Kisah sedih dihari minggu..

Kiana Khansmith
Game of Thrones Daily
Sade Olutola
Today's Document
taylor price
art blog(derogatory)

oozey mess
h
No title available

Origami Around
Misplaced Lens Cap
Xuebing Du
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
One Nice Bug Per Day
Keni
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
NASA
wallacepolsom
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
noise dept.
seen from United States
seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from Switzerland

seen from Malaysia

seen from Australia
seen from Germany
seen from United States
seen from Mexico

seen from Canada

seen from Malaysia

seen from Lithuania
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Nepal
seen from United States

seen from United States
seen from Lithuania
seen from Mexico
@pensilkelas
Kisah sedih dihari minggu..
Aku pernah hancur karena terlalu percaya, pernah juga patah karna memilih orang yang salah. Aku pernah terkubur dalam-dalam di dalam hati seseorang yang kuselami dengan niat untuk bisa aku mengerti. Aku pernah tercerai-berai karna kasihku tak sampai. Aku pernah tertusuk pecahan hatiku sendiri ketika sedang berusaha menyusun, lalu kau datang lagi. Aku pernah terjatuh dua kali karena ceroboh memberikan kesempatan. Aku pernah ditinggalkan karena menunggu. Aku juga pernah dihakimi karena melindungi.
Sehancur itu aku pernah.
Terkekang, tersakiti, tumbuh bersama kenangan ..
Laut itu luas menyenangkan, ikannya warna warni dengan ombak ditepinya. Tapi aku ini ikan air tawar, ketentramanku tinggal di hulu sungai.
Aku belajar dari bahasa ke bahasa dan saling menerjemahkan, tetapi masih ada begitu banyak yang tak bisa kuterjemahkan. Biarkan saja aku yang melupakan bahasaku, atau biarkan aku yang memperfasih bahasamu. Atau, adakah waktu untuk aku belajar menciptakan kata ?
Padahal sebenarnya, aku masih ingin tenggelam bersama bahasaku bahasamu.
Padahal sebenarnya, Aku ingin kita berangkulan bersama melawan arus yang tak terlawan.
Padahal sebenarnya, aku nyaris pada kesimpulan itu.
Dulu, aku sangat suka meninggalkan kelas dan menikmati waktu bersama temanku. Aku tidak menyesalinya, karena sekarang yang bisa membuatku tertawa adalah kenangan bersama mereka, bukan nilai ujianku.
Teruntuk diriku.
Maafkan aku, aku selalu menaruh ekspetasi yg lebih, selalu memaksamu untuk melakukan banyak hal yg semestinya kau tak inginkan.
Aku juga sering membandingkanmu bahkan menekanmu, bahkan juga tak jarang membuatmu menangis sesak.
Rehatlah, terimakasih sudah berjuang sejauh ini..
Senja selalu saja berbicara tentang perpisahan. Bagaimana ketika dia ditinggalkan, atau bagaimana rasanya harus digantikan. Bagaimana ketika semua mata memandang, tetapi dia harus bertahan.
Memang begitu, seringkali ada hiperbola rasa yang terlahir bersama senja yang teduh. Entah saat lelah ingin mengeluh, atau juga sekedar meneteskan peluh, seolah mengajarkan dalam hidup, kamu akan bertemu satu atau dua orang yang seperti senja. Indah, tak tergapai, lalu hilang.
Pulau Simeulue, 2 Maret 2020
Aku lebih suka malam. Dimana aku dapat bersembunyi dalam gelap dan bernyanyi, menulis atau hanya sekedar mengingatmu. Siang terlalu terang, terlalu riuh.
Panjang ceritanya, aku tak bisa jelaskan semuanya. Aku menyukaimu sejak awal - hingga akhir cerita.
Kau tau? aku masih selalu menyapamu dalam lisan yang tak tersampaikan lewat bisikan. Sementara, membisukan kata untukmu adalah hal paling tabah yang sedang kujalani saat ini.
Umpama senja, tetap terlihat indah walau ia tahu akan ditinggalkan siang yang terang. Langit senja tetap bahagia menyambut malam yang kelam, sembari berharap tak ada mendung yang menutup bintang terang.
☕
Lalu lalang setiap tubuh dengan berbagai suasana. Banyak wajah tak dikenali tapi empati selalu terasa. Yang melepas rindu, bahkan melepas pergi.
Gelak tawa, tangis haru, tangisan duka, bahkan juga ada tatapan kosong yang tidak ingin untuk berpisah.
Tubuh yang saling berpeluk, berusaha menguatkan hati masing-masing. Yang ditinggalkan dan yang meninggalkan pun sama rasanya, semua menyakitkan.
Tubuh yang saling berpeluk, melepas rindu yang sudah usang, lama tak jumpa. Yang datang dan yang menjemput sama terharunya.
Pelabuhan.
Tempat ini mengingatkan ku ke banyak waktu. Pada duka yang mendalam, pada kenangan yang tidak usang, juga pada bahagia yang tidak mau aku lupa, selalu terkenang.
Terkadang, semua memang hanya singgah, sebentar, lalu berlalu.
Pada petang yang tak biasa, aku terus membiasakan nyata yang terus berdrama. Nyata yang menyatakan setiap keraguan yang terus berlanjut dan nyata yang terus menghadirkan kenyamanan yang terenggut karna tak direstui oleh semesta.
Terima kasih untuk setiap cerita paling berharga yang kau kisahkan dalam hidupku. Sesungguhnya pedih, semesta. Kau tahu kan maksudku? Aku yang masih menangisi kenyataan karna tak semulus dan selicin nyata di kisah orang lain.
Mungkin, aku hanya belum bisa menerima setiap nyata yang terus aku tangisi, tapi aku berjanji bahwa sekarang sedang aku perjuangkan untuk melihat apapun yang terjadi dalam kisahku adalah caramu untuk membuatku terus mengasihi kenyataan itu.
Soal seseorang berharga yang atas seijinmu telah aku lepaskan, terima kasih banyak telah sempat engkau hadirkan dia. Dia yang terus kau tuntun untuk bersamaku, namun kau sendiri pula yang menuntaskan segalanya menjadi kenangan.
Lihatlah, aku tak mengapa. Pula soal yang satu ini, terima kasih banyak untuk membuatku mengasihi orang lain dengan sepenuh hati. Semesta, kau telah berhasil membuatku untuk tetap memelihara seseorang dalam ingatan!
Terkadang aku menangis begitu keras untuk membela diri..
Tempias hujan yang jatuh di bulan Juli lalu, berlinangan di malam menghujam awal pertengahan September ini, lalu ia memilih memeluk waktu yang merangkak meninggalkan rindu.
Namun ia tak secepat pijar lentera, hanya seperti desau angin yang kehilangan sunyi di musim gugur, yang lelah memuja harap, lelah menghitung sepi yang mulai bernyawa pada yang pernah menorehkan luka.
Aku melihat langit malam sedang berada sejajar dengan gelap rambutmu, lalu aku hanya sibuk mengunduh jutaan bait kenangan. Entahlah, barangkali ia lebih bersinar terang dibanding gemintang yang sering kau umpamakan sebagai binar dimataku.
Terduduk lesu di halte bus ini, menundukkan kepalaku sambil menatap converse tercinta yang aku pakai. Padahal, baru saja aku dan kopi sepakat untuk menjemput kabut bersama. Tapi apa daya gerimis yang datang dan lebih dulu menyapa. Tak ada malam indah hari ini. Dinginku hanya berteman angin yang tidak memiliki arah untuk pulang.
Berhenti menyukai ku, berhenti mengikuti ku. Aku juga sedang tersesat.