Sore Itu Nyaris Milik Kami
Tak ada pedagang sayur hari ini. Pedagang sayur itu, kini adalah aku.
Aku tahu ada yang tak beres dengan si Perempuan. Wajahnya yang sembap dan tak segar itu terus terbayang dalam kepalaku. Separah apa kekasihnya menyakiti hatinya?! Sialan. Aku jadi merasa ikut kesal. Padahal, siapa aku selain pedagang sayur yang seumuran dengannya. Dan sepertinya akan segera jatuh cinta sore ini.
Sebelumnya aku mengatur waktu untuk bertemu dengannya di sebuah warung teh yang terkenal di Desa Maju. Jarak dari rumahnya mungkin dua belas menit dengan berjalan kaki. Teh yang paling terkenal di sana adalah Teh Kotak dengan cangkir berbentuk bulat sempurna. Teh hijau pilihan yang diimpor dari negeri Sakura itu diolah dengan sangat hati-hati. Kemudian dipadukan dengan susu beku berbentuk kotak sempurna. Dari sana aku mengerti mengapa dinamai Teh Kotak, sementara gelasnya berbentuk bulat sempurna.
“Sudah kah kau siap, Puan?”
“Sudah. Apa pakaianku pantas?”
“Andaikan kau hanya kenakan beberapa helai benang, buatku kau tetap pantas.”
“Tubuhmu terlalu sempurna untuk semua jenis pakaian. Percayalah. Kau sempurna sore ini.”
“Kau seperti kekasihku. Terlalu banyak membual. Lalu pergi.”
Ah, sepertinya semesta memberiku sepotong jawaban untuk pertemuan sore ini. Hanya perempuan gila yang sudi mengajak pedagang sayur untuk pergi berdua di sebuah tempat yang terkenal sangat romantis itu tanpa ada maksud lain. Ada yang hendak ia sampaikan. Aku tahu itu.
Angin musim kemarau yang terkenal sangat galak kini hanya melambai membelai bibirnya yang tipis. Menyentuh rambutnya yang terurai nyaris sampai ke dada. Gelombang di laut lepas akan sangat iri melihat gelombang di rambutnya yang jauh lebih indah dan menyejukkan pandangan. Mata coklatnya yang enak dipandang, membuatku tak ingin cepat-cepat lepas memerhatikannya. Jika saja dengan menatap matanya tak membuatku nafsu, sungguh aku takkan berhenti memandangnya. Sungguh.
Tegukan pertama untuk teh terenak yang pernah ada di negeri ini sudah sampai di tenggorokanku. Hangat dan tak terlalu manis. Aromanya seperti masuk lewat mulut kemudian mencari celah untuk masuk ke otak dan membuat semacam tempat singgah di sana. Rasa teh yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Maklum, aku hanya pedagang sayur yang kerap diberi teh celup sarimawar dari pedagang di pasar induk. Ah, begitulah hidupku. Tak melarat, namun memang sanga menarik untuk ditangisi.
Ada yang berubah dari matanya. Mata coklat yang enak dipandang itu kini mulai berkaca-kaca. Aku berkali-kali ingin melepaskan pertanyaan ini untuk memulai semuanya. Namun ini terlalu dini. Aku tak mau lancang memberi perhatian yang lebih padanya, meski aku tahu aku ingin melakukannya. Aku mencoba menahan untuk beberapa saat. Sampai ia selesai meneguk teh miliknya, dan sampai cangkir bulat sempurna itu ia letakkan kembali di mejanya.
“Ia sudah berubah. Tak lagi mencintaiku.”
“Ia sudah tak sering mengirimku surat. Aku tak tahu lagi.”
“Bukannya dalam satu minggu terakhir ada puluhan surat yang datang padamu? Yang tadi kau tunjukkan, itu surat dari kekasihmu, kan?”
“Iya. Namun isi pesannya begitu-begitu saja. Tak menarik. Dia berubah. Tak seru lagi.”
“Sudah kau balas satu per satu?”
“Tidak. Aku biarkan saja.”
“Tidak cukup seru untuk aku balas.”
“Memang awalnya bagaimana?”
“Dia lucu. Humoris. Asik. Aneh. Membicarakan hal yang tak dibicarakan lelaki lain. Perhatian. Bercerita tentang banyak hal. Kehidupannya. Pekerjaannya. Makanan yang ia makan. Mba-mba yang mengantarkan makanannya. Ahh! Semuanyaa!!”
Kulihat ia tak kuasa menahan air matanya. Ada luka yang tak bisa aku lihat di dalam hatinya. Bagaimana mungkin aku bisa melihat hatinya, pandanganku terbatas hanya sampai di dadanya. Tak bisa masuk lebih dalam. Sial. Tapi cukup oke.
“Apa kau lelah dengannya?”
“Apa yang membuatmu lelah?”
“Tak tahu. Mungkin dia sudah tak seperti dulu. Entahlah.”
“Apa sebaiknya kau pun berkaca, mungkin saja kau juga sudah tak seperti dulu?”
“Sedari dulu aku begini. Dia pun mengerti bahwa aku begini.”
“Apa kau pernah menyapanya terlebih dulu?”
“Gengsi. Tapi dia sangat mengerti bahwa aku memang gengsi untuk memulai percakapan.”
“Dia hanya mencoba memahami sembari menunggumu berubah.”
“Tapi aku memang begini. Dia tidak memintaku berubah juga kok”
“Kau keliru. Kalau saja kau menurunkan egomu dan memulai menghubunginya terlebih dulu, dia akan merasa dihargai. Dia tidak lagi merasa berjuang sendirian. Dia tak lagi merasa bahwa hanya dia yang membutuhkanmu dan kau tak begitu peduli dengannya. Dia tak akan lagi merasa sebagai budak cintamu. Cobalah.”
“Aku tak bisa. Ini diriku. Beginilah aku. Jika dia tak bisa menerimaku apa adanya, tak apa. Dia bisa pergi.”
“Dan dia sudah memilih pergi.”
“Biarlah. Dia akan menyesal.”
Sore itu bergerak sangat cepat. Kini sore sudah berganti malam. Air mata sudah berganti air teh yang mulai surut. Sedih sudah berganti amarah. Dan nyaris cinta sudah berganti nyaris pergi.
Perempuan memang hebat. Ia sanggup memerankan tokoh paling tersakiti di muka bumi ini. Mimik wajahnya mampu silapkan matamu sampai kau merasa iba padanya. Ia bisa menangis semalaman untuk tata rias wajah yang alami— mata sembap, bibir tebal, pipi merah, rambut berantakan. Perempuan tahu bagaimana caranya menarik iba orang di sekitarnya. Bahkan, jika tak hati-hati kau akan ikut membenci orang yang ‘katanya’ menyakitinya.
Perempuan, aku yakinkan diriku bahwa cukup saja kau jadi pelanggan sayurku, bukan kekasihku. Semoga kau lekas menemukan lelaki yang pas dengan potongan puzzle terakhir di hatimu, Perempuan.