Dan nyatanya mendengarkan tanpa menghakimi membutuhkan jam terbang dan kesadaran untuk bercermin. Jakarta, 13 September 2017 - respatinurbawati
Monterey Bay Aquarium
Three Goblin Art
TVSTRANGERTHINGS
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

JVL

PR's Tumblrdome
todays bird
No title available

Kaledo Art

Kiana Khansmith

JBB: An Artblog!
we're not kids anymore.

ellievsbear
Cosimo Galluzzi
Sade Olutola

shark vs the universe
hello vonnie
NASA
I'd rather be in outer space 🛸
will byers stan first human second

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Dominican Republic
seen from Dominican Republic

seen from Dominican Republic
seen from United States
seen from Dominican Republic
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from South Africa

seen from Paraguay
@respatinurbawati
Dan nyatanya mendengarkan tanpa menghakimi membutuhkan jam terbang dan kesadaran untuk bercermin. Jakarta, 13 September 2017 - respatinurbawati
Sempurna
Kopi pahit dan pisang rebus di pagi hari. Kau duduk merenung di teras belakang, memandang entah kemana. Kosong. Sementara itu kursimu terus bergerak perlahan, seolah memahami hidupmu yang selalu beriak.
Kuangsurkan segelas air putih hangat kepadamu,
“Kopi tak terlalu bagus untuk kesehatanmu hari-hari ini, Ayah.”
Ada kesedihan sekaligus permintaan maaf di matamu saat kau menatapku dalam. Hei, harus berapa lama lagi kau termangu setiap pagi dan meminta maaf dalam diam?
Teringatkah kau pada hari naas itu? Hari dimana ada pemberitaan bahwa akan ada PHK massal. Kau melarikan sepeda motor dengan kencang dan kemudian kehilangan keseimbangan. Aku ada di sana waktu itu. Mendekap erat punggungmu dengan jeritan tertahan di dada saat kau tanpa sengaja melindas kubangan dalam dan aku terpental jauh.
Ingatan terakhirku sebelum gelap adalah kau terbata-bata dengan air matamu yang bercucuran.
Ingatan berikutnya setelah gelap adalah ruangan serba putih dan kaki yang kaku tak bisa digerakkan.
“Dengarkan aku Ayah, setidaknya kali ini saja.”
Apakah air mata dapat menyembuhkan segalanya? Aku masih hidup Ayah, sekalipun tidak dengan kedua kakiku. Marilah kita hidup Ayah... jangan biarkan dirimu mati. Cukuplah kakiku saja yang mati.
“Oh Anak, apakah aku mati?”
Ya Ayah, kau mati untuk waktu yang lama. Kau ratapi kejadian yang sudah berlalu setiap pagi. Ingatkah kau dulu selalu saja terdengar protesmu. Aku yang tak pernah pulang, lebih suka berada di luar rumah. Maka lihatlah sekarang Ayah. Aku menemanimu sepanjang hari, menulis, belajar dan bahagia.
Pun Tuhan Yang Maha Sempurna pun menciptakan ketidaksempurnaan. Jadi bukankah aku masih tetap sempurna, Ayah?
Respati Nurbawati
24 September 2015
Rumah
Cerpen bersahut #2
Rumah ke 9 dalam 9 tahun terakhir inilah yang paling membuatku merasa ada di rumah. Lingkungannya cukup ramah namun tetap berjarak. Entah memang mereka yang memberi ruang lebih untukku, entah aku yang terlalu malas bergaul.
Pak Bambang satpam kompleks, Bu Murti penjual sayur keliling, dan Pak Yono ketua RT. Kepada 3 orang itulah aku terkadang berbicara. Rasanya cukup menyenangkan untuk berbicara kepada manusia lagi.
