Orang-Orang Oetimu dan Lelaki Harimau
“Satu jam sebelum para pembunuh itu menyerang rumah Martin Kabiti, di malam final Piala Dunia, Sersan Ipi menjemput Martin Kabiti dengan sepeda motornya. Itu adalah sepeda motor RX King yang telah ia modifikasi knalpotnya, sehingga raungannya menggelegar membelah rumah orang-orang miskin, membikin anjing melolong dan kelelawar beterbangan dari pucuk-pucuk bunga kapuk.”
Hal pertama yang kupikirkan selepas membaca dua kalimat pembuka Orang-Orang Oetimu adalah novel Eka Kurniawan yang judulnya Lelaki Harimau. Karena sungguh, keduanya mengawali kisah dengan adegan mirip betul, meski secara kalimat serta kecepatan narasi Orang-Orang Oetimu dan Lelaki Harimau jelas berbeda.
Mustahil adegan Sersan Ipi menjemput Martin Kabiti tak mengingatkanku pada adegan di novel Eka, tatkala Mayor Sadrah menjemput Kyai Jahro yang sedang memberi makan ikan-ikan di kolamnya.
“Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya […] Ia tengah melemparkan dedak yang dimintanya dari penggilingan padi, serta daun singkong dan pepaya, dan ikan-ikan menyundul riang kala ia mendengar deru motor di suatu jarak […] Itu honda 70 milik Mayor Sadrah, dengan warna merahnya yang masih cemerlang,” begitu Eka menulis di dua halaman awal Lelaki Harimau.
Selain tokoh, perbedaan mencolok di antara keduanya ada dua: waktu dan jenis kendaraan yang ditunggangi. Dalam Lelaki Harimau, Mayor Sadrah menjemput Kyai Jahro sore hari dengan Honda 70. Sedangkan Felix K Nesi menempatkan adegan Sersan Ipi menjemput Martin Kabiti pada malam hari, kemudian dibekali motor lebih gahar, RX King yang sudah dimodif knalpotnya.
Dua perbedaan ini saja sudah cukup membuatku meramu ekspektasi di dalam kepala, menyoal cerita-cerita apa saja yang akan kutemui dalam 219 halaman sisa Orang-Orang Oetimu. Termasuk apa yang akan membuat novel ini lebih menampar tinimbang Lelaki Harimau.
Dan benar saja, Felix menjawab ekspektasi itu dengan cermat.
Serupa perbandingan RX King dengan Honda 70, Orang-Orang Oetimu punya cerita yang lebih brutal tinimbang Lelaki Harimau. Adegan pembantaian, perkosaan, penindasan, semua dilukiskan Felix tanpa tedeng aling-aling.
Bukan berarti Eka tak melakukannya. Kalian yang membaca Lelaki Harimau, tentu ingat persis betapa Eka juga tak ragu-ragu mengajak pembaca gelisah dengan adegan kekerasan rumah di antara kedua orang tua Margio, atau kebejatan Anwar Sadat terhadap ibunda si tokoh utama.
Tapi, Orang-Orang Oetimu memang menggambarkan segalaya dengan lebih banal.
Saya tak bisa mengingat tokoh–utama maupun pendukung–mana yang tak melalui trauma. Hampir semua tokoh perempuan dalam tulisan Felix mengalami buah simalakama budaya patriarki yang primitif.
Felix mengaduk-aduk emosi saya saat membayangkan betapa jahanam tentara-tentara Belanda menggumuli dan menyiksa Laura. Betapa tak punya otak para pastor memperkosa jemaatnya. Bagaimana tragisnya Sylvi jadi korban kebrutalan lelaki yang buta dengan kecantikannya. Perempuan-perempuan kuliahan jadi sasaran penis prematur Linus bikin saya menepuk dada. Dan di level yang lebih biadab: mengingat adegan tentara-tentara Jepang yang dengan rakus memasukkan penisnya ke kuda milik Am Siki bikin saya sulit makan seharian.
Itu belum termasuk cerita penggal-penggalan kepala, atau gerutu-gerutu tajam di Orang-Orang Oetimu yang sukar ditemui di novel-novel dalam negeri lain.
Adegan yang banal ini sebenarnya wajar, mengingat spektrum Orang-Orang Oetimu lebih luas. Kisahnya mencakup cerita soal orang-orang di Oetimu, Timor-Timur, sampai Jawa. Budaya dan kelakuan masyarakat di setiap latar dicampur aduk.
Di sisi lain, spektrum dalam Novel Eka murni berfokus ke satu perkampungan saja.
Kelebihan Lelaki Harimau ada pada kedalaman dan penguatan karakter-karakternya, sedangkan Orang-Orang Oetimu punya nilai jual utama berupa keleluasaan ruang cerita dan imajinasi.
Pada akhirnya, meski sama di awal, di penghujung bacaan aku menyadari bahwa Orang-Orang Oetimu bukan sebatas duplikasi Lelaki Harimau.
Tapi, wajar jika ada orang yang beranggapan Lelaki Harimau adalah versi prototipe, dan Orang-Orang Oetimu adalah pengembangan dari prototipe tersebut.
Serupa malam yang dilalui Martin Kabiti dan Senja yang menemani Kyai Jahro, keduanya punya keindahannya masing-masing.
Dan aku cuma bisa bilang: kalau kamu mati sebelum sempat membaca keduanya, betapa sia-sia hidup yang kamu lalui.