Monterey Bay Aquarium
No title available
hello vonnie

Jar Jar Binks Fan Club
Doug Jones
Interview Vampire Daily
RMH
Xuebing Du
The Stonewall Inn
noise dept.

Andulka

Product Placement
No title available
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Keni

No title available
EXPECTATIONS
Lint Roller? I Barely Know Her
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Mike Driver

seen from Kazakhstan

seen from Vietnam

seen from United States

seen from Mexico

seen from United States

seen from Australia
seen from Honduras

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Vietnam
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
@siwiwidhiaw
Allah, aku tidak tahu jalanku ke depan akan seperti apa.
Lelaki seperti apa yang kelak akan membersamai.
Allah, aku sudah lelah menjadi diriku yang dulu, selalu berharap pada manusia yang sudah pasti menelan kecewa.
Terlalu cepat mungkin mengeluhkan perihal pasangan, meski sebenarnya teman-teman sudah banyak yang menikah.
Allah, aku tidak bermaksud mengeluh aku hanya ingin Kau tuntun agar hatiku dijatuhkan hanya pada yang kelak Engkau takdirkan.
Aku sudah terlalu muak dengan siklus hubungan pendekatan (baca: pacaran) rasanya waktukku terbuang dengan percuma dengan masalah yang tidak seharusnya aku ambil pusing.
Mendengar kabar di sana dia bersama yang lain, atau hal-hal lain yang sudah pasti membuatku kecewa.
Allah, maka kali ini ku mohon dekatkanlah aku hanya pada seseorang yang memang benar jodohku. Jatuhkanlah hatiku hanya pada satu hati saja yang memang menjadi hakku.
Aku tidak minta dipercepat maupun diperlambat, ku pasrahkan segala takdir baikku pada-Mu.
Aku hanya meminta satu, tolong jaga hatiku untuk tidak mencintai yang bukan jodohku, jatuhkan hatiku hanya pada dia saja yang berani mengucap akad di hadapan Ayahku :)
Aamiin.
Senja, 04/02/2017
Mendung, kamar dan secangkir kopi, 16 Desember 2019.
Kamu Bukan Manusia Super
Tidak ada yang memaksamu harus terus tampak baik-baik saja dan bahagia. Saat kau bersedih, ingin marah dan sedang tidak berminat pada apapun, silakan utarakan dan bahasakan lewat gerak tubuh, ucapan, pikiran, nada suara, ekspresi wajah, perilaku. Utarakan dengan jujur. Begitu juga ketika kamu merasa sedang bahagia, ingin berbagi kegembiraan, ingin memberikan sesuatu, ingin berteriak girang. Ekspresikan dengan tepat.
Manusia sudah sewajarnya sepanjang hidup akan menemui berbagai macam perjalanan rasa. Rasa sedih, patah hati, kecewa, tidak suka, benci, dan marah juga kebingungan adalah hal yang biasa. Juga dengan bahagia, gembira, senang, cinta dan kasih juga tenang.
Terkadang kita tak selalu dalam keadaan bahagia dan tenang. Kita bisa marah. Kita bisa membenci orang lain. Kita bisa mengecewakan dan dikecewakan orang. Kita juga bisa membahagiakan dan dibahagiakan orang.
Sekali lagi, tidak ada yang menuntutmu harus selalu baik-baik saja. Karena sewaktu-waktu kamu butuh perhatian lebih dari orang-orang terdekatmu. Dan sewaktu-waktu orang-orang terdekatmu juga ingin meluangkan kepeduliannya kepadamu.
Kamu hanya butuh jadi manusia biasa. Sebab jatuh bangun itu hanyalah bagian dari perjalanan hidup yang semua orang mengalaminya. Bahkan superman sekalipun.
Jadi, jangan sungkan katakan sakit. Jangan sungkan katakan tidak suka. Jangan sungkan katakan benci. Jangan sungkan katakan bahagia. Jangan sungkan katakan terima kasih. Jangan sungkan katakan butuh bantuan. Jangan sungkan katakan marah. Jangan sungkan katakan maaf.
Dan jangan malu jika pada kenyataannya kamu sedang tidak baik-baik saja dan butuh perhatian.
@sunyiberdialog
Jangan sungkan bercerita.
Hanya ingin melupakan semuanya
Pada suatu pagi, pernahkah kamu merasa begitu malas untuk beranjak dari tempat tidurmu? Kamu berharap bisa tertidur lebih lama lagi. Bukan karena waktu istirahatmu kurang, tetapi karena dengan terlelap kamu bisa melupakan semua hal yang sudah terjadi.
Terbangun dari tidur, kamu harus menghadapi kenyataan yang masih begitu takut untuk kamu bayangkan. Kamu masih merasa tidak percaya jika pengalaman pahit ini akan menimpamu. Kamu masih berusaha untuk mengelaknya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Bersama rasa benci, kamu tetap harus terbangun membuka kedua matamu, melihat setiap inci kenyataan yang mesti kamu hadapi. Berkali-kali kamu ingin sekali membenturkan kepalamu, menertibkan semua kegaduhan yang semakin terasa memekak di telingamu.
Hingga kamu merasa sudah tidak mampu lagi mengendalikan rasa marahmu untuk memintanya berhenti meronta-ronta seakan ia ingin menghancurkan siapa saja yang ada di hadapannya. Bahkan rasanya ingin sekali untuk menghantam dirimu sendiri dengan pukulan yang sangat keras.
Tetapi kamu tetap tidak bisa melakukannya. Kamu hanya bisa menangis, sambil bertanya-tanya kenapa semua ini harus terjadi kepadamu. Kamu tidak peduli dengan pelajaran apa yang bisa kamu dapat dengan kejadian ini. Kamu hanya ingin kenyataan ini tidak menimpamu.
Kamu hanya ingin kembali tertidur untuk melupakan semuanya. Mengembalikan semua kenyataan saat keadaanmu masih baik-baik saja.
—ibnufir
Memaknai Perjalanan
Terkadang kita lupa bagaimana perihnya perjuangan dan pengorbanan dalam mencapai sebuah titik, sampai kita dihadapkan lagi pada titik permasalahan lainnya.
Dari sini kita belajar, bahwa dalam setiap fase, kita takkan lepas dari berbagai persoalan; bagaimana menghadapi keadaan; bagaimana kita melanjutkan langkah; berani mengambil keputusan dan komitmen atas jalan yang kita pilih.
Kita tahu, bahwa jalan yang kita lalui nanti tidak selamanya mulus tanpa hambatan. Beberapa dari kita mungkin akan kaget, sebab ada banyak masalah baru yang tak terduga sebelumnya.
Namun, ada beberapa hal penting yang senantiasa kita pegang, yakni bagaimana kita tetap positif dalam menghadapi lika-liku kehidupan, menjadikan semangat juang kita tak pudar karena hantaman, menyemai keikhlasan dan syukur kita terhadap apa-apa yang digariskan oleh Tuhan.
Sidooarjo, 28 Desember 2019 | Pena Imaji
Sujud
Saya telah mendengarnya semenjak lama, bahwa ketika kita ingin bicara pada Allah maka sholatlah dan jika ingin Allah bicara pada kita, maka bacalah Al qur'an.
Saya telah mendengar pengetahuan itu semenjak lama, tapi sejujurnya saya belum benar-benar memahami cara 'bicara' yang benar kepada Allah saat sedang sholat. Dalam pemahaman saya yang dangkal, bacaan sholat itu sudah ditetapkan, rukunnya juga syaratnya. Saya bertanya-tanya pada diri sendiri (yah salah sendiri kenapa ga nanya sama yg paham, hhe) sehingga jika memiliki hajat atau keinginan atau keluhan atau sekedar ingin menyampaikan "yaa Allah tadi jariku sakit gara-gara kulit disamping kukunya ku tarik" atau hal lain yang ringan sampai yang berat (menurutku), semuanya saya sampaikan selepas mendirikan sholat, pada saat tangan terangkat menguntai do'a.
Ah... Tapi adakalanya berdo'a menceritakan hal-hal kecil itu membutuhkan waktu lebih panjang, sedangkan urusan-urusan lain menunggu diselesaikan. Jadi saya bertanya meminta jawaban tentang bagaimana cara terbaik bicara denganNya saat sholat.
Alhamdulillah nemu video ust. Adi Hidayat tentang itu dan jawabannya adalah pada saat sujud. Masyaallah, saya jadi mengerti lebih dalam tentang istilah "memperpanjang sujud". Jadi disitu kuncinya. Dan semenjak mempraktekan hal itu, saya semakin merasa nyaman dan senang melakukan sujud. Sebab setelah membacakan do'a sujud, saya bisa berlama-lama menyampaikan harap, bicara pada Allah.
Fakta lainnya, kepala saya juga terasa lebih... Apa ya istilahnya, segar? Ya gitulah lebih nyaman. Karena kan gerakan sujud itu membuat darah mengalir ke kepala. Oksigennya terpenuhi. Jadi tidak mudah merasa pusing.
Jadi, sujudlah lama-lama, dan perbanyaklah sujud.
Jadi teringat kisah Rosulullah dan salah seorang sahabatnya. Ketika itu sahabat meminta kepada Rosulullah "yaa Rosulullah, aku ingin bersamamu di syurga." kemudian Nabi Allah yang lembut sekali hatinya itu berkata "iya, tentu saja kita akan bersama disyurga. Tapi maukah engkau membantuku meminta kepada Allah?" "tentu yaa Rosulullah, apa yang harus aku lakukan?" Rosulullah kemudian bilang lagi "bantulah aku dengan cara memperbanyak sujud".
Sweet ya Rosulullah itu,. 💕 jadi makin rindu.
Kisah itu membuat saya punya dua ibroh untuk diri sendiri. Pertama, betapa cinta Nabi Muhammad kepada ummatnya dan betapa dia juga ingin agar kita bersamanya disyurga. Sekaligus Kedua, meskipun Beliau seorang Nabi Allah yang do'anya diijabah, beliau menanamkan sikap "you too, have to make an effort, to be with me." artinya siapapun yg mau bersama nabi di syurga, juga harus berusaha. Karena kemanisan buah dari pencapaian itu sunnatullahnya harus dengan usaha / ikhtiar.
Demikian,. Wallahualam.
20/11/2019
“Buruk Sangka.”
—
Kenapa selalu ada orang yang berpikiran negatif ke kita? Mereka menafsirkan ini-itu dengan cara yang buruk dan cenderung prejudis. menghakimi seseorang sebelum ia kenal jauh. Hanya dari sebaris dua baris pesan, tapi penghakimannya sudah seperti tahu isi kepala lawan bicara. Baru lihat dari penampilan, tapi sudah menuduh dengan kejelekan.
Kenapa kita tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan penilaian kepada orang lain? Biarkan orang lain dengan apa yang ada di diri mereka. Mau celananya bolong, jilbabnya mencong, kepalanya botak, kulitnya gelap, makannya di warteg, motornya butut, hapenya banyak tambalan, cara bicaranya ceplas-ceplos, pendiam, to the point, suka berguyon, kalau bales pesan lama, bla bla. Kita diciptakan berbeda-beda. Tumbuh dan berkembang pun tidak sama. Setiap kejadian selalu ada alasan. Sebelum kita menghakimi orang lain, didik jiwa sendiri agar mampu mawas diri.
Hati yang mudah melakukan penilaian terhadap orang lain itu biasanya tidak tenang. Gelisah. Cenderung susah untuk berbaik sangka. Kita jangan begitu. Karena percayalah, itu sangat melelahkan.
Sholatmu Cermin Hidupmu
Barangsiapa terbiasa menunda sholat, maka ia harus siap tertunda dalam segala urusan kehidupannya: nikah, pekerjaan, keturunan, kesehatan, kemapanan, petunjuk dan lain-lain.
Hasan al-Bashri berkata:
Apa yang berharga dari agamamu jika sholatmu saja tidak berharga bagimu? Padahal pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepadamu pada hari kiamat adalah tentang sholat.
Seperti apa kamu mampu memperbaiki sholatmu, seperti itulah kamu akan mampu memperbaiki hidupmu.
Tidakkah kamu tahu bahwa sholat itu bergandengan dengan kesuksesan?
“Hayya ‘alas sholah… hayya ‘alal falaah…” artinya “Marilah melakukan sholat, marilah meraih kesuksesan”
Bagaimana mungkin kita minta kesuksesan kepada Allah, sedangkan kita tidak menunaikan hak-Nya?
