Toga yang Kesepian
Seperti yang kalian tahu, aku lulus. Alhamdulillah haha. Aku menyadari dan pernah aku singgung di beberapa tulisan sebelumnya, bahwa aku selalu menghilang di setiap perpisahan. Selayaknya kentut yang berpisah dari badan kita. Baunya masih ada, wujudnya sudah menghilang. Aku selalu rasakan perasaan ini dari SD hingga SMA. Akhirnya aku mengalami sesuatu yang berbeda. Aku tidak merasa kesepian lagi. Semua ini tidak bisa aku rasakan tanpa Icha. Dia bukan selingkuhan, dia bukan seseorang yang spesial, dia adalah teman satu jurusan, satu bimbingan, satu dosen wali, dan dulu pernah satu sekolah di SMP.
Dulu, teman-teman, SMP merupakan masa-masa dimana aku merasakan kesepian paling hampa. Aku selalu berusaha mencari perhatian orang-orang, aku selalu ingin perhatian mereka dengan cara apapun. Bahkan, dengan berpacaran pun aku tidak bisa mengisi kesepian itu. Bahkan dengan teman satu circle pun juga tidak bisa mengisi kesepian itu. Paling puncaknya adalah pada saat perpisahaan. Waktu itu, kami melakukan perpisahaan di Ciputra Waterpark, bersama 8 kelas lainnya. Total ada 9 kelas. Dari kelas 9A sampai 9I. Sejam pertama, aku masih bermain dengan teman satu ‘geng’-ku. Setelah itu, kami menaiki salah satu seluncuran. Kami bertujuh ingin menaiki itu dengan membawa pelampung ganda. Aku baru sadar, aku membawa pelampung ganda tetapi yang menaikinya hanya aku seorang. Aku melihat ketiga temanku, satunya membawa temanku yang lain. Dua temanku membawa pacar-pacarnya. Aku menjatuhkan pelampungku dan hanya terdiam. Aku baru sadar bahwa aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Mereka bersenang-senang tanpaku. Setelah itu, aku pergi ke kolam arus sendirian. Di sana aku bertemu dengan satu ‘geng’ lain dari kelasku.
“Tumben sendirian, Za?” Tanya salah satu perempuan. Aku tidak membalas.
“Eh, aku bareng po.o bentar. Ngobrol-ngobrol” ucapku. Tanpa persetujuan mereka, kami berjalan beberapa menit.
“Kamu lho, Za sebenarnya pintar. Kamu kumpul sama mereka, kamu jadi bodoh. Potensimu banyak yang kamu sia-siakan karena sering kumpul sama mereka” aku tertegun mendengar pernyataan salah satu temanku. Kami terdiam sejenak. Tanpa ada topik yang dibicarakan lagi.
“Za, pergi sana! Nanti banyak orang curiga lho!” usir mereka.
“Lho, kenapa?” tanyaku polos.
“Udah, pergi sana sama yang lain”. Aku berhenti mengikuti mereka. Aku terdiam. Tidak bergerak maju maupun mundur. Aku diusir. Bahkan aku tidak diinginkan oleh mereka.
Aku berjalan pelan-pelan.
Menelan bulat-bulat rasa kesepian itu.
Menelan mentah-mentah pengusiran itu.
Tidak enak. Pahit.
Yek!
Tidak enak. Tidak adil.
Tidak ada teman.
Tidak ada satupun…
…yang menolongku
Aku berjalan melawan kolam arus ini. Seperti melawan kenyataan bahwa aku tidak kesepian. Pada kenyataannya memang iya. Lalu aku menangis diam-diam. Setelah menyelesaikan tangisku di salah satu sudut kolam renang. Aku kembali ke orang tuaku. Papa Mama pun turut ikut ke Ciputra Waterpark untuk bersenang-senang juga. Aku pura-pura bahagia. Aku pun duduk di salah satu kursi santai bersama Papaku. Aku melihat di dekat patung ikan paus, teman-temanku yang meninggalkanku di seluncuran tadi sedang bersenang-senang. Lalu aku mengajak Mama Papa untuk sudahan dan aku ingin cepat pulang. Ingin rasa kesepian ini tidak menjalar kemana-kemana. Ingin ditemani seseorang. Ingin rasa kesepian ini tidak menelanku perlahan-lahan menuju jurang yang gelap dan sunyi.
Sampai di kuliah, aku berpikir hingga detik ini aku akan menjalani wisuda dengan sendirian kembali. Teman-temanku hanya belum beruntung. Dari kami bereempat di kuliah, hanya Rizaldy dan aku yang lulus. Sedangkan Adam dan Kiflan harus melalui Proposal terlebih dahulu. Rizaldy sampai di tengah jalan juga memutuskan untuk berhenti karena satu dan lain hal. Fatih juga sama halnya. Hanin pun masih membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Hanya aku.
Aku terkejut ketika notifikasi di telefonku muncul dari Icha. Aku kira akan selamanya aku berteman dengan kesepian.
“Za, Foto bareng yuk!” Mataku bahagia melihat hal itu. Aku langsung mengiyakan. Aku tidak peduli apa tujuannya mengajakku. Aku senang! Benar-benar senang! Terima kasih banyak, Cha. Aku senang akhirnya ada yang mengajakku walau kami tidak sedekat itu. Setidaknya aku tidak diusir.
Aku tidak akan capek, Cha untuk mengucapkan terima kasih. Icha ini, teman-teman, buaikk poollll. Dari bimbingan, Icha selalu membantuku, selalu mendengarkan aku ketika ada keluh kesah, terus mendengarkanku ketika kami sama-sama konsultasi tatap muka bersama dosen pembimbing.
Terima kasih atas semuanya dan selama ini, Cha!!!
















