“Tidak ada yang mengejar-ngejarmu, kecuali kekhawatiran dan ketakutanmu sendiri.“”
—
Kurniawan Gunadi
almost home
Three Goblin Art
No title available

JBB: An Artblog!
he wasn't even looking at me and he found me
taylor price
Alisa U Zemlji Chuda

No title available
Claire Keane

Origami Around

祝日 / Permanent Vacation

No title available
One Nice Bug Per Day
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Sweet Seals For You, Always
Cosmic Funnies
No title available
Not today Justin

❣ Chile in a Photography ❣
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Sweden
seen from Australia
seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Iraq

seen from Uzbekistan
seen from Brazil
@serpihankehidupan
“Tidak ada yang mengejar-ngejarmu, kecuali kekhawatiran dan ketakutanmu sendiri.“”
—
Kurniawan Gunadi
karena aku sangat mudah untukmu
karena aku sangat mudah untukmu.
kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.
kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.
kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.
kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.
karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.
semoga aku sangat berarti untukmu.
tag mamacin @ajinurafifah
Allah nggak pernah jamin kalau hidup itu selalu enak & gampang.
Tapi Allah janji, kalau setelah kesulitan pasti akan di kasih kemudahan. Nggak sekaligus emang, makanya ada yang namanya sabar dulu ya. Nyiapin bahagia sehabis badai nggak kayak simsalabim abragadabra.
Banyakin lagi sabarnya, ikhlasnya, kencengin lagi tasbihnya, khusukkan lagi doanya, lebih lama sujudnya. Allah itu tau kamu bisa melewatinya dengan baik & tenang. Okey ? 😘
“Terimalah dengan setulus hati untuk dia yang kelak menjadi teman hidupmu. Dan untuk yang saat ini belum terlihat kejelasannya, maka cintailah sewajarnya, karena yang hadir belum tentu menjadi takdir.”
—
Menerima dengan tulus hati itu pada apa yang kurang darinya, masa lalunya yang rumit dan semua kekurangan yang akan nampak di masa depan. Bukan berarti membiarkan atau menghukuminya, tapi menerima dengan ikhlas dan membersamai untuk mengubah yang salah.
Terkadang kamu akan dibutakan oleh ekspektasi, dan akan dikagetkan oleh realita. Ibadah yang panjang sudah berarti ujiannya juga akan datang silih berganti, tidak mengenal sudah berapa tahun ia menjalani, tidak mengenal usia, ujian akan tetap ada.
Siapkan saja ilmu soal sabar dan mengalahkan ego, ilmu mengolah amarah dan berbicara yang baik, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu ilmu mengubah prioritas yang menjadikanmu harus mengutamakan keluarga.
Jangan terlalu risau kapan ia yang dijanjikan Allah akan datang, risaukan saja ilmu kehidupan yang sampai hari ini belum banyak kamu dapatkan.
Semangat memperbaiki dan menjadi baik, dariku yang juga masih belajar sampai akhir hayat.
@jndmmsyhd
Tentang Ayah
“Ada manusia yang paling aku peluk,
Tapi aku malu,
Tidak juga malu sebenarnya,
Hanya angkuh sebagai lelaki dewasa.” Kata Iksan skuter dalam lagu “Ayah” nya.
Ayah, wujud pengorbanan dalam tindakan, Cinta dalam diam, Kasih yang senyap tak terucap
“Laki-laki gaboleh gampang ngeluh” ucapmu dahulu ketika aku masih kecil. Yang dibuktikan dengan dirimu yang selalu ingin tampil gagah didepan anak lelakimu ini.
Ayah; sosok pengagum dalam sunyi.
Darimu aku tahu, ketiadaan ucap tak pernah mewakilkan rasa yang seolah selalu mendekap, sebab kata terlalu miskin untuk mewakilkan rasa.
Saat duniaku dilanda gemuruh, pun engkau seolah terlihat acuh, padahal aku tahu; diam-diam engkaulah yang paling gaduh bertanya “ada apa?” pada ibu.