Tidak semua muslim Allah panggil untuk sholat shubuh berjamaah di masjid. Tidak semua muslimah Allah panggil untuk langsung sholat saat adzan sudah berkumandang. Sekedar menjadi muslim dan muslimah itu mudah dan gampang, tapi tidak semuanya mau dan siap mengambil konsekuensi dan kewajibannya. Shubuh itu adalah panggilan Allah, dan hadiah terindah sejak membuka mata.
Hadiah terindah dari Allah itu adalah ketika kamu dimudahkan untuk melakukan kebaikan dari mulai membuka mata, sholat shubuh berjamaah di masjid. Hati-hati jika kamu sudah seringkali bangun terlambat hingga matahari memanas, jangan-jangan Allah tidak mau berjumpa denganmu di waktu terbaiknya, fajar shubuh. Berdoa dan beristighfar, agar Allah memudahkan untuk bangun sebelum shubuh.
Untukmu yang sudah terbiasa bangun shubuh, jangan sombong dan merasa aman. Tapi berhati-hatilah dalam menjaga niat dan amal kebaikan, tidak semua orang bisa istiqomah.
Aku, kamu, dan kita. Sedang sama-sama berjuang menuju kebaikan bukan ? Saling mengingatkan yuk
@jndmmsyhd
Kehilangan arah
Pagi ini aku terbangun melihat kenyataan. Sepi, sendiri, yang sejak tadi malam selalu aku hindari. Aku harap tidurku melelapkan semuanya, membuatku lupa akan banyak hal.
Tetapi hanya sesaat, pikiranku kembali melayang ke mana-mana. Aku kembali terbangun pada kenyataaan yang harus aku hadapi.
Entah sudah berapa lama aku membenci waktu, membenci memulai hari, bahkan membenci diri sendiri. Rasanya ingin berhenti saja, aku tidak punya alasan kuat untuk apa lagi aku bertahan.
Melanjutkan langkah, tertatih, menangis menapaki penyesalan-penyesalan yang tidak pernah bisa aku selesaikan. Aku benar-benar sendiri saat ini dalam kekalutanku.
Aku tidak tahu harus bersandar kepada siapa. Pikiranku sudah tidak lagi mampu berpikir jernih. Semua gelap, sangat gelap, aku sampai di satu titik buntu yang tidak lagi menemui percabangan.
Aku tahu aku sedang tersesat. Aku harus bertahan, meski aku tidak tahu untuk apa, ke mana tujuanku. Tetapi barangkali itu adalah satu-satunya alasan yang aku punya. Memeluk diriku sendiri.
—ibnufir
Dosa Jemari Tangan
Rasanya, memang lebih mudah jika sok paling benar dengan menasehati orang lain, dibanding muhasabah untuk diri sendiri. Mungkin memang begitulah sifat manusia pada dasarnya. Maka, izinkanlah saya dengan tulisan ini untuk sekadar menuangkan keresahan-keresahan yang tiba-tiba membenak di pikiran. Di awali dengan pertanyaan : Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?
Mungkin kita pernah mendengar bahwa dosa yang paling sulit dihindari adalah dari penglihatan mata. Karena, biasanya yang pertama kali kita kenali atau kita cari itu diawali dengan melihatnya. Baik sengaja maupun awalnya tidak sengaja. Mata menjadi penentu tindakan kita selanjutnya akan berdampak apa. Untuk menambah kebaikan, atau menambah tumpukan aib sendiri yang suatu saat akan ditampakkan juga.
Tapi, pernahkan kita merenungi bahwa kita tidak bisa menampik, sebenarnya lebih terbiasa menumpuk dosa dengan jemari kita. Dengan ponsel yang lebih sering berada di genggaman. Apalagi kalau bukan interaksi di social media. Entah itu secara personal maupun yang bertebaran di grup-grup sejenis whatsapp dan lainnya. Ngerumpi online istilahnya, jika tidak ingin dibilang ghibah yang modern.
Seberapa sering di dalam sharing sesuatu itu, kita melupakan istilah ‘saring’ lebih dulu. Adakah manfaatnya membagikan sesuatu itu? Adakah nilai kebaikannya? Perlukah kita sebar? Semisal membagikan potongan video (yang lebih seringnya berisi konten yang menjerumus ke vulgar.) atau membagikan potongan gambar yang sebenarnya tidak menambah nilai kebaikan apa-apa. Hanya untuk mengundang tertawaan,
Jemari tangan kita dengan mudahnya menumpuk dosa, dengan dalih hanya guyon, untuk lucu-lucuan, biar seru-seruan. Padahal kalau dipikirkan ulang, kelak dihari perhitungan semua itu akan di nampakkan kembali dengan detail, lengkap dengan historynya. Bahwa si fulan bin fulan pada tanggal sekian, waktu sekian, membagikan dosa jariah kepada si fulan, si fulan dan si fulan lainnya. Yang si fulan tersebut membagikan kembali kepada si fulan bin fulan, dan seterusnya, dan seterusnya. Hingga panjang sekali daftar riwayatnya. Makanya, terkadang hati kecil saya mah inginnya tidak perlu lah di undang di grup-grup mana pun. Dalam komunitas apapun. Karena biasanya apapun nama grupnya ada saja satu dua orang yang usil nyepam hal-hal di atas. Cukuplah kalau sekiaranya ada perlu atau sesuatu yang penting untuk dibagi ke saya, via japri saja. Tapi sayangnya kita sebagai manusia memang sudah selayaknya menjadi mahkluk sosial yang mau tidak mau, suka tidak suka ikut membaur. Sekalipun di social media.
Innalillah, maka, pertanyaan itu layak sekali untuk kita renungkan sesering mungkin,
Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?
Alih-alih menambah kebaikan-kebaikan dengan sharing yang bermanfaat, dan menjaga kualitas diri dengan setiap harinya menjadi pribadi yang lebih baik. Kita lebih sering lupa untuk menjaga kehormatan diri sendiri dengan tidak bijak dalam membagikan sesuatu di social media. Perkara sederhana yang perlu kita renungi dalam-dalam. Kemudian perbanyak istighfar diam-diam. Semoga kita bisa lebih bijak dalam memilah-milah dan menahan diri untuk sesuatu yang tidak perlu.
@quotezie
@quotezie
Sengaja fullface.
Manakah yang Lebih Baik?
Di masa-masa yang katanya krisis paruh baya, banyak diantara kita yang menjadi salah sangka pada apa-apa yang telah ditetapkan-Nya. Tersebab membandingkan apa yang ada pada diri dan orang lain, kita jadi mengambil sebuah kesimpulan prematur bahwa apa yang orang lain capai, miliki, dan kerjakan adalah yang lebih baik. Kita melupa bahwa setiap orang telah dan sedang diberi-Nya yang terbaik.
Siapa bilang orang yang sudah menikah lebih baik dari yang belum menikah? Siapa bilang orang yang cepat lulus kuliah lebih baik dari yang terlambat? Siapa bilang yang lanjut sekolah lebih baik dari yang memilih untuk bekerja atau merenda karir di rumah tangga? Siapa bilang yang bekerja di startup lebih baik dari yang bekerja di pemerintahan atau perusahaan biasa? Siapa bilang yang gajinya berpuluh juta lebih baik dari yang berbilang ratusan ribu rupiah?
Tidak ada!
Semua sama baiknya selama kita bisa memanfaatkan ladang yang ada untuk mengupayakan seluas-luas amal shalih. Semua sama berharganya selama kita bisa menjadikannya gelanggang medan juang untuk meningkatkan kapasitas ketaqwaan. Semua sama menyenangkannya selama kita bisa menikmati dan menerimanya sebagai yang terbaik dari suatu ketetapan.
Tidak perlu sedih atau menjadi rendah hati. Sebab, yang terbaik bukanlah yang punya semuanya, tapi yang berlomba dalam kebaikan dan yang paling kokoh iman dan taqwanya. Ah, tentu kita belum mencapainya. Tapi, kesempatan berjuang itu kini masih ada.
__
Picture source: Pinterest
Heal Yourself #30 (END): Katanya Sudah Memaafkan, Kok Masih Dendam?
Tulisan ini pernah saya tulis sebelumnya dalam review kegiatan belajar di kelas Forgiveness Therapy bersama bapak Asep Haerul Gani. Saat ini dihadirkan kembali (dengan sedikit modifikasi) karena dirasa masih sangat relevan, baik itu dengan tema umum serial Heal Yourself maupun dengan momen menuju Idul Fitri. Selamat membaca!
