#44. Melawan Intuisi, Menerkam Diri
Bertambahnya usia, satu hal pembeda dari sebelum: tajamnya intuisi. Sebagian melawan kata hatinya atas dasar lebih rasional lantas memaksa keadaan. Ada juga yang memberi jeda, memilah dan memilih, apa yang perlu dilalui. Ego yang bersarang lebih dulu seringkali mengganggu arusnya. Apakah kita sudah belajar dari proses mendewasa?
Jika rumus menjadi dewasa adalah belajar dari pengalaman. Kenapa banyak dari kita masih terjerumus dalam lubang yang sama?
Tekanan demi tekanan, syarat dari perjalanan menjadi. Jadi dewasa, jadi sesuai usia. Apakah harus dengan label "lebih" dari hari kemarin?
Perjalanan melalui hidup dekat dengan makna: apa yang harus dipilih dan dilawan. Yang hadir lebih dulu justru ego dari kebutuhan untuk menentukan itu. Bukan berarti mengiyakan kata "harus" apalagi ditambah "lebih" yang kadang kala jadi buat kita memaksa yang belum saatnya.
Tidak sabaran ingin segera melompat atau berjalan dengan hati-hati. Tidak ada rumus pasti tentang mana yang lebih baik. Satu hal yang perlu diingat, kita punya alarm sekali lagi alarm yang sebetulnya diciptakan Allah untuk belajar lebih sadar.
Sadari, segala momen yang terjadi saat ini. Tentu saja, tiada yang kebetulan. Hari ini adalah akibat dari sebab yang dipilih. Lekas memilih atau melawan? Balik ke makna apa yang ingin dibangun.
Intuisi tercipta untuk belajar jadi manusia. Sadar kalanya ngerem dan ngegas. Tidak terperosok ke jejak tanpa paham batasan. Yang terjadi hari ini tidak lepas dari ujianNya, juga tidak lepas dari pilihan kita hari-hari sebelumnya. Ada juga sebab doa yang terkabul, kini lupa total. Tiada kebetulan sama sekali.
Apakah kenyataan hari ini akan membawa kita pada harap menyatu takdir ujungnya? Jejak syukur akan mendorong lebih jauh tentang makna yang layak didapatkan. Tidak berarti tidak syukur karena terlalu meminta lebih boleh jadi sesederhana: sudahkah kita mulai belajar menikmatinya, sejenak?
Tanpa terlalu banyak tanya bertabur protes atau keluhan yang kadang buat prosesnya jadi terlalu emosional. Ego jelas akan menguasai itu, jejak emosi sebab diri yang maunya gini dan begitu. Yang lebih dulu belajar akan memilih bangkit terus saat jatuh berkali-kali hingga diri menjadi siap dengan sadar.
Putus asa bukanlah logika dalam hidup. Apakah terdengar rasional? Belum tentu, boleh jadi karena jejak emosi yang sudah hancur berkali-kali. Terdengar emosional jadinya?
Artinya, logika dan rasa perlu dilumat dalam-dalam. Semuanya, hingga... tidak lagi, gentar dengan rasa takut atau terlalu percaya diri dengan ego yang tidak kenal salah. Pengalaman tidak juga dengan "harus" atau "lebih" dari yang semestinya.
Mendewasa akan mengajarkan rasa adil pada peran hidup yang dijalani dengan rasa lapang hati. Tidak perlu tergesa akan proses yang masih bersama sabar atau terlampau hati-hati sampai menggenggam takut terlalu banyak.
Kita hanya perlu belajar berjalan hingga bisa berlari, jika beruntung menemukan titik yang diharapkan. Lebih sadar tidak menjamin akan lebih hebat setidaknya menjadi lebih manusiawi. Intuisi, berkah pengalaman yang perlu dirawat dengan penuh dan utuh.
Apakah sudah menyadari atau baru saja diterkam oleh ego sendiri?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin










