Tulisan Tentang Foto-Foto Gaza dan Empati
Siapa sih yang gak tau serangan Israel ke Palestina awal Juli 2014 ini? Pasti dong akun jejaring sosial dunia maya semacam Twitter, Facebook, Path, bahkan sampai Instagram kalian penuh dengan postingan-postingan serangan Israel ke Palestina? Mulai dari sekedar status, tulisan, artikel terpercaya, bahkan sampai dengan foto-foto yang menurut saya tidak layak untuk ditayangkan.
Kenapa foto tidak layak ditayangkan? Itu adalah foto-foto jenazah korban di Gaza. Mulai dari jazad yang lukanya ringan, berlumuran darah, hingga jazad yang hancur berantakan. Mulai dari anak-anak, wanita, hingga para lelaki. Memang kenapa kalau jenazahnya demikian, kok gak boleh tayang? Karena gak pake sensor.
Lantas, kenapa sih kalo gak disensor? Karena, menurutku, banyak orang yang tidak bisa melihat foto-foto 'vulgar' seperti itu. Ada yang tidak tahan melihat darah, bahkan ada yang tidak bisa melihat jenazah. Mungkin saja kan ada salah satu dari mereka yang fobia? Anggaplah ini sesuatu yang lebay, mereka fobia terhadap konten-konten yang ditayangkan dalam foto tersebut. Selain itu, foto-foto yang demikian dapat menggugah berbagai emosi, bisa enosi positif atau pun emosi negatif. Syukur-syukur kalau emosi positif yang muncul, coba kalau emosi negatif?
Lalu, kenapa sih foto-foto bisa menggugah emosi? Okay, dalam kepala manusia ada suatu neuron yang disebut mirror neuron. Mirror neuron adalah neuron yang terdapat di dalam premotor cortex seseorang yang berfungsi untuk 'mencerminkan' orang lain. Simple-nya sih gini, kalau kalian lagi ada di taman, lalu di depan kalian ada anak yang jatuh, secara gak sadar kalian akan bereaksi seolah-olah kalian ikutan jatuh seperti anak itu, minimal sih kalian akan mengernyit seolah-olah merasakan sakit. Atau nih, kita kadang suka kepingin dan ikut senyum kan kalo ada orang lain senyum? Bahkan kalau lihat foto orang yang senyum atau cengar-cengir, kita juga kadang suka ngikutin senyum kan? Nah, itu karena mirror neuron kita bekerja. Konon katanya mirror neuron ini memungkinkan kita untuk 'mengkodekan' (menerima atau pun menginterpretasi) ekspresi-ekspresi wajah.Ketika kita melihat ekspresi wajah orang lain ataupun ketika kita berekspresi secara langsung (misalnya ketika merasa jijik atau merasa bersedih), neuron yang aktifnya ya mirror neuron system ini. Maka dari itu, mirror neuron system ini memiliki peran yang penting bagi kita untuk berempati dan bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungan. Kita berkomunikasi kan dengan yang namanya emosi melewati ekspresi wajah? Pasti dong.
Nah, coba deh bayangin ya dengan beredarnya foto-foto korban Palestina (yang mungkin sudah kalian edarkan juga) yang kontennya berisi jenazah gak disensor itu, darah dimana-mana, kadang lukanya gak wajar, atau saya pernah lihat jenazah cuma kepalanya saja dan entah badannya dimana. Bisa bayangin dong gimana mirror neuron seseorang bekerja? Ada orang yang merasa jijik atau ngilu karena ia melihat foto yang vulgar gak disensor, itu bisa jadi ia ngerasa ngilu karena ia mempersepsikan dan merasa seolah-olah ia juga turut serta menjadi korban juga. Lah, kalau lihat foto orang yang seyum aja kita kadang suka ikut tersenyum, apalagi kalau lihat foto-foto korban Palestina itu? *jawab deh sendiri*. So, stop lah sharing foto macem begituan. Kasihan yang lihatnya, dan saya pikir kasihan yang jadi korbannya. Menurut saya sih semacam eksploitasi jenazah-jenazah itu juga. Gak pantes lah di-sharing.
Terus, kalao gak di-share, orang-orang gak akan tau dong? Orang-orang kan mesti tau kekejamannya Israel ke Palestina. Iya, bener sih orang-orang mesti tau, cuma masalahnya adalah sharing yang lain dong, beritanya kek, atau kalau mau bentuknya visual, ya posting aja kehancuran kotanya, kalau ada jenazahnya (apalagi yang anonoh tanpa sensor itu) ya tolong dong disensor. Secara logika nih ya, bagi orang yang berpikir, kalau pun ada tampilan foto luluh lantahnya kota yang banyak penduduknya akibat serangan bom dan roket, pasti lah banyak korban berjatuhan. So, tolonglah jangan sharing foto-foto jenazah tanpa sensor. Ini berlaku untuk foto lainnya loh ya, bukan hanya Gaza aja. Oh iya, ini subjektif sih ya, tapi menurut saya, kalau orang yang empatinya bagus sih ya, tanpa perlu dia liat foto-foto gak kesensor gitu juga udah kesentuh hatinya, gak usah lah dia liat foto kayak gituan dulu baru dia akan berempati, IMHO loh.
Btw, terimakasih bagi yang sudah mau membaca. Semoga bermanfaat :)