5 tahun berlalu semenjak aku memulai tidak berbicara. Bukan karena aku tak mampu, hanya tak mau. Untuk apa bersuara jika perkataan hanyalah menimbulkan segala jenis luka. Belakangan baru kutahu di India sana ada salah satu fasilitas berdoa melalui meditasi tanpa berbicara selama berhari-hari. Makin menjadilah keenggananku tuk berbincang.
Sekelebat bayangan memperhatikanku. Oho.... aku tau. Dia wanita tetangga baru rumah sebelah. Dari pengamatan singkatku, dia orang yang cukup ingin tahu. Sejak pindah siang tadi, kulihat dia memutari 3 kali komplek ini. Barangkali mencari tetangga baru untuk memperkenalkan diri.
Halo tetangga baru, kuberi tahu satu hal. Bersikaplah layaknya manusia-manusia lainnya di komplek ini terhadapku. Seulas senyum simpul dan berlarilah jika aku mendekat. Jangan kau menuruti keingin tahuanmu terhadapku nantinya.
Ah coba lihatlah dia, berani sekali memandang ke arahku dengan tatapan penuh tanya. Tak tahukah dia bahwasanya aku sedang berdoa kepada Ibu Semesta? Kumaafkan kau kali ini, namun jangan kau ulangi lagi. Bermurah hatilah sedikit padaku.
Karena aku masih belum ingin meninggalkan tempat ini.
oleh : Respati Nurbawati
link cerita sebelumnya ada di sini
Mencairnya Sebongkah Kejenuhan
Sebuah Pengantar…
Keheningan muncul ketika kedua kepala itu menarik diri sejenak dari perbincangannya. Sepasang mata tertuju pada lampu yang berkedip diatas kepalanya, satu pasang lagi sedang menatap coretan tangannya diatas lembaran-lembaran kertas. Kepulan asap dari panas teh melati menguatkan aromanya, menyebabkan berbagai ide untuk merangkak keluar dari kepala.
“Oh ya. Bagaimana kalau kita membuat cerita bersahut!”
“Haaaaah?”
“Aku rasa aku perlu ada yang bisa memancing dan mendorong untuk tetap konsisten menulis.”
“Wah, ide yang bagus! Aku tertarik dengan itu!”
“Ya sudah, siapa yang mau memulai terlebih dahulu?”
“Aku saja ya?”
“Oke.”
Hari itu, akhir dari sang Matahari berlangsung dengan kegiatan yang berkualitas, kedua penulis nampak asik berdiskusi di kedai teh hingga sang Bulan menampakan diri. Mereka sangat antusias mengerjakan proyek menulisnya. Proyek penulisan Cerpen Bersahut #1 menggunakan tema yang disepakati oleh kedua penulis yaitu mengenai lingkungan sehari-hari, kali ini penulis akan mencoba menceritakan mengenai kehidupan sosial masyarakat dalam bertetangga. Namun tidak ada penetapan alur maupun akhir cerita, cerpen ini menggunakan sistem bersambung dengan ‘saling-balas’ atau yaaaa…sebut saja bersahut. Tujuannya semata-mata karena kedua penulis merasa perlu membuat tantangan untuk dirinya agar lebih produktif mengatasi kejenuhan dan mencoba mengetahui kemampuannya dalam menggabungkan ide melalui gaya menulis yang berbeda. Lalu kapan cerpennya selesai? Entahlah, bisa saja hingga keduanya bosan, kehabisan ide atau karena memang ceritanya sudah harus selesai. Well, tidak akan menyangkal bahwa hal-hal yang disebutkan tadi merupakan musuh utama dalam sebuah kegiatan, bukan? hehehe..
Nah, penasaran bagaimana serunya Cerpen Bersahut #1? Tunggu saja postingannya mulai nanti malam dan hari-hari selanjutnya. Kedua penulis tersebut bernama Anggita dan Respati, mereka menggunakan tumblr masing-masing sebagai media posting dengan waktu per-satu hari sebagai deadline. Jadi, hari ini Anggita mem-posting cerpen, besoknya Respati mem-posting cerpen hasil dari respon cerpen tulisan Anggita, dan akan terus mengalir seperti itu.