Ada sebuah hal sederhana yang seringkali kita mendapati kesulitan ketika melakukan atau mengatasinya, yaitu memaafkan. Sejumlah orang, bahkan mungkin kita juga termasuk diantaranya, mengaku sudah memaafkan (baik itu atas kesalahan diri sendiri, orang lain, atau pun sebuah situasi atau kondisi), tapi nyatanya masih ada trauma yang tersisa, perasaan masih tidak nyaman ketika sesuatu membuat kita kembali mengingatnya, dan yang paling parah, bahkan ada yang sampai mengalami gangguan jiwa. Ya, kebanyakan akar dari masalah gangguan jiwa adalah ketidakmampuan untuk memaafkan.
Salah Kaprah Tentang Memaafkan
Alih-alih memaafkan, kita lebih sering melakukan banyak salah kaprah tentang memaafkan. Kita menyangka sudah melakukan tindakan pemaafan sehingga berharap masalah menjadi selesai tapi yang terjadi ternyata adalah sebaliknya. Mengapa demikian? Apa salah kaprah tentang memaafkan yang mungkin pernah kita lakukan?
Pertama, memaafkan bukanlah sekadar bersikap pasrah dan pasif atas sesuatu yang terjadi, “Ah, yaudah, memang harusnya begini. Terima aja …” Padahal, menerima sebuah kenyataan tanpa mendapatkan atau mencoba mencari tahu pemahaman yang lengkap terlebih dahulu tentu saja merupakan hal yang konyol, bukan?
Kedua, memaafkan bukanlah tentang menunda kemarahan. Memaafkan bukan berarti kita tidak boleh memiliki emosi marah. Kita boleh merasakan marah namun pada saat yang sama kita juga perlu mengelola emosi marah itu dengan tepat. Pertanyaannya, apa yang biasanya kita lakukan ketika marah? Apakah dengan diam saja dan tidak mampu mengungkapkannya dengan tepat sasaran dan tepat takaran itu efektif bagi diri kita? Apakah benar bahwa dengan meninggikan nada suara hingga nyaris berteriak itu melegakan bagi kita?
Ketiga, memaafkan tidak cukup hanya dengan beralih dari keadaan sikap negatif ke keadaan sikap netral, tapi juga dari sekadar netral ke sikap kasih kepada orang lain. Hal ini serupa dengan yang diajarkan oleh Rasulullah untuk berbuat baik pada orang yang menyakiti kita. Masalahnya, sebuah kalimat yang seolah keren ini seringkali terucap dengan atau tanpa kita sadari, “Iya, aku udah maafin sih, tapi rasanya aku engga mungkin bisa memperlakukan dia dengan baik-baik kayak dulu lagi …”
Keempat, memaafkan bukanlah memaklumi. Misalnya, ada orang yang memukul kita lalu atas pemahaman kita terhadap orang itu kita pun berkata, “Ah dia mah emang gitu orangnya, wajar. Udahlah enggak apa-apa.” Ini namanya bukan memaafkan, tapi ini adalah ketidakmampuan kita dalam mengungkapkan apa yang menjadi hak-hak kita. Selaras dengan ini, memaafkan juga bukan berarti melakukan pembenaran terhadap perilaku buruk orang lain terhadap kita dengan berpikir bahwa ada sebab yang wajar dan dapat dibenarkan atas perilaku tersebut.
Kelima, memaafkan tidak sama dengan melupakan. Sudah lupa bukan berarti sudah memaafkan. Peristiwa-peristiwa tidak nyaman itu boleh jadi berusaha disimpan untuk dilupakan, tapi emosi tidak nyaman, rasa marah atau dendam malah membuatnya jadi mudah diingat, bukan? Sebaliknya, memaafkan adalah ketika seseorang tetap ingat peristiwa yang dialaminya dan pada saat yang sama terbebas dari emosi-emosi yang tidak nyaman.
Keenam, memaafkan bukanlah menenangkan diri sendiri selepas mendapatkan perlakuan menyakitkan, tidak adil, atau tidak mudah diterima karena menenangkan diri atas sesuatu yang menyakitkan tidak serta merta berarti memaafkan pelaku. Tentu saja!
Lalu, apa arti memaafkan yang sebenarnya?
Lanjutkan membaca
Heal Yourself #29: Quarter Life Crisis, Harus Gelisah, Kah?
“Teh, teteh pernah merasa takut dan khawatir tentang masa depan engga sih?”
Suatu hari pertanyaan itu mampir di inbox saya. Detik pertama saya membacanya, saya tersenyum. Menurut saya, lucu juga seseorang ini, menanyakan sesuatu yang pribadi dengan polosnya. Kemudian, detik selanjutnya saya jadi berpikir dan mengingat tentang ketakutan dan kekhawatiran yang pernah dan masih saya miliki sampai detik ini. Seperti orang-orang yang lainnya, saya juga memiliki ketakutan dan kekhawatiran pribadi, seperti misalnya ketakutan dan kekhawatiran kalau-kalau saya salah menjatuhkan pilihan pada hal-hal besar yang tentu akan berpengaruh besar dan permanen bagi hidup saya.
Kita dan semua orang sama, sama-sama memiliki ketakutan dan kekhawatiran pribadi tentang diri, kehidupan dan masa depan. Manusia pada dasarnya memang takut dan khawatir pada ketidakpastian. Di usia 20an, ketakutan dan kekhawatiran itu jadi bertambah-tambah. Konon, semua ini hadir karena kita sedang berada di masa-masa Quarter Life Crisis (QLC). Entah bagaimana, QLC menjadi topik yang saat ini sedang sangat ramai dibicarakan. Semua orang membicarakannya, baik dalam obrolan-obrolan, dalam cuitan di sosial media, atau bahkan di dalam karya. Kita pun tak jarang ikut-ikutan membicarakannya, bukan? Tapi, sebenarnya QLC itu apa, sih?
QLC sederhananya adalah suatu masa yang dipenuhi oleh ketegangan emosional yang berisi kekhawatiran, ketakutan atau kegelisahan terhadap berbagai masalah, terutama yang menyangkut hidup dan masa depan. Mengapa? Karena pada usia-usia inilah individu akan berhadapan dengan pengambilan keputusan-keputusan yang boleh jadi akan berdampak permanen untuk kehidupannya, seperti misalnya tentang memulai hidup mandiri, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, merencanakan masa depan, dan pilihan-pilihan besar lainnya. Konon, hal ini salah satunya terjadi berkaitan dengan pemenuhan tugas perkembangan, yaitu tugas yang menurut keilmuan Psikologi harus dipenuhi oleh individu pada tahap usia perkembangan tertentu, dalam hal ini di tahapan usia dewasa awal. (Untuk mengetahui pembahasan lebih lanjut tentang tugas perkembangan dewasa awal silahkan cek tulisan lama saya disini).
Pada mulainya, boleh jadi QLC ini adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Tapi, kegelisahan akibat QLC ini menjadi bertambah parah kalau kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang seusia dengan kita, terutama yang kita saksikan perkembangan kehidupannya melalui kotak-kotak persegi empat sosial media. Sedikit-sedikit kita jadi bertanya, “Kok dia cepet banget sih dapat pekerjaan? Kok dia enak banget sih kantornya? Kok dia cepet banget lulus kuliah sih? Kok dia ga pernah galau masalah jodoh? Kok dia bisa banget nikah muda? Kok dia cepet banget naik gaji?” dan seterusnya. Disadari atau tidak, pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat QLC ini menjadi semakin besar, besar, besar, dan berubah menjadi monster di keseharian kita.
Pertanyaanya adalah, sebagai seorang muslim, bagaimana kita menghadapi QLC ini? Soal ini, saya pernah mendiskusikannya dengan dosen saya yang juga merupakan seorang Psikolog, beliau bilang,
Lanjutkan membaca
Ya Rabb, ingatkan hatiku agar tak pernah lupa, bahwa sebaik-baik pilihan adalah pilihanMu, bukan pilihanku. Sejelas-jelas penglihatan adalah penglihatanMu, bukan penglihatanku. Pengetahuan yang paling sempurna adalah pengetahuanMu, bukan pengetahuanku. Jadikan aku ridha, pada setiap apa yang Engkau gariskan untukku. :)
©Quraners