernah berarti harus dibawa terus. Dan mungkin nggak apa-apa kalau belum sepenuhnya sembuh. Yang penting nggak berhenti buat jalan ke depan.
Batu bara, 11 Juni 2026