Menjadi Sabtu
Mulai hari ini, tepatnya hari Sabtu 22 Juli 2017, gw ingin mencoba sesuatu hal yang baru (terpikirkan) di hidup gw yaitu membuat sebuah jurnal atau catatan harian. Jurnal ini nantinya berisikan beberapa potongan kejadian (slice of life) yang terjadi di hari tersebut. Sebenarnya menulis jurnal harian adalah cita-cita gw dari kuliah, namun musuh terkuat gw (dan kalian tentunya) yaitu mager selalu mencegat gw ketika jari ini ingin memulai menulis (mengetik sih tepatnya) jurnal harian.
Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, hari idola seluruh umat manusia. Nggak ada manusia yang nggak mencintai dan memuja hari Sabtu. Buat gw Sabtu adalah waktu bermalas-malasan dan bersenang-senang. Waktunya melepas penat dan kejenuhan akibat kerja. Pokoknya happy aja gitu kalau udah hari Sabtu. Tapi Sabtu ini agak sedikit berbeda. Bukannya salah Sabtunya, tapi memang dari gw sendiri yang merasa nggak enak karena ada sesuatu yang gw pikirkan.
Sabtu kali ini gw mulai dengan bangun tidur lebih cepat dari biasanya, sekitar jam 7.30 (siang amat ya..). Biasanya tiap hari gw bangun jam 8 lebih, dan nggak punya waktu lama buat siap-siap ke kantor. Gw agak kecewa kalau weekend bangun cepat, rasanya seperti gagal capai target. Ya harapannya sih bisa bangun jam 10 malah.
Setelah bangun (belum bangun dari kasur sih) sempat kepikiran kejadian kemarin sore namun karena ini hari Sabtu, gw harus bisa enjoy diri gw sendiri. Buka media sosial setelah bangung tidur adalah suatu kepastian, karena di antara pacar, teman, dan kolega pasti ada yang chat gw (njay Ge-er bet lo).
Sabtu ini gw belum punya rencana apapun, di samping pacar lagi keluar kota dan teman gw pada mager jalan kalau cuaca mendung. Oh ya hari ini cuaca dari pagi so mellow dan gloomy, menambah kekalutan diri ini akan kemarin. Lagi dan lagi, gw bilang ke diri gw untuk you have to enjoying this weekend!
Oke gw harus menikmati akhir pekan ini! Pertama-tama, gw menonton beberapa video di youtube. Biasanya di home gw akan muncul beberapa genre atau tema yang berbeda seperti sepakbola (of course lah gw football lover), game (gw tipe orang yang lebih suka lihat orang main daripada mainin sendiri), dan music (gw suka electropopmellow dan british song anyway). Gw memilih untuk melihat sepakbola karena saat ini lagi ada Internasional Champion Cup (kalau mau tahu klik aja) dan tentunya sepakbola adalah hal pertama yang bisa bikin mood gw balik lagi. Oh ya, kebetulan kemarin Manchester United menang lawan tetangga barunya, Manchester City dan pemain barunya, Lukaku, sukses bikin Ederson (kipernya termahal saat ini) mati kutu.
Nggak sadar hari sudah sore, dan saatnya teletubbies berpisah (jayus coy). Iya, Sabtu itu kayak gaji, nunggunya lama tapi sekalinya datang cepat banget perginya. Sore ini gw memutuskan untuk ke coffee shop di bilangan Pancoran. Tepatnya di jalan Dr Soepomo, namanya Kopimana. Gw baru pertama kali ke sini, itu juga karena teman kantor menyarankan untuk ke sini. Katanya selain kopinya enak dan terjangkau, barista-nya oke punya. Tempat parkirnya kecil, kalau bisa bawa motor atau naik ojek online aja biar nggak ribet. Di coffee shop ini, gw memesan kopi yang namanya Kopi Buatan Istri. Selain itu, ada juga kopi lain yang namanya unik seperti Kopi Dangdut. Kemasan kopi ini unik yaitu seperti botol bir. Gw bukan penggemar kopi, tapi rasanya pas dan enak, seperti buatan istri (padahal gw belum nikah). Kalau lagi senggang, boleh coba ke sini. Nggak tahu tempatnya? Search aja Kopimana di Google Map, akan muncul kok dengan sendirinya.
Rasanya cukup segini aja jurnal harian kali ini. Intinya, Sabtu ini sedikit berbeda buat gw tapi untuk orang lain, Sabtu itu adalah kenikmatan. Satu yang bisa gw jadikan pelajaran.
Gw harus menjadi hari Sabtu!
Kenapa? Karena Sabtu itu Primadona, selalu diharapkan, selalu dicari, dan selalu dinanti oleh semua orang.












