Cuap kali ini memang literally tentang nasi, telur, garam, lada halus, dan saus sambal. Tentu dengan bumbu hikmah lucu nan cute di belakangnya nanti. Pagi ini, saya sedang tidak berselera untuk makan, suatu hal yang tidak biasa karena bagi saya sarapan sama wajibnya dengan mandi sebelum pergi ke luar rumah. Entah karena apa, mungkin karena kemarin melihat timbangan menunjuk pada angka yang meninggi dibanding sebelumnya, atau memang sedang tak berselera saja. Entah. Tapi, demi kebaikan di sepanjang hari, saya pun beranjak dari pelukan Mr. kasur menuju panggilan Mr. Dapur. Di lemari makan, sudah siap sayur sop beserta lauk favorit saya : tongkol balado buatan mama. Tapi, sungguh. Bahkan hal yang saya suka pun tidak mampu mendatangkan selera makan pagi ini. Dengan gontai, saya melangkah kembali ke kamar, meraih satu buku, membacanya beberapa halaman, dan tak lama kemudian, rasanya lapar. Lapar tanpa selera untuk makan. Kembali beranjak dari kamar. Diam sejenak di dapur, mendramatisir keadaan dengan bertanya-tanya pada diri sendiri ada apa. Ada apa beberapa hari ini hingga makan tak berselera, selalu ingin tidur lebih awal, tidak begitu bersemangat, dan lain sebagainya yang sungguh sangat tidak biasa saya rasakan dan lakoni. Rasanya, tidak seperti Yufi. Itu saja. Ah, dasar drama queen! Pikir saya saat itu. Tak berlama-lama, langsung saja saya membuka kulkas dan terlihat telur-telur mentah berbaris rapi, bersih, dan teratur di sana. Di atas kompor pun sudah tergeletak tegap wajan dengan sodetnya, saya hanya tinggal berupaya sedikit menyalakan kompor, menuang satu sendok margarin, memanaskannya, kemudian menggoreng satu telur yang saya ambil dari kulkas tadi. Tidak sampai 5 menit, telur goreng tersebut matang, saya letakkan di piring bersama nasi panas yang sudah dilumuri garam dan lada halus. Di pinggir piring, tak lupa saya tambahkan sekecup saus sambal. Saya pun mencoba makan. Tidak ada pikiran apa pun saat makan. Memasukkan suap demi suap nasi beserta kawan-kawannya, hingga nasi sudah hampir habis dan saya tersadarkan dengan merasa begitu istimewa rasa makanan saya pagi ini. Lima menit bersama dan menghabiskan nasi, telur, garam, lada halus, dan saus sambal adalah lima menit yang menggairahkan, membuat saya kembali berselera, juga kembali bersemangat mengingat rencana kegiatan hari ini. Aneh? Tentu saja aneh. Teringat gurauan ringan berbalut tausiyah dari Ust. Salim A Fillah. Sering dalam hidup kita hanya butuh yang cukup, bukan yang banyak. Ibarat sepatu, sebanyak apa pun sepatu yang kita miliki, jika tidak ada yang cukup dengan ukuran kaki kita maka sesungguhnya yang banyak itu sama sekali tidak memberi manfaat buat kita, justru yang sedikit namun cukup lah yang mampu membawa kita berjalan dengan nyaman, melangkah ke tempat-tempat yang indah juga penuh hikmah. Begitulah. Sama seperti pagi ini, pada akhirnya yang cukup, yang mampu membuat saya berselera kembali. Ya. Nasi, telur, garam, lada halus, dan saus sambal bagi saya cukup menghilangkan rasa lapar (yang tanpa selera) pagi ini. Yang sederhana, yang sudah lama saya tinggalkan karena begitu banyak sajian makanan enak dan lucu bertebaran untuk dibeli dan dicoba, pada akhirnya justru yang mampu memenuhi kebutuhan utama saya pagi ini. Maka dari hal sederhana juga aneh seperti ini pun saya bisa mengambil pelajaran. Tidak ada keremehan dari hal kecil, semua bisa jadi bahan belajar. Tidak ada keremehan dari orang-orang yang hadir di dalam hidup kita, sekecil apa pun peran mereka, selalu dan selalu mereka bisa menjadi tempat kita belajar.