**ps : dengan senang hati dipersilahkan bagi para pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun bagi kedua penulis.
Salam, QWERTY! Anggita Widyaninggar dan Respati Nurbawati.
Mari berkarya
Menata Hati
Hari belumlah petang. Matahari pun masih nampak bertengger di peraduannya. Baru terlihat sekawanan burung pipit berkumpul hendak kembali ke sarangnya. Berkicau ramai, mengaduh, menggebu, menyerupai nyanyian penuh semangat anak-anak kecil di hari Jum’at pagi.
Aku duduk bertopang dagu memandang jauh ke barat. Sesekali kubaca kliping kumpulan koran lama yang kuambil dari salah satu rak buku di perpustakaan tua ini. Namun kata-kata seolah berhamburan dan berlarian di sepanjang khayalan. Entahlah. Barangkali aku sedang bosan atau untaian kata penuh kritik dan sarkasme itu tak begitu menarik lagi.
Atau mungkin ada daya gravitasi yang menarik pikiranku ke arahmu.
Jika memang begitu, betapa sialnya aku. Butuh waktu 2 jam untuk mencapai tempat ini. Perpustakaan kecil yang masih terawat sekalipun ada diantara gang-gang kota lama, sesungguhnya amatlah menakjubkan. Dindingnya sudah direnovasi. Buku, majalah, dan koran disusun sedemikian rupa agar memudahkan pengunjung melihat-lihat koleksi. Tak ketinggalan ruang baca yang ditata apik beserta pendingin ruangan. Seharusnya aku sudah melupakan persoalan yang lain-lain ketika berada di sini.
Tapi ini bukan perkara seharusnya, semestinya, juga seyogianya. Ini perkara hati.
Haruskah aku menepikan kesenangan ini untuk sebuah rindu?
Oh tidak! itu tak perlu kulakukan, sisi logisku menentang. Percuma saja menuruti rindu.
Bayang-bayang jauhnya perjalanan menghantui. Hey, aku sudah di sini melewati jahanamnya jarak dan kotornya permainan debu. Mengapa aku masih tak berbahagia seperti biasanya?
Kukembalikan kliping koran, lantas kutelusuri novel-novel sastra lama semasa Opa Pramudya Ananta Toer masih menulis. Sejarah, politik, intrik, dan kemelut sosial serasa mengalir deras di pembuluh darahku.
Cepatlah merasuk, meresap. Ke hati dan pikiran.
Aku sedang tidak mengusir rindu. Aku hanya berusaha agar setidaknya tidak sia-sia berada di sini.
Deep Inside
Bagaimana sebuah tawa bisa muncul dari kesenyapan. Mungkin melalui pembebasan diri yang nyata. Ruang masif terkadang memenjara, mengikat, dan menimbulkan pemberontakan yang absurd.
Seperti halnya sebuah titik yang hilang dari kumpulannya, terlepas dan meledak layaknya sebuah teori fisika kuantum yang bercerita tentang penciptaan alam semesta. Itulah sejatinya diri kita. Terkungkung dan tercerabut begitu saja hingga menjadi sesuatu yang lebih besar.
-Respati Nurbawati-
7 September 2015
Perjanjian Kecil
Hari kelahiranku ditandai dengan hujan deras tanpa henti di penghujung musim kemarau. Malam itu seakan bumi berpesta menyambut kedatanganku. Gemuruh guntur dan kilat saling bersahutan. Angin menderu seakan menyanyikan selamat datang.
Aku merangkak, menggeliat. Keluar dari rahimmu. Tempat yang sayangnya hanya mampu memberiku suaka tidak lebih dari 9 bulan. Teriakan syukur manusia di sekelilingku tak ku hiraukan. Rasanya desir suara angin lebih menarik perhatian. Bau tanah basah berusaha menggelitik cuping hidungku yang belum lagi mekar.
