Tidak ada Matahari sekarang, Salju.
Tidak ada matahari hari ini,
Tidak ada terbitnya, juga terbenamnya senja.
Tidak ada dunia hari ini,
Tidak ada riuhnya, juga pikuk keramaian suara.
Tidak ada kamu, juga tidak ada aku, terlebih kita.
Ku kira, kita memang tidak pernah memulai apalun.
Hanya saja tidak terpikirkan olehku kamu akan muncul tiba-tiba seperti ini, di sini.
Sayang sekali, andaikan kamu datang lebih awal, mungkin kamu akan menikmati salju pertamaku tadi.
Ya, di sini ada salju—lebih tepatnya salju-ku.
Meski mungkin salju-nya bukan milikku, tapi setidaknya beku pada butirannya adalah dingin-ku.
Jadi, jangan coba-coba menghangatkannya, bahkan dengan matahari hangatmu sekalipun.
Karena aku tidak pernah ingin merasa hangat. Kecuali nanti, suatu saat di mana aku akan mendapatkan kehangatan itu, kehangatan milik seseorang yang ditakdirkan untukku.
Jadi sekali lagi, tolong jangan menghangatkanku. Aku benar-benar tahu, sekarang belum waktuku untuk merasa hangat.
Senang berkenalan denganmu, Tuan Matahari. Tapi kita tak lebih dari dua manusia yang saling mengenal baik, sama-sama sebagai hamba-Nya yang sedang merenenungi kehidupan, senang menghabiskan malam sambil menatap bintang-bintang, pun sama-sama sebagai teman baik.
Aku tahu kamu mengerti, karena kamu pun paham, ada seorang Puan yang menunggumu menghangatkan salju-nya, hanya saja kamu belum tahu siapa itu.
Selamat jalan, Tuan Matahari.
Secarik tulisan si Perempuan Salju yang diperuntukkan pada si Lelaki Matahari.
Ah, terkadang aku pun iri pada Sang Salju, akan ketegasannya pada prinsipnya, akan teguhnya ia pada apa yang dia percayai.
Bahkan sang salju pun mampu menjaga dirinya, juga sang matahari yang mampu menahan dirinya. Lantas, apalah arti sendirian ketika kamu sebenarnya sedang menjaga dirimu dari nafsu?
Karena menurutku, kesendirian tak harus kesepian, sebab kamu punya Dia sebagaimana adanya. Ya, 'kan?