“A pain will be replaced with happiness if you want to treat it. And our past will not be a pain if we want to admit and fix it in the present.” Note for my self. 21-07-2022
untitled
No title available
Lint Roller? I Barely Know Her
Game of Thrones Daily

izzy's playlists!
art blog(derogatory)
taylor price

gracie abrams
trying on a metaphor

Andulka
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
One Nice Bug Per Day
Sade Olutola
Cosmic Funnies
$LAYYYTER
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
NASA
wallacepolsom
d e v o n

★

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Bulgaria
seen from France
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
@saharahamas
“A pain will be replaced with happiness if you want to treat it. And our past will not be a pain if we want to admit and fix it in the present.” Note for my self. 21-07-2022
Barangsiapa Bersabar, Maka Dia Akan Beruntung.
Salah satu nasehat dan pesan yang diberikan oleh Rasulullah (Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam) kepada ummat nya.
Senin, 2 hari yang lalu, aku bertemu dengan teman lamaku di pesantren dulu. Sekarang dia sudah menjadi seorang Dokter di salah satu RS di Samarinda. Terakhir kali kami bertemu yaitu saat kami melakukan tes UMPTN di Unmul, tepatnya di GOR tahun 2014. Kala itu memang kami berdua sama-sama belum dapat kampus. Tapi Qadarullah, kami berdua tidak ada yg keterima, hingga pada akhirnya kami kuliah di luar kalimantan. Aku mengajaknya untuk menonton film “Ranah 3 Warna” yang diadaptasi dari novel karya A. Fuadi. Filmnya sangat bagus dan banyak pesan agama dan moral disitu. Salah satunya adalah ‘Man Shabara, Zhafira’ (ada juga kisah romansa yg bertepuk sebelah tangan, tp aku gak akan bahas disini dulu ya).
Satu kalimat yang bunyinya sangat ringkas, namun mengamalkan nya sangatlah tidak mudah. Apalagi bagi kami, generasi akhir zaman ini. Yang sholat 5 waktunya saja masih sering terlambat. Sepertiga malam banyak bolongnya. Puasa sunnah pun sering tertunda-tunda. Sedekah atau infaq masih banyak perhitungannya. Kami yang godaan duniawinya sangatlah besar, tapi juga malas-malasan memperkuat iman dan islam (jauhkanlah kami dari hal tersebut Ya Rabb).
Mungkin parameter sabar nya kami dizaman ini sangat jauh berbeda dengan kesabaran para Nabi terdahulu, para Rasul, para Sahabat, para tabiin dan para ulama sebelum kami. Kami yang mentalnya lebih lembek dari mereka, yang seringkali mengeluh sangat cepat ketika mendapatkan suatu ‘test’ atau ujian kehiduapan dari Sang Pencipta.
Sabar. Jika kita sabar, maka kita akan beruntung. Tapi yang sering dipertanyakan oleh kita adalah sampai kapan kita harus bersabar? Bagaimana ukuran seseorang telah bersabar? Apakah ada batas limit dari sebuah kesabaran? Apakah kesabaran itu harus diperlihatkan?
Dari film ‘Ranah 3 Warna’ yang ku tonton kemarin, sabar itu sangat luasss. Sabar itu tidak butuh pengakuan atau apresiasi dari orang lain. Sabar itu ikhlas dan bersyukur dengan apapun yang kita miliki sekarang. Selain itu bersabar dari ujian yang diberikan akan membawa kita menuju level kehidupan selanjutnya. Mungkin akan ada sebuah hadiah didepan sana yang Allah siapkan untuk kita, sebagai buah dari perjuangan kita. Berlelah-lelah nya kita, sabar menahan diri dari kesenangan yang tidak bisa kita lakukan dan lain lain.
Ternyata disetiap ujung cerita kesabaran itu ada sesuatu yang sangat spesial dan gak pernah terduga oleh akal kita. Karena Allah maha penguasa atas segala sesuatu. Apapun yang ia hendaki terhadap kita, pastilah yang terbaik.
Sebuah pengingat untuk diriku yang masih berlatih untuk terus bersabar. Semoga Allah senantiasa mengiringi langkah-langkah kita. Aamiin.
(06-07-2022)
Mekanika Kuantum
