2017 sebentar lagi berakhir, waktunya recap!!!
Sebenarnya ini adalah recap pertama yang ku tulis online. Setiap tahunnya, ku usahakan me-recap, hmm… lebih tepatnya mencatat apa saja yang menarik setiap bulannya. Sudah, kalau tidak salah, tiga tahun ini ku lakukan. Rasanya, setiap akhir tahun aku menjadi lebih bersyukur sudah melewati banyak hal yang menarik dan kadang ada beberapa hal yang terlewatkan dari rencana di setiap awal tahun. Jadi, ini bisa jadi catatan pengingat di tahun berikutnya.
Hari ini, 2017 tinggal sehari, rasanya tepat untuk menyimpan hal-hal baik di 2017 dan menceritakannya pada kalian.
Awal Januari aku melewatkan waktu bersama Po. Beberapa tempat kami kunjungi, agak random sih karena tempat-tempat yang kami tuju mendadak ditentukan saat sampai di Surabaya. Museum House of Sampurna, Depo Kereta Api Sidotopo, Hutan Mangrove Surabaya dan Toko Es Krim Zangrandi. Sayangnya di Depo Kereta Api kami diusir penjaganya, katanya sih nggak boleh foto-foto. Mungkin karena terlalu banyak anak alay (macam saya dong??!) yang foto-foto di daerah itu.
Akhir Januari, aku dan beberapa teman kantor mengunjungi makan Tan Malaka di Kediri. Menariknya, kami berbincang dengan seorang nenek salah satu penduduk di sekitar makam. Katanya, makam itu akan dipindah, dan dikiranya kamilah yang akan memindah makam tersebut. Setelah beberapa menit mengobrol kami dapat cerita, bahwa Tan sempat “disembunyikan” oleh salah satu pengurus masjid di kampong itu. Tengah malam, Tan dijemput oleh tiga orang dari rumah kyai tersebut. Pagi harinya, hanya dua orang yang kembali, tanpa ada cerita atau keterangan kemana “yang satunya”-yakni Tan. Dan hingga makam itu ditemukan tidak ada yang tahu kemana Tan dan apa yang terjadi padanya. Melihat lokasi makam, yang ada di tengah persawahan dengan akses jalan yang tidak bisa dibilang mudah, aku membayangkan ketika dia dieksekusi. Pasti sangat senyap, “apa yang Tan pikirkan terakhir kali” pikirku kemudian. Yaah…., apaun yang telah Tan lewati, suaranya akan selalu terdengar.
Diberi mandat (pertama kali) menjadi ketua panitia sebuah acara diskusi di Kantor. Ahahahhaa. Lumayaaan nano-nano rasanya. Tetapi yang paling membuat bersyukur adalah banyak sekali pihak yang mau membantu.
Gig pertama di Malang adalah Payung Teduh.
Berangkat-pulang aku dan seorang teman kantor menerjang hujan badai yang luar biasa. Ahahahha, tapi terbayarkan dengan kesempatan ke backstage untuk minta foto-foto dengan personilnya. Yo, walau muka udah becek.
Terus, sekarang dengar Payung Teduh ditinggal 2 personilnya agak-agak gimana sih, ya... Hampir mirip rasanya dengan dengar bubarnya Banda Neira. Hiks.
Bulan April agak padat merayap acaranya. Ada beberapa tempat yang kukunjungi; Kendari dan Banjarmasin.
Aku mengikuti International Conference di Kendari. Tidak banyak tempat yang kukunjungi untuk piknik di sana. Selain karena jadwal yang mayan, kendala transportasi utamanya. Untungnya ada seorang teman yang mengenalkan kenalannya ke aku, jadi lumayan bisa ke Lapangan Eks MTQ yang ada Tugu Persatuan dan pameran produk dari daerah-daerah di Sulawesi Tenggara. Di sana bisa beli kain dari berbagai daerah seperti Bau-Bau, Buton, dan lupa! Ahahaha. Aku juga sempat cicipi kopi khas sana. Hari terakhir di Kendari aku ikut trip ke Pulau Bokori. Satu kata untuk pulau ini: cantik.
Kendari mengajarkan aku banyak hal; lebih peduli dan bersyukur (tidak semua tempat seperti Jawa), lebih bersabar (penerbangan tergantung cuaca, saat itu delay hampir 4 jam, dengan kondisi bandara yang lebih mirip dengan ruang tunggu di kantor kecamatan di tempatku: sepi), lebih berani (melakukan apapun sendiri).
Setelah beberapa hari pulang dari Kandari, aku pergi ke Banjarmasin. Lagi-lagi delay karena cuaca. Tapi nggak terlalu lama, sekitar sejam. Sampai di bandara aku dijemput Po dan di ajak makan. Ternyata di café tempat makan kita, dia sudah menyiapkan kejutan pelamaran. Dia melamarku dihadapan teman-temannya. Bagaimana perasaanku, kamu tanya? Nano-nano, campur aduk. Bahagia, kaget, terharu, bangga, lega, semuanya. Sebelumnya, aku tidak terlalu memikirkan pernikahan. Menurutku, menikah menuntut banyak hal yang belum tentu ku mampu. Tapi entah kenapa, setelah Po berlutut di depanku dan memakaikan cincin di jariku, pernikahan, dalam benakku, jadi hal yang menyenangkan. Setelah acara surprise itu, rasanya tidak ada yang lebih menarik yang kulewati di Banjarmasin.
Akhir April yang manis ditutup dengan Dialog Dini Hari yang tampil di Malang. Literally, mereka tampil dini hari & hampir subuh aku pulang.
Aku agak lupa apa yang ku lakukan di bulan Mei. Kalau tidak salah, diskusi bulananyang aku inisiasi bulan februari agak bermasalah di bulan ini. Pelajaran dari peristiwa ini: jangan terlalu percaya sama orang lain.