Ayah, terkadang diam-mu dan egoku untuk mengajakmu berbicara membuat dadaku seolah terasa memar. Aku tahu, engkau rindu aku yang dulu, keadaan yang dulu, akupun. Di dalam diam-mu aku tahu, bahwa engkau telah cukup yakin bahwa anak lelakimu ini telah dewasa, telah mampu menentukan tujuan hidupnya sendiri.
Tapi perlu engkau ketahui, Yah, aku terkadang benci menjadi dewasa; menyadari bahwa di usiamu yang semakin senja, aku masih menjadi pribadi yang biasa-biasa saja.
Yah, perlu engkau ketahui, aku tak pernah benar-benar dewasa, tak pernah. Aku tetaplah anak-anak; yang butuh bahu ‘tuk bersandar, tangan yang membimbing, telinga untuk mendengar keluh, yang sering merindu tatkala jauh dari rumah.
Ayah,
Dirimu terhias pengorbanan dan kesabaran, dibalut dengan luka yang sukarela.
Lantunan do'a kusampaikan sebagai pengobat rindu.
Kehidupan: #Ujian
Dalam obrolan, kami membahas macam-macam. Rasanya nggak habis-habis kalau ngobrol. Mulai dari keluarga, karir, masa depan, rumahtangga, agama, dll.
Kalau sebelumnya hanya sekilas tau, atau sekadar membaca buku tentang rumahtangga. Ternyata setelah menikah, berada di dalam sirkel-sirkel rumahtangga in real life, permasalahan rumit itu sungguh nyata.
Selingkuh. Main belakang. Hutang bank. KDRT. Perebutan harta, kekuasaan. Korupsi. Durhaka. Dan masih banyak lagi.
Manusia selalu dihadapkan dengan ujian. Namun ujian yang paling berat seringkali yang diuji dengan anggota keluarganya (pasangan, anak, mertua, orang tua, saudara). Banyak-banyaklah berdoa, semoga ujian kita di luar itu, karena keluarga yang mestinya men-support di setiap masalah, eh malah jadi ujian.
Saat itu obrolan kami seputar masalah rumahtangga dan pekerjaan, yang berujung pada pembahasan agama.
"Sebenernya ya mas, kalau kita melakukan apapun diniatkan sebagai ibadah, rasanya lebih lapang meski banyak ujiannya."
"Iya bener. Gitu ternyata pentingnya belajar tauhid. Dampak positifnya bisa ke kehidupan sehari-hari. Cuma belajarnya butuh bertahun-tahun, biar bisa nancep."
"Jangankan kita, Rasulullah sebelum hijrah ke madinah, dakwahnya 13 tahun buat mantepin pondasi tauhid umatnya. Lah kita? Harus terus belajar sampe mati"
Belajar tauhid benar-benar penting. Kita bisa tersesat di dunia kalau nggak belajar agama. Hidup terasa begitu pelik kalau kita tidak kembali berserah diri pada Yang Kuasa.
Jangankan yang tidak ingin belajar agama. Banyak orang rajin ibadah, tapi masih melakukan maksiat-maksiat besar. Banyak orang berilmu, tapi tidak mengamalkan ilmunya yang tercermin dari sikap dan perilakunya. Bukan menghakimi, melainkan melihat realita yang ada, bahwa setiap masalah ujung-ujungnya selalu kembali pada konsep tauhid, yang nantinya menjadi pelajaran bagi diri kita sendiri.
Semoga kita senantiasa berkeinginan untuk berbenah, tunduk dan punya rasa takut pada Allah. Perbaiki hubungan dengan Allah adalah kunci. Selama kita menjaga ketaatan kita pada Allah, niscaya keluarga juga akan mengikuti.
Sebagian ulama berkata,
"Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku."