Tulisan ini tentunya bukan membahas tentang teori radiasi benda hitam dan momentum angular. Bukan pula penjabaran dari fungsi eigen ataupun teori gangguan yang selama ini familiar sekali dalam dunia per ‘kuantum’ an. Melainkan tulisan ini akan bercerita tentang keterkejutan seorang dosen pemula (yang sebelumnya belum pernah mengajar).
Yap! Untuk kalian yang pernah tau sedikit dengan dunia fisika, pasti akan mulai menemukan hubungan antara mekanika kuantum dengan keterkejutan yang saya alami.
Tepat hari ini departemen/jurusan tempat saya memulai dedikasi dalam bidang fisika, mengadakan rapat untuk pembagian mata kuliah yang akan di ampu. Seiring berjalannya rapat, kami diberikan beberapa mata kuliah yang notaben nya masih ‘mudah’. In case, khususnya bagi kami para dosen baru yang masih butuh ‘magang’ dan penyesuaian dalam mengajar. Saat itu dipilihlah aku untuk mengajar mata kuliah elektrodinamika dan fisika dasar sebagai dosen kedua, yang total SKS (a.k.a Sistem Kredit Semester) gabungan keduanya adalah 4 SKS.
Menjelang pertengahan rapat, seluruh rekapan SKS para dosen sudah terhitung semua. Ternyata total SKS yang kudapatkan sedikit sekali, padahal beban mengajar dosen dalam 1 semester adalah minimal 12 SKS (dikurangi 3 SKS untuk pengabdian dan penelitian). Sehingga, setidaknya saya harus mendapatkan 9 SKS untuk memenuhi persyaratan tersebut.
Diulanglah sesi pembagian mata kuliah khususnya di prodi saya. Beberapa dosen senior memberikan masukan dan pertimbangan agar saya bisa mendapatkan tambahan SKS. Dan akhirnya saya diberikan mata kuliah filsafat fisika, fisika matematika III, fisika atom dan molekul. Tapi ada lagi tambahannya yaitu MEKANIKA KUANTUM. Aaargghhh. Sunggung mengejutkan sekali.
Mekanika kuantum adalah mata kuliah lanjutan dari fisika kuantum, yang ketika kuliah saya dapatkan saat studi S2. Namun saya pernah memiliki pengalaman sedikit kurang baik di fisika kuantum. Tapi saya rasa, disinilah perjuangan saya akan dimulai. Salah satunya dengan kembali belajar dan belajar. Seorang guru/dosen sudah seharusnya terus menerus belajar, mengasah kembali otak, pengetahuan dan keahliannya.
Bismillah.
Saya akan berusaha maksimal untuk mereview kembali semua mata kuliah, khususnya yang akan saya ampu dan berharap saya bisa membawakan mata kuliah tersebut dengan baik, sehingga menghasilkan manfaat yang besar untuk mahasiswa fisika. Sekian.
(28-6-2022)
Sebentar Lagi Juni akan Berakhir
Hari ini tepat 1 minggu aku berada di kos baru, Samarinda. Bulan ini bagiku merupakan bulan yg penuh dengan perjuangan untuk memotivasi diri. Bulan yang dipenuhi dengan banyaknya penyesuaian baru. Pertemuan dan perbincangan yang baru. Kehidupan baru dengan menjadi anak rantau kembali setelah hampir 3 bulan lebih vakum di rumah, tidak bekerja.
Langkah awal disini sebenarnya agak terasa berat. Bertemu dengan orang dan lingkungan baru. Asing sekali rasanya. Kehidupan dan kebiasaan anak kos yang harus dibangun lagi keteraturannya. Kembali merasakan hidup jauh dari orang tua, beserta keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi. Siapa lagi yang bisa memotivasi diri ini untuk terus bergerak jika bukan ‘aku’ sendiri.
Mungkin di bulan-bulan selanjutnya akan ada kejutan lain.
Juni adalah bulan dimana perjalanan awal ku untuk menjadi seorang dosen akan dimulai. Senang! Akhirnya dunia akademik ini menjadi jalanku. Alhamdulillah. Tidak terasa, perjalanan yang dimulai dari tes seleksi CPNS 2021 kemarin, membawaku pada jurusan Fisika, Universitas Mulawarman.
Banyak sekali hal yang wajib ku syukuri. Hal-hal tidak terduga yang sebelumnya menjadi kekhawatiranku pun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Formasi CPNS saat itu membutuhkan 2 dosen lulusan S2-Fisika, dengan keahlian “fisika medis”. Sedangkan aku berasal dari konsentrasi fisika material baik saat S1 maupun S2. Di tengah perjalanan, aku sempat ragu dan khawatir sekali jika formasi yang ku lamar tidak sesuai dengan background pendidikanku saat ini. Bahkan aku sudah mulai mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk, jika aku harus mengajar Fisika Medis yang sama sekali belum pernah ku pelajari.
But, Time flies. Aku bersyukur karena ternyata, disini aku bisa bergabung dengan KBK (a.k.a Kelompok Bidang Keahlian) Fisika teori dan Material. Hal yang tentunya belum pernah terbersit alias aku sudah pasrah dan tidak terlalu banyak berharap. Di KBK ini aku bertemu dengan para dosen senior yang sangat menghargaiku. Tidak memandang diriku sebelah mata sbg junior yang baru dan tidak pula meremehkan kemampuanku. Big thanks to Allah..
Tentang cerita perjalananku selama seleksi dosen kemaren, rasanya menarik jika kutulis disini. But, there is so many stories about that. So colorful and complicated. Mungkin aku akan menuliskannya dilain waktu. Sekian.
(26-6-2022)
Tentang mereka yang sedang terjebak.
Suatu sore, kala itu langit dan awan tampak terang. Mengharmonisasi keindahan sore menjelang datang nya senja. Indah rasanya. Semua terasa normal dan berjalan lancar, melewati poros waktu seperti biasanya. Kalian pasti tau, betapa indah dan tenangnya aktivitas sore. Anak anak asyik bermain mengejar layangan, menjadikan suasana sore semakin hangat. Sore itu, sesaat sebelum semua raga melepas lelahnya dan menutup semua jendela dan pintu rumah.
Di waktu yg sama, terdengar sebuah kabar. Sebuah busyro yg datang ke sebuah keluarga, yg rasanya, tak ingin kabar itu ada. Bukan kabar menang undian umroh atau kabar diterimanya anak di kampus ternama. Kabar itu adalah kabar buruk.
Ternyata kedatangannya membuat satu keluarga tersebut takjub. Kaget dan sangat terpukul. Semuanya terlihat diam. Ada yg menahan air mata agar tak membuat yg lainnya semakin sedih. Namun air wajah tak bisa berbohong. Sore itu, keluarga mereka di rundung kesedihan.
Sore yg indah itu berubah menjadi malam yg sangat dingin. Sepertinya, seketika langit pun susah membendung perasaannya. Kabar itu, apakah bentuk dari ujian kesabaran dan keimanan?? Kabar itu, apakah hukuman atas kelalaian?? Kabar itu, apakah sebuah bentuk teguran atas kedzoliman yg pernah di lakukan?? Kabar itu, apakah tanda bahwa Allah yg maha penyayang, sedang menunjukkan kasih sayang Nya??
Entahlah. Saat itu juga, sore terasa cepat. Hingga adzan maghrib menyadarkan mereka untuk bersegera tunaikan kewajiban. Pergi membasuh wajah dari raut kesedihan. Beranjak untuk segera mengadu pada Rabb nya.
Namun jelas terlihat, langkah keluarga itu sedikit lunglai.
(Bersambung)
14 Agustus 2020
Lupa dan Lenyap
Kala itu diriku salah mengucap. Beserta langkah dan tangan ku salah berbuat. Kala itu bisikannya terdengar tepat. Sehingga hatiku seketika sepakat. Lalu sapamu menjauh dan aku terjerat
Khilaf terjadi bagiku wajar.Karena manusia bisa salah dan ingkar. Salam dan nasehatmu hilang perlahan senyap. Maaf dan sesal sudah kuucap. Ampunan dan rangkulan darimu kuharap
Hari, bulan serta tahun berganti. Kau menghindar, acuh dan hilang peduli. Inginnya diriku kembali ke arah mu lagi. Karena salah ku butuh koreksi. Tapi nyatanya tak satupun kau beri. Bahkan sapa dan bayangmu hilang disini
Yang kuingat pesan dari mu. Tuhan semesta alam maha Pemaaf. Ampunan Nya luas tak terhingga. Kasih dan sayang Nya tak terbatas. Pada siapapun hamba yg meminta.
Biar ku ingat selalu pesanmu. Agar tak kulakukan pada mereka. Mereka yg akan melakukan salah. Mereka yg butuh maaf dan koreksi
Lalu, apa ku lupakan saja dirimu? Persahabatan antara kamu dan aku yg usai. Sebab ukhuwwah dilupa lalu lenyap. Lenyap dikarena salahku dan lupamu.
5 Juli 2020