Lari itu semangat kejuangan!
Pernah ikutan lari maraton? Masih inget tes lari
waktu jaman sekolah?
atau pernah ikutan lari 10K?
Hidup itu kayak lari. kita tau orang lari kan? Tiap detik pasti mereka pindah entah selangkah ataupun dua langkah tapi mereka udah pasti pindah. Hidup pun gitu, sedikit atau banyak, cepat atau lambat semuanya bakal ngalamin perpindahan atau perubahan.
Lari itu sungguh menyenangkan, bagi sebagian orang, dan melelahkan bagi yang lainnya. Lari itu bergerak dengan melangkahkan dua kaki secara bersamaan pada waktu tertentu, tentunya lebih berat daripada jalan biasa. Namun, untuk pertumbuhan, kegemaran berlari dapat membentuk tubuh lebih baik. Berdasarkan pengalaman waktu SMA dulu, gue pernah mengamati sedikit *walaupuun bukan pengamat* bahwa olahraga lari memiliki banyak kelebihan loh.
Pertama, dengan berlari otot perut otomatis kenceng, makanya dulu setiap selesai berlari biasanya gue gak pernah melakukan sit up lagi, berasa lari aja udah cukup. Kedua, lari membuat tulang punggung tumbuh optimal, gue ngeliat fenomena dari temen-temen yang rajin lari, tinggi mereka bertambah secara signifikan. Ketiga, kayanya udah gak bisa bahas lagi, maklum bukan orang yang berkompeten di bidangnya, hanya bagi-bagi pengalaman aja sih :D
Eh, tapi masih ada lagi nih pengalaman penting seputar berlari. Percaya gak percaya, gue ngerasa lari adalah sebuah sarana untuk menguji mental kejuangan kita. Apalagi jika kita sedang dalam perlombaan. Dulu, gue pernah ikut lomba atletik, ya walaupun gak cepet-cepet amat larinya. Saat perlombaan akan dimulai, sebelum peluit berbunyi jantung kami sudah berdegup kencang. Peluit berbunyi, tenggorokan mulai bersuara-suara gak jelas. Tikungan pertama, degup jantung mulai normal, oke lah! Tikungan kedua, ya mulai stabil-lah degup jantungnya. Nah, di tikungan-tikungan selanjutnya ini, mulai deh berbagai macam rasa muncul. Untuk sang nomor 1, dan orang-orang yang di depan, degup jantung akan naik kembali. Mungkin gara-gara takut disusul dan mereka memiliki beban untuk mempertahankan posisi. Untuk orang-orang di posisi tengah, ada dua sifat:
Terkadang orang yang ada di posisi tengah biasa-biasa saja, gak deg-degan dan menikmati larinya. Padahal penilaian tes lari ini mengacu kepada jumlah lap yang kita lalui secara individual, bukan berdasarkan peringkat.
Ada pula orang-orang tengah yang malah terpacu untuk maju dengan mempercepat larinya karenatermotivasi temennya yang sudah memimpin di depan. Uniknya, terkadang orang-orang tengah ini bisa nyusul orang-orang depan dan ada di depan mereka saat peluit panjang berbunyi. Disinilah letak mental kejuangan dalam berlari. Saat kita sudah memiliki tujuan, hasrat, atau impian, tubuh kita akan memiliki kekuatan lebih untuk mewujudkan hal itu. Kekuatan inilah yang disebut semangat. Dan saat tubuh/fisik kita udah gak mampu lagi dalam melayani permintaan otak, semangat inilah yang akan memberikan energi kepada tubuh sehingga tetap mampu memenuhi tujuan, hasrat, dan impian kita.
“Saat kita sudah memiliki tujuan, hasrat, atau impian, tubuh kita akan memiliki kekuatan lebih untuk mewujudkan hal itu.”
Gue sendiri pernah ngalamin kondisi seperti itu saat berlari. Waktu itu organ kaki benar-benar telah memasuki kondisi kritis, pegel-pegel, dan capek. Namun, gue memikirkan tujuan yang ingin dicapai, garis finish, dan membayangkan kebahagiaan saat kita bisa menyelesaikan lomba ini. Hal itulah yang tetap ngebuat gue bertahan hingga akhir, meskipun kondisi fisik sudah seadanya. Sebenarnya, saat itu bisa aja gue memperlambat lari, bahkan jalan, lalu lari lagi. Namun hal itu tentunya akan melemahkan mental. Alhasil, walupun gak juara, setidaknya gue dapet pelajaran apa itu arti perjuangan dan semangat pantang menyerah.
Nah! hidup itu kayak kita lari di sebuah lintasan yang amat panjang, yang kita sendiri gak tau dimana letak ujung dari lintasan ini. Kita hanya tahu kita cuma pengen sampe di garis finish. Garis finish yang gue maksud disini adalah sebuah tujuan hidup atau bisa dibilang kebahagiaan. Karena 99% manusia di bumi ini hidup untuk mencari kebahagiaan. Entah duniawi maupun akhirat. Tapi, buat sampe garis finish gak semudah yang kita bayangkan. Banyak keringat dicucurkan demi mencapai garis finish, lelah? Sudah pasti. Hampir menyerah? Mungkin. Hidup juga begitu, gak ada yang instan di dunia ini, mie instan aja kalo kita mau masak harus manasin air dulu kan? Kita butuh pengorbanan untuk dapetin apa yang kita mau, buat sampe di garis finish kita, buat sampe di tujuan kita.
Hidup itu kayak lari marathon dengan ribuan atau bahkan jutaan peserta. Selama pelarian yang kita jalanin pasti silih berganti teman lari kita. Banyak yang datang hanya untuk sekedar menyapa lalu pergi lagi, namun sedikit diantara mereka yang mau memahami kondisi kita, yang mau menjadi teman beristirahat disaat kita merasa sudah tak mampu lagi berlari. Hanya sedikit pula yang mampu membangkitkan semangat kita untuk meneruskan perjalanan.
Karena gak selamanya tubuh manusia mampu untuk berlari. Ada kalanya dimana mereka merasa lelah, begitu juga dalam menjalani hidup. Gak selamanya manusia merasa kuat dan mampu untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan mudah. Tak sedikit dari mereka pernah merasa lelah menghadapi berbagai masalah kehidupan. Disini, hal terpenting yang dibutuhkan adalah semangat, semangat untuk terus bejuang dan rasa kebersamaan antar sesama!
Sedikit cerita ini, menunjukkan adanya sebuah semangat pantang menyerah. Menurut gue, si "semangat" tipe ini sangat kuat dibanding semangat lainnya, dan semangat pantang menyerah ini sudah kita miliki sebagai bangsa Indonesia. Gue masih inget sebuah spanduk di jalur lari 10K waktu itu:
"Semangat Pantang Menyerah Warisan Leluhur Kita"