Berat ya tanggungjawab suami. Dia melakukan dosa aja bisa berdampak pada keluarganya. Ketika istri dan anak-anaknya melakukan dosa, suami juga dimintai pertanggungjawaban di akhirar. Sedangkan ketika suami melakukan dosa, istri tidak dimintai pertanggungjawaban.
Dari sini jadi kelihatan, pentingnya kita memilih suami yang seperti apa. Selalu ada pertanyaan, "Gimana kita bisa tau dia baik atau enggak? Sesuai atau enggak? Kalau nanti ngasih pertanyaan-pertanyaan sebelum nikah, gimana kalau dia jawabnya bohong? Gimana kalau yang ditampakkan selama ternyata tidak sesuai dengan aslinya?".
Kalau diluar kuasa kita, jawabannya adalah minta petunjuk sama Allah. Allah lebih tau tentang apa-apa yang tidak kita tau. Allah akan tunjukkan. Allah akan beri jawaban.
Semoga nantinya kita tidak salah dalam menentukan pilihan, yang akan berdampak pada seluruh urusan hidup kita.
Belajar ilmu agama adalah wajib bagi kita umat Islam, yang merupakan pedoman seumur hidup manusia. Karakter dan kebiasaan setiap orang memang tidak sama. Selama kita mampu memahami dan mengamalkan peran dalam kacamata agama, kita akan berusaha mengontrol kekurangan masing-masing.
Semoga sampai nanti, kita bisa melewati banyaknya ujian. Hingga akhirnya kita sampai pada tujuan utama yang kekal dalam kehidupan ini.
Buntok, 23 November 2021 | Pena Imaji
Menyimpan Sakit
Ada orang-orang yang raganya tenang, tapi pikiran dan hatinya sedang berkecamuk dan penuh dengan gemuruh, ia pandai menyembunyikan rasa dengan senyum dan tawa. Namun siapa yang tahu, saat malam datang ia menggelar sajadahnya hanya untuk bertemu dengan Tuhannya, menceritakan pilunya hari-hari yang ia jalani.
Benar, ia menyimpan semua sakit itu dengan begitu rapih, soal apa saja yang sudah ia perjuangkan dan perihal apa saja yang sudah ia korbankan. Ia tahu bahwa pikirannya boleh kalut, hati dan rasanya boleh remuk, tapi bukan berarti ia berhenti dan meratapi hidupnya.
Kamu tahu, selama ini ia hanya mengandalkan doa sebagai penenang dan penetral hatinya, ia menjadikan setiap tangisan yang keluar dari doa yang dilantunkan sebagai obat penyembuh luka hati. Luas dan lebar sekali dadanya, ia menerima semuanya jauh sebelum takdir itu jatuh padanya.
Sebab yang ia yakini bahwa sakit akan ada masanya sembuh, bagian yang terluka akan ada masanya ia kering dan kembali sempurna. Ia begitu dewasa dengan semua ujian yang berhasil diselesaikan.
Andai hari ini orang itu adalah kamu, maka berbahagialah. Karena Tuhan melihat semuanya dan pasti akan memberikan hadiah terindah untukmu di penghujung jalan kehidupan ini. Sabar, semua pasti akan terlewati.
Ambillah napas yang panjang, kemudian keluarkan bersamaan dengan masalah yang menyesakkan dadamu. Kamu hebat!
@jndmmsyhd
“Jujur, kehilangan itu akan mendewasakan meski rasanya pahit. Karena ia memaksamu untuk ikhlas dan segera bangun menjalani hidup tanpanya. Dan jika yang hilang itu adalah bagian dari keluarga, maka kamu seakan dipaksa terbang dengan satu sayap.”
—
Jangan pernah merendahkan seseorang yang pernah merasakan kehilangan, sebab kamu tidak tahu bagaimana ia berusaha bangun dan bersusah payah menghapus air mata. Ia berusaha berdamai dan mengajak jiwa juga hatinya untuk kembali hidup dan melangkahkan kaki, tidak mudah untuk terbang dengan sayap yang patah atau hilang.