Setelah lebaran, orang tua Po kerumah. Mereka meminta aku untuk jadi istri Po, secara resmi.
Itu saja ceritanya. itu yang paling menarik.
Juli aku ke Jogja, kembali ke kampus sebagai tamu. Ya, sebagai tamu, sebagai perwakilan dari kantor untuk Konggres di kampus lama. Ehehhe, ada rasa senang ke bali ke kota ini. Konggresnya dijadwalkan 3 hari, tapi aku hanya ikut sepotong-potong, waktu yang lain aku habiskan untuk jalan-jalan dan mengingat romantisme masa lalu.
Kantor masih libur. Po sempat ke Malang. Kami memutuskan untuk ke Pantai Goa Cina. Dengan mengandalkan GPS kami ditunjukkan jalan yang salah. Tidak ada jalur beraspal, tidak ketemu pengguna jalan selama perjalanan, dan tidak ada manusia kare full semuannya hutan. Agak kampret. Sampai di jalan yang beraspal, ternayata Pantai terdekat bukan Pantai Goa Cina, tapi Pantai Ungapan. Jadi, kami mampir sebentar untuk membayar lelah. Ada sebuah bukit di Pantai itu (aku lupa namanya).
Setelah jalan-jalan dengan Po, beberapa hari berikutnya aku ikut diklat. Ngantuuuuk banget selama diklat. Satu hal yang aku ingat dari diklat itu: kalua lulus ujian akhirnya, bakalan naik gaji. Ahahhahaha.
Buku kedua terbit. Ini sangat diluar ekspektasi. Aku tidak pernah membayangkan menulis buku secepat ini. Akhir 2016, memang aku sudah ambil bagian di penulisan buku pertama. Tapi karena keharusan, jadi rasanya tidak terlalu special. Nah, kalau buku kedua ini adalah buku hasil menang hibah. Jadi ide kami didanai oleh kantor sepenuhnya; pencetakan, review, layout, editing, dan kami masih dapat upah penulisan. Mayaaaan.
Selai buku ke dua, aku dan Po nonton Konser Line. Kebetulan Po ada acara kantor di Surabaya, dan kebetulan juga ada konser di sana. Langsung rayu-rayu…cus! Konsernya seru. Selain pengisi acaranya, konsepnya juga menarik. Cuma saya soundnya yang agak g enak. Pengisinya ada Isyana, Tulus, Glenn & Sheila. Ini jadi konser yang aku tunggu-tunggu karena terlalu lama nggak nonton konser atau acara music bareng Po. Entah kapan terakhir, 2012 sepertinya.
Po ultah bulan oktober. Ada perhitungan matematika keuangan yang menyebabkan aku nggak bisa menuruti kado yang dipengenin Po. Tapi aku bisa memberikan barang yang paling tidak bisa menggantikan keinginan Po & bisa ke Banjarmasin lagi.
4 November ponakanku lahir. Cewek, cantic dan kami semua menunggunya.
Po datang ke Malang. Kami menghabiskan waktu untuk mencari tas. Ahahahha. Iya, tas. Karena sebelum ultah aku sempat minta kado tas, eh dia nggak belikan. Sebenarnya aku nggak masalah, karena dia kasih yang lain yang lebih penting juga. Tapi ternyata dia nggak puas, dia tetep mau kasih tas. Alhasil, kami muterin Malang cari tas, dan nggak nemu.
Ohya, paling penting di bulan ini adalah bertemu Penguin. Po mau diajakin nonton penguin Humbolt yang baru datang di Eco Green Park, padahal awalnya dia ngajak ke Pantai (lagi? Iya.)
Paling seru dibagian ini adalah berhasil ketemu langsung, kasih makan dan elus penguin. Kok bisa? Kami memang ke sana cari momen feeding time, kata berita di tv local sih bisa kasih makan langsung. Makanya langsung atur jadwal. Setelah cari info kanan-kiri, ternyata feeding time hanya dua kali dalam sehari; jam 11.00 dan jam 16.00. kami memilih pagi hari, karena memang cuaca Malang masih tidak bisa diramalkan. Masuk area Eco Green Park kami tidak terlalu menikmati wahana-wahana yang ada, karena memang tujuan utamanya Pinguin. Jadi sebelum nemu pingun, kami tidak berhenti lama menikmati wahana yang kami lewati. Pas sampai sana juga sudah mepet, kami langsung mengikuti peta yang mengarahkan ke wahana Pinguin. Sampai di kandang penguin, ternyata masih sepi. Tidak ada penjaga atau pengunjung. Menunggu sekitar 20 menit ada seorang keeper masuk area pengunjung. Aku langsung tanya bagaimana cara kasih makan penguinnya. Ternyata tidak bisa sembarang orang bisa kasih makan hanya orang tertentu yang akan dipilih oleh keeper & bisa masuk kandang ketemu langsung burung lucu itu. Pas masuk waktu pemilihan, ternyata ada games-games yang nantinya pemenangnya akan dipilih kasih makan penguin. Aku? Ikut!
Pertama games nari Baby Shark, aku kalah sama bapak-bapak.
Kedua games lari balapan sama penguin berenang, yang menang anak kecil.
Ketiga, karena hari kemarinnya adalah hari ibu, jadi ibu-ibu dipilih untuk kasih makan.
Aku nggak dapet kesempatan? Dapet dong! Aku angkat tangan dan teriak, “saya mau! Saya! Saya calon ibu!” ahahahhaha. Mungkin si keeper melihat kegigihan saya berusaha kasi makan, jadi dia kasihan. Akhirnya dia perbolehkan aku masuk ketemu penguin. Ahaahahhaha.
Satu kata untuk 2017: seru!