Portable Pemandangan Biasa
bu, aku mau kembali ke dalam rahimmu
dibawah gorong-gorong sunyi yang kerasan dalam bisik
dibawah selokan kebenaran yang tak memiliki umur tua
padamu. hanya dirimu, ku kisahkan tentang dunia
bukan duniamu, apalagi duniaku. malah ku nyatakan kalau ini bukanlah dunia yang kita renungkan, ini dunia tuhan. tapi ku tak yakin.
Ā bu, baru saja aku mencari awalku dalam lingkupan tai
karena aku yakin, ku tak layak hidup dalam gemerlap bumi
seranjang bersama dewa dan lanskap huniannya yang membunuh langit
biarkan aku tidur bersama sampah-sampah, terbang hampa esensi
dosa tak lagi besar untuk ditangisi. yang jadi soal, tentang kelupaanku bahwa aku hidup
hatiku sengaja ku jual, kepada tukang daging di pasar malam, sebagai tuntutan dari bagian lain diriku yang haus pengetahuan
tak ada penyesalan, sungguh. toh, hatiku juga sudah abu sejak awal.
Ā mati di awal, mati di akhir.
kehidupan kini mimpi buruk utama, hilang nyawa bukan perkara.
tiap tahun kulihat kerut air mukamu, tiap tahun juga kulihat luka
kebanyakan dariku tapi lebih dalam kepada dunia
gunung-gunung, samudra biru ataupun langit tak lagi indah di mata ini
bahkan puisi-puisi pada buku kesayanganku telah ku bakar
entah itu si bocah tampan dari prancis atau si gadis cantik berkepala oven
terutama sajak hujan orang tua yang disimpan, telah ku jadikan makanan kucing, agar kembali ke alam.
Ā aku adalah binatang. lebih jalang daripada yang sudah biasa jalang.
keras raungannya di balik pagar besi, hingga habis tak bersuara
besar tubuhnya hingga tak dapat keluar dari sebuah botol soda
tajam taringnya, menindas yang lain hingga menusuk lidah sendiri
keras cakarnya, ketika ibu kupeluk, engkau tersenyum berselimut darah
Ā aku adalah binatang, lebih jalang daripada yang sudah biasa jalang.
silahkan buru aku, dengan bedil atau senapan, asal jangan dengan puisi