Dan jika saat ini kamu merasakan jatuh karena kehilangan, entah ia pergi selamanya atau telah berpindah pada rumah yang baru dan meninggalkanmu seorang diri, percayalah bahwa itu bagian dari cara Tuhan mendewasakanmu. Mengukur seberapa sabar kamu menahan api yang terus menyala dalam hati dan berusaha kamu padamkan dengan air mata, Tuhan juga ingin agar kamu belajar menjadi lebih kuat untuk ujian yang nanti pasti akan datang silih berganti.
Sekeras-kerasnya ayah, ia akan menjadi sosok yang kuat untuk kita menghadapi kerasnya dunia. Dan selembut-lembutnya ibu, ia akan menjadi hal yang paling kita rindukan dan menjadi tempat pulang ketika kita membutuhkan kehangatan kasih sayang yang tulus. Keduanya menenangkan hati dan jiwa, menetralkan rasa yang berkecamuk karena dunia yang mengkhianati dari segala penjuru.
Ingatlah, ada saatnya nanti kita menjadi salah satu dari mereka, entah menjadi ayah atau menjadi ibu. Jadilah sebaik-baik figur dan tempat kembali untuk anak-anak nanti, sebab ia akan berhadapan dengan dunia yang keras sebagaimana hari ini kita menghadapinya.
Siapkan bekal, setidaknya agar kita menjadi tempat pulang dan rumah ternyaman untuk keturunan kita nanti.
@jndmmsyhd
Pernah ada yang merasa goyah saat ingin berbuat baik?
Apalagi di era serba beribu cara, serba mencari untung.
Hidup dengan tuntunan Islam sejatinya memudahkanmu bahkan orang lain.
#selfreminder
Ada hari dimana perasaan kita akan sangat begitu lapang menjalani hari-hari kita yang mungkin terasa berat bila dibandingkan hari-hari lalu. Namun, kita merasakan baik-baik saja sebab perasaan lapang yang kita rasakan saat menjalaninya. Perasaan ini tentu tidak bisa hadir tanpa adanya pengalaman kecewa yang pernah kita alami selama hidup. Dan poin yang utama adalah sebab pertolongan Allaah kepada diri kita yang begitu lemah ini.
Ada hari dimana kita tidak lagi merasakan sakit dan kecewa saat impian kita tidak terwujud. Sebab kita memahami bahwa segala sesuatunya adalah bagian dari takdir yang musti kita imani meski kurang mengenakan untuk diri kita. Namun kita tak lagi merasa kecewa, sebab kita memahami segala ketetapanNya adalah yang terbaik untuk kita sekalipun kita tidak memahami hikmah apa yang bisa kita ambil saat itu juga.
Inilah salah satu pertolongan Allaah. Menghadirkan perasaan ikhlas kedalam hati kita. Perasaan ini penting, agar kita tidak mudah untuk menyalahkan takdir. Atas apa-apa yang terlewat dari diri kita.
Ada hari dimana kita akan dibuat takjub, atas perasaan lapang ini. Sesuatu yang memang untuk kita akan menjadi milik kita pada akhirnya sekuat apapun kita melepaskannya.
Maka banyaklah bersyukur setelahnya wahai diri. sekecil apapun perasaan Ridha yang kamu rasakan adalah bagian dari kebaikan Allaah untukmu.
27/365 hari...
Assalamu'alaikum sahabat Sa.liha...
Maasyaallah, kita sudah berjumpa dengan bulan haram Rajab! Tanda sebentar lagi Ramadhan menjelang.
Di salah satu bulan istimewa ini, yuuuk banyakin aktivitas kebaikan, niatkan mencari ridho Allah ta'ala.
Kenapa bulan haram istimewa ya?
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 214)
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arf, 207)
(Sumber https://rumaysho.com/348-di-balik-bulan-rajab.html)
Mulai menerka rasa. Saatnya kembali melanjutkan prosa.
