mati di pelukan realita.
Mobil membawaku melewati pemukiman. Tempat dimana aku dibesarkan. Mobil membantuku pergi. Entah untuk mencari damai, entah melarikan diri. Kota ini, tempat ini, setiap sudutnya memiliki ‘aroma dia’. Dengan perih di dada dan saran dari orang yang aku percaya, aku memutuskan pergi, meninggalkan tempat dimana aku dan dia mengeja ‘kami’ di dasar ingatan.
Mobil melaju meninggalkan kawasan itu. Jalan raya membentang seperti garis takdir yang tak bisa ditawar. Aku masih menatap jendela samping, membiarkan bayangan pepohonan berlari mundur. Lampu-lampu kota memudar perlahan, seperti keyakinan yang pelan-pelan kehilangan terang.
Kepalaku menciptakan lamunan yang tak berkesudahan. Entah lamunan, entah pengadilan panjang atas hidupku sendiri. Beberapa tahun terakhir hadir seperti arsip yang dibuka paksa. Setiap halaman berisi teori yang dulu kupercaya dengan khusyuk, lalu kugenggam seperti kebenaran final.
Aku pernah percaya pada narasi kerja keras. Bahwa siapa pun yang tekun akan naik, siapa pun yang jujur akan dihargai. Kapitalisme menjanjikan mobilitas; sistem menjanjikan kesempatan; pendidikan menjanjikan tangga. Aku menapakinya satu per satu. Menjadi guru di sekolah elit kawasan borjuis. Membangun usaha sablon dan snack dari nol. Mengorbankan waktu, tenaga, bahkan tidur. Karierku meloncat signifikan. Aku menjadi contoh yang sering dipuji.
Namun diam-diam aku menyadari, pasar tak pernah benar-benar netral. Ia memilih siapa yang punya modal awal, siapa yang punya jaringan, siapa yang lahir di keluarga dengan nama yang telah selesai diperjuangkan generasi sebelumnya. Aku hanya pemain kecil yang kebetulan sedang naik daun. Sistem memujiku selama aku produktif, tetapi tak pernah benar-benar memberiku tempat. Dalam logika kapital, nilai manusia diukur dari daya guna. Ketika guna itu tak lagi menguntungkan, ia mudah tergeser.
Aku membaca teori-teori kiri yang berbicara tentang alienasi. Tentang manusia yang terpisah dari makna kerjanya sendiri. Tentang kelas yang secara halus dipertahankan agar tetap berjarak. Awalnya kupikir itu berlebihan. Tetapi ketika cinta yang kupeluk harus kandas karena aku tak masuk daftar keluarga yang “layak”, aku mulai melihat bahwa kelas bukan sekadar istilah di buku. Ia nyata, ia bekerja, ia menentukan siapa boleh duduk di meja perjamuan dan siapa hanya cukup berdiri di luar pagar.
Di sisi lain, aku juga dibesarkan oleh syariat. Diajarkan bahwa hidup memiliki rambu yang jelas. Bahwa halal dan haram adalah pagar keselamatan. Bahwa jika ibadah dijaga, maka jalan akan dilapangkan. Aku menjaga salatku, memperpanjang sujudku, memelihara puasa, berhati-hati dalam relasi. Aku menunggu cinta dengan cara yang kupikir paling terhormat. Tidak menyentuh yang bukan hak, tidak melampaui batas.
Tetapi kenyataan tidak selalu tunduk pada rumus ketaatan. Cinta tetap pergi. Rencana tetap runtuh. Doa tetap tak terjawab dalam bentuk yang kuinginkan. Di titik itu, pertanyaanku tak lagi sederhana. Apakah syariat adalah jalan menuju ketenangan, atau sekadar kerangka yang tak menjamin hasil? Apakah takdir adalah ketentuan mutlak, atau justru bahasa halus untuk menerima struktur yang tak bisa kulawan?
Pada tahun-tahun yang telah berlalu, nama ‘dia’ adalah yang paling sering kupanjatkan pada langit sepertiga malam. Namanya kusebut dalam sujud panjang, dalam dzikir yang lirih, bahkan pada tempat dan waktu yang paling mustajab di dunia ini. Namanya juga yang paling sering kuceritakan kepada teman sepantaran, kepada tukang jajanan pinggir jalan favorit, kepada keluargaku. Ia menjadi sumber kisah kasih dalam tulisanku, pusat dari hampir semua metafora tentang masa depan.
Pada tahun-tahun itu, segala keputusan hidupku selalu mempertimbangkannya. Kuliah, bekerja, bahkan memilih baju terasa seperti sedang menyusun adegan menuju satu akhir bahagia. Aku ingin hidup seribu tahun lagi dengan bayang-bayang rencana yang telah kami rajut. Aku ingin mempersuntingnya. Banyak sekali rencana yang kami rancang. Entah itu rencana sungguhan, entah sekadar andai-andai yang terlalu indah untuk dicurigai.
Energi hidupku sebesar itu. Senyumku semanis itu. Aku merasa terbang di atas awan. Dunia seolah sedang berpihak.
Namun ternyata, cinta tidak hanya berhadapan dengan perasaan. Ia berhadapan dengan silsilah, dengan reputasi keluarga, dengan standar sosial yang tak pernah ditulis tetapi selalu ditaati. Hidupnya telah terpatri dalam rancangan keluarganya. Dan aku tidak termasuk di dalamnya.
Kisah itu usai tiga tahun lalu. Hampir sewindu kami berjalan, dan akhirnya kalimat itu tak lagi memiliki koma untuk jeda. Ia memilih titik yang tegas, menyudahi.
Di sanalah semua teori bertubrukan. Kapitalisme yang menjanjikan mobilitas tak mampu menembus tembok kelas dalam urusan pernikahan. Prinsip-prinsip kiri tentang kesetaraan terasa gagah di wacana, tetapi tak serta-merta membongkar tradisi keluarga yang telah mengakar. Syariat yang kujaga tak otomatis menghadiahkanku cinta yang kupinta.
Aku mulai menyadari bahwa mungkin tak ada satu teori pun yang utuh. Kapitalisme menjanjikan peluang, tetapi melahirkan hierarki baru. Prinsip kiri menjanjikan keadilan kolektif, tetapi sering berakhir sebagai perdebatan panjang tanpa perubahan personal. Agama menjanjikan makna, tetapi tidak selalu memberikan hasil sesuai ekspektasi manusia.
Barangkali kekecewaanku lahir bukan karena teori-teori itu salah sepenuhnya. Mungkin aku yang terlalu menginginkan kepastian dari sesuatu yang memang tidak dirancang untuk menjamin kebahagiaan individu. Sistem ekonomi bekerja dengan logika akumulasi, bukan cinta. Struktur sosial bekerja dengan logika warisan, bukan perasaan. Syariat bekerja dengan logika kepatuhan, bukan negosiasi hasrat.
Dan cinta, ternyata bekerja dengan logika yang lebih sunyi. Ia bisa tulus, bisa saling menyayangi, tetapi tetap kalah oleh dunia yang lebih besar dari dua hati.
Aku tahu kami saling menyayangi. Namun dunia selalu saja menjadi pemeran paling antagonis di cerita kami.
Kini, di dalam mobil yang terus melaju ini, aku tidak lagi sekadar marah pada sistem, pada keluarga, pada takdir. Tetapi benarkah aku sudah tidak marah? Atau kemarahanku hanya berubah bentuk menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sopan, lebih sunyi, lebih berbahaya?
Apakah benar hidup memang tidak dibangun untuk memuaskan seluruh teori yang kita yakini? Ataukah teori-teori itu sejak awal memang tak pernah ditujukan untuk menyelamatkan satu orang yang patah hati sepertiku? Jika sistem ekonomi memuja kerja keras, mengapa kerja keras tak cukup menembus dinding kelas? Jika prinsip kesetaraan diteriakkan di ruang-ruang diskusi, mengapa meja makan keluarga tetap menyisakan kursi kosong untuk orang sepertiku? Jika syariat adalah jalan terang, mengapa aku masih berjalan dalam gelap meski telah menjaga langkah?
Aku mulai curiga pada kalimat-kalimat yang terlalu mudah diterima. Bahwa semua ini adalah takdir. Bahwa mungkin Tuhan sedang menyiapkan yang lebih baik. Bahwa cinta yang gagal adalah tanda cinta itu tidak layak diperjuangkan. Benarkah demikian? Ataukah kalimat-kalimat itu hanya perban agar luka tak terlihat terlalu menganga?
Hidup bergerak di antara struktur, iman, kelas, dan cinta. Tetapi siapa yang menentukan arah geraknya? Apakah aku benar-benar bebas memilih, atau sejak awal aku hanya berjalan di rel yang telah dipasang jauh sebelum aku lahir? Jika aku taat, tetapi tetap kalah, apakah itu ujian, atau sekadar konsekuensi dari struktur sosial yang tak berpihak? Jika aku mencintai dengan cara yang benar, tetapi tetap ditinggalkan, apakah itu kurangnya doa, atau lebih kepada kuatnya tembok keluarga?
Mungkin pengembaraanku bukan bentuk pelarian. Atau mungkin justru pelarian yang kubungkus dengan nama pencarian. Aku sendiri belum yakin. Apakah aku sedang membongkar ulang keyakinan, atau sekadar mencoba mencari pembenaran atas kecewa yang tak tertanggungkan?
Aku tidak ingin menolak syariat. Tetapi aku ingin bertanya, apakah aku selama ini memahami syariat sebagai jalan menuju Tuhan, atau sebagai transaksi diam-diam agar Tuhan mengabulkan keinginanku? Aku tidak ingin membenci sistem. Tetapi aku ingin tahu, sampai kapan aku harus berpura-pura bahwa sistem ini adil bagi semua. Aku tidak ingin mengutuk cinta. Namun bagaimana mungkin aku tidak mempertanyakan cinta yang begitu mudah dikalahkan oleh nama belakang dan status sosial?
Di antara semua itu, apa yang sebenarnya harus kujaga? Harga diriku? Imanku? Logikaku? Atau sisa-sisa kelembutan yang belum ikut hancur?
Mobil terus melaju. Dan di antara deru mesin dan cahaya lampu jalan yang berkelebat, aku menyadari satu hal yang belum juga terjawab: apakah menjadi manusia berarti siap untuk terus mempertanyakan, bahkan terhadap hal-hal yang dulu kita anggap paling suci?
Jika demikian, maka mungkin inilah awal perjalananku yang sebenarnya. Bukan untuk menemukan jawaban yang pasti, tetapi untuk berani hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi kutakuti.