Perlahan mataku menangkap sebuah bayangan. Aku ingin menjangkaunya, namun terasa begitu jauh. Semakin ingin kugapai, semakin meredup.
Ah, ada suara tangis yang lain. Pilu terdengar. Sayang sekali. Seandainya saja ratapan berubah menjadi tembang pengantar tidur, tentu lebih indah. Barangkali harus kuutarakan pemikiran itu. Kutarik nafas dalam-dalam. Kucoba mengubah aliran udara menjadi sapaan. Dan.. kau tetap tak mampu mendengar. Kegagalanku bersuara bahkan memperkeras ratapanmu.
Lalu apa yang semestinya kulakukan?
Begini saja, mari kita buat sebuah perjanjian kecil. Kau, katakan apa saja yang ingin kau katakan padaku. Dan aku akan berbicara melalui tarian. Bagaimana? Indah bukan?
Rasanya aku mengerti mengapa Tuhan memberikan cara lain bagiku memahami kehidupan. Aku tak harus melihat untuk tahu. Tak pula berbicara untuk menenangkan.
Sudah terlalu banyak ucapan yang keluar tanpa makna dan tanpa rasa.
Sudah terlalu banyak kilasan drama hidup yang berlalu begitu saja.
-Respati Nurbawati-
5 September 2015
Hari yang Menua
Aku duduk termenung di samping jendela nako sore itu. Berkas-berkas cahaya melintas masuk dan berpedar di ruang yang kubiarkan gelap dan pengap ini. Hembusan angin tiba-tiba menerpa kisi-kisi. Dengan sigap kuraih handle tuk menangkap udara segar. Siapa tahu dapat sedikit mengusir aroma tembakau yang menguar tajam.
Kuintip di seberang jalan kau sedang tertawa lepas. Cantik sekali. Aku tersenyum untuk pertama kalinya semenjak pertemuan terakhir kita. Ah... coba lihatlah, kau bahagia sekali. Wajahmu berseri-seri, deretan gigi rapi semakin mempercantik senyumanmu, tak lupa rona kemerah-merahan ikut ambil bagian di dalamnya.
Biar kuceritakan sesuatu untukmu tentang pertemuan dua anak manusia di hari yang muda.
Entah bagaimana bisa seseorang tertangkap oleh indera pengelihatanku. Dia ada begitu saja. Perlahan dengan pasti merayap menuju relung hati. Berhenti. Enggan beranjak. Tak mampu bergerak.
Itu kau sayang.
Kerling matamu yang menggoda sembari merajuk, merasuk menembus sukma. Aku terpaku tergugu dan seketika memujamu. Apakah kau merasakan itu juga?
Di hari yang telah menua seperti sekarang, nyaris tak ada yang berubah. Kau masih sama mempesonanya. Masih sama menggoda. Dan masih sama kupuja sekuat hati.
Ingatkah kau sayang, tentang pertemuan terakhir kita? Di sini, di ruangan ini sembari menangis kau memaki, berteriak, dan melempar apa saja yang bisa kau jangkau kepadaku. Aku hancur. Bukan karena perlakuanmu padaku. Namun tetes-tetes embun yang berubah menjadi anak sungai kian meluruh deras di pipimu.
Sebegitu dalamnya kah aku melukaimu?
“Aku lelah dan menyerah,” katamu kemudian.
Dan aku membiarkanmu pergi. Untukmu.
Respati Nurbawati
4 September 2015
Kita lengah terhadap persamaan yang seolah menyatukan namun ternyata menjauhkan sejauh-jauhnya. Kita tak lagi waspada, tak lagi berpikir mencari jalan tengah. Karena kita menganggap sama. Padahal tak ada yang sama di dunia ini.
Re
Kau dalam tulisan
Tak terasa sudah hampir 1 purnama berlalu sejak terakhir kali aku menuliskanmu dalam paragraf-paragraf berisi kerinduan. Aku berhenti menulis tentangmu bukan karena tak ingin mengingatmu. Aku hanya ingin menguji sejauh mana aku mengingatmu tanpa paragraf - paragraf itu. Itu saja. Dalam sajak yang entah ke berapa kubaca, ingatan itu mudah memudar. Oleh karenanya aku menuliskanmu dalam lembaran paragraf yang berbeda. Sudah. Sudah kutuliskan dengan cermat, penuh hati-hati. Aku takut terjebak dalam ilusi. Karena ingatan penuh dengan bayangan. Tergelincir dalam. Pada akhirnya aku pun tergelincir dan jatuh. Kau adalah bayangan. Dan tulisanku tentangmu pun sebenarnya bukanlah kenyataan. Maka aku pun berhenti menuliskan tentangmu dalam paragraf syahdu. -Respati Nurbawati- 22 Juni 2015
James Arthur - Recovery
Untukmu teman, janganlah berbalik ataupun menoleh lagi. oke?
Mengenangmu
Tak terasa satu purnama telah berlalu tanpa kita bersua. Bolehkan aku tuk mengenang tentang kita, barangkali untuk yang teakhir kali.
Aku tak pandai berkata-kata, apalagi bercerita. Mungkin suatu saat nanti ketika kau menemukan tulisanku, kau mau memahami keputusanku.
Kuberikan hatiku padamu, ternyata lebih banyak dari apa yang tadinya ingin kuberikan.
Aku teringat suatu ketika kau berkata,
"Aku akan pergi"
Pergi kemana? aku menjerit, menangis, dan memohon kau tak pernah meninggalkanku. Seakan kau milikku. Nyatanya kau hanya milikku dalam angan-angan.
Pada suatu pagi saat kurasakan pelukanmu dalam tidurku, aku menangis tanpa suara. Aku tahu ini akan berakhir, persis setelah kau mendapatkan keinginanmu.
Tak ada kesenangan yang tak meminta harga. Aku yang bersalah, pada diriku sendiri. Ternyata harga yang harus kubayar adalah melihatmu melakukan kepalsuan. Seharusnya kau tetap meninggalkanku sekalipun aku menangis, menjerit, dan memohon.
Kenangan ini memang menyakitkan. Karena dengan kenangan pahit mungkin aku bisa melanjutkan hidupku tanpa menginginkanmu kembali.
-Respati Nurbawati-
16 Januari 2015
Namanya hidup pasti ada banyak tekanan. Itu manusiawi, ga dibuat-buat. Tapi mana yang mau kamu ladenin, itu yang jadi keputusan. Dan itu juga namanya pilihan.
Obrolan santai malam hari
Seratus Tiga Puluh Lima
Aku menantimu hei biru.. Diantara debur ombak dan harum wangi laut. Diantara beribu warnamu, laut dan langit yang terlihat menyatu. Persis seperti kau dan bayangan. Tak ada bedanya, sama-sama memabukkan. Aku menantimu hei biru.. Ketika kau semakin biru, pada seratus tiga puluh lima malam. Dan hei.. ini hari ke seratus tiga puluh limamu bukan? ;) -Respati Nurbawati- 3 September 2014
Sore, cerita, dan kamu. Terima kasih untuk menutup hari dengan sebuah kenangan manis.
Aku ingin bercerita padamu. Tentang ribuan warna yang kuketahui dari caramu melihat dunia. Tentang perspektifmu pada ruang dan kata. Dan tentang kita yang tak pernah kau ketahui kalau itu ada.
Re
Biru
... teruntuk seorang kawan Hai kawan, ini pesanan cat airmu. Sudah kubelikan yang kau minta. Satu kotak penuh cat berwarna biru. Dimana biruku? Kau ulurkan tangan, meminta biru. Aku memberimu biru sembari membisu. Kusimpan saja tanyaku untuk sebuah hari biru, semoga kau mau menjawabnya. Kuperhatikan tanganmu mulai menari diatas biru. Biru bertemu biru. Biru muda, tua, laut, kehijauan, hitam, dan segalanya tentang biru, bertemu menjadi satu. Katamu, semuanya biru. Langit, awan, laut, gunung, bahkan udara. Kau ingin segalanya biru sepertimu ; Dingin dan memabukkan. Apakah kesedihan dan kesenanganmu juga biru, kawan? -Respati Nurbawati- 28 Agustus 2014