Januari, padamu terucap sayonara. Prologmu sangat menggoda. Selanjutnya, masih adakah dia dalam cerita di babak berikutnya?
Februari, semoga kamu tetap baik-baik saja.
@suniyahdewi
Jangan berputus asa. Jangan berputus asa. Ku mohon, jangan berputus asa. Aku tahu, ini berat untukmu. Aku tahu, ini tidak pernah mudah bagimu. Setiap hari kau menangis dan mengatakan ingin sekali berhenti dan menyerah saja. Ku mohon, jangan berputus asa dari rahmatNya sayang. Jangan.
Tenanglah, tolong tenangkan dirimu. Jika kau menyerah saat ini, lalu bagaimana dengan mimpimu? Bukankah sebelum hari ini kau pun pernah melalui hal yang lebih menyakitkan. Maka, untuk kesekian kali ini ku mohon bertahanlah. Baik-baiklah dan teruslah berupaya untuk memohon pertolonganNya. JanjiNya adalah pasti. Setelah kesulitan akan ada kemudahan. Dan sungguh, nanti kau akan sampai pada apa yang kamu doakan pada hari ini. Sesuatu yang sering kau tangisi dan seringkali kamu meminta untuk bisa melalui ini semua.
Jangan berputus asa, sayang. Tidak boleh berputus asa seorang muslim yang mengaku bertauhid kepadaNya. Sebab, segala sesuatu ini adalah bagian terbaik untuk dirimu.
Melembutlah, wahai hati yang baik. Hati yang selalu meminta kepada Allaah untuk dikuatkan. Semoga, lelah yang kamu lalui dengan penuh sabar mu, akan menghantarkanmu kepada JannahNya. Kuat-kuatlah selalu sayang..
Hujan di awal tahun ini || 16.17
Fleksibilitas Harapan
Benar, ternyata. Hidup jangan terlalu banyak dipikirkan, meskipun tetap semua butuh perencanaan. Kenapa? Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, kadang yang sudah direncanakan sedemikian rupa, akan dibenturkan pada banyak realita yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Fleksibilitas harapan nyatanya perlu, kita harus siap dan sedia dalam menghadapi "ketidaksesuaian" antara harapan dan realita, serta yang paling utama adalah kesediaan dan kesiapan untuk menyesuaikan pada perkembangan yang ada.
You got my points right?
Batasan Itu Bernama "Cukup"
Jika kamu mencari yang lebih cantik, maka kamu akan menemukannya. Begitu pula soal tampan, akan selalu ada yang lebih dari yang telah kau jumpa.
Jika kamu mencari yang lebih baik, kamu pun akan bertemu dengannya. Dunia yang dihuni oleh tujuh miliar jiwa akan membawamu bertemu dengan mereka.
Jika yang kau cari adalah yang lebih soleh atau sholehah, maka kau pun akan berjumpa. Semua hanya perihal waktu saja.
Jika yang menjadi tolok ukurmu adalah mereka yang lebih banyak harta, maka perjalanan singkat ini akan membawamu ke sana.
Selalu begitu.
Akan selalu ada yang lebih cantik, lebih tampan, lebih baik, lebih soleh, lebih sholehah, lebih kuat, lebih banyak harta dan sebagainya. Kita akan selalu bertemu dengan yang lebih. Tiada henti dan begitu seterusnya.
Hingga kita sadar bahwa batasan kita adalah rasa cukup. Hingga kita mengerti bahwa untuk mengendalikan semua keinginan-keinginan yang berlebihan itu, hanyalah dengan memenuhi ruang hati kita dengan perasaan yang bernama cukup.
Perasaan yang terbuat dari kesadaran diri. Sesuatu yang mengantarkan kita pada cara-cara untuk mengukur batasan yang kita punya. Agar kemudian kita tidak terlupa bahwa sudah terlalu banyak manusia yang menginginkan lebih. Namun mereka lupa tentang cara mengukur diri sendiri.
Bukankah perjalanan hidup ini akan lebih mendamaikan nurani? Saat kita merasa cukup pada semua hal yang telah kita miliki.
Sehingga kita pun tahu caranya menyederhanakan keinginan. Sehingga kita pun sadar bahwa keberkahan hidup adalah tentang rasa syukur atas semua hal yang telah diberikan Tuhan.
Dan untuk menggapai rasa syukur itu, tentu kita perlu menetapkan batasan yang diberi nama ...
CUKUP!
Source : @ulvafdillah
01:31 a.m || 08 November 2021
Hidup ini bergantung dari bagaimana kita memandangnya
Kalau kamu mandang hidup ini ribet, pasti bawaannya dimanapun kamu berada, kemanapun kamu pergi, selalu rasanya hidup itu sulit bagimu, merasa ada aja cobaan, lelah menjalaninya, sampai akhirnya mengeluh. Naudzubillah.
Sebaliknya, kalau kamu belajar memandang hidup ini sebagai karunia indah yang Allah titipkan padamu untuk memupuk kebaikan, hingga tiba pertemuanmu dengan Rabbmu kelak, dengan Rasulullah, dengan orang-orang salih, maka, kamu akan menjalani kehidupan ini dengan penuh kesyukuran, ketaatan, bersimpuh haru, bermunajat, khusyuk, sampai akhirnya hatimu tenang, dan akhirnya bahagia selalu (Insyaa Allah).
Pandanglah hidup ini sebagai sesuatu yang indah, serta sebagai suatu kebaikan yang Allah titip dengan baik untukmu, maka kamu akan menjalaninya dengan hati yang amat gembira.
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَـفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
"Katakanlah (Muhammad), Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus : 58)
—note to self
#8 — Kamu Tidak Sendirian
Untukmu yang merasa serba salah, kamu tidaklah sendirian.
Semakin dewasa, semakin diajarkan untuk banyak-banyak mengerti.
Tak semua yang diinginkan akan pasti terwujud. Tak semua yang dimengerti akan pasti dimengerti orang lain juga. Tak semua yang dirasakan akan pasti direspon sekitar kita. Pun, tak semua yang dianggap penting akan pasti dipentingkan diluar diri kita.
Itu semua hanya perlu kita validasi oleh diri sendiri. Mana yang dianggap benar, mana yang salah. Mana yang perlu diperjuangkan, mana yang tidak perlu lagi. Termasuk orang-orang yang bersarang dalam hidup.
Tak peduli seberapa lama orang itu bersamamu. Ini soal siapa yang bisa mengerti dengan saling. "Saling," satu kata yang memberi arti sebuah suka, duka, lara. Siapa yang pantas berada disisimu, siapa yang cukup sampai disini.
Sebelum terlambat. Sebelum salah itu mewujud jadi masalah. Sebelum sakit yang tak berdarah, kembali. Terlalu pemilih katanya tak baik, apakah saat terlalu terbuka akan berakhir baik?
Pada sikunya, semua terbentuk resiko. Tanpa tapi, tanpa terkecuali.
Teman? Sahabat? Musuh? Pasangan? Kiranya hanya sebuah sematan saja. Pembedanya, seberapa jauh kata "saling" itu menghangatkan kepercayaan bukan?
Sejauh mana interaksi terbentuk. Mengartikan tatapan sebagai sikap. Memberi makna senyum dan tawa sebagai ketulusan. Barulah, coba menjawab:
Apakah layak disebut sebutir kebahagiaan?
Jarak antara cinta dan benci katanya sangatlah dekat. Apakah saat memutuskan anggapan teman akan lantas selalu jadi teman? Bisa saja, besok jadi pasangan besoknya balik lagi ke awal. Sekedar perumpamaan, sederhana.
Tiap hal yang kita anggap akhir, ternyata sebuah awal dari lingkaran yang bersinggungan dengan resiko. Tak bisa sembunyi, tak bisa menghindar. Ya, kamu tidak sendirian. Masih bersedia menikmati bukan?
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifinn_