"Tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu, jadi selamatkanlah dirimu sendiri." 🤍😇
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Sade Olutola

titsay
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
hello vonnie
Show & Tell

JVL

❣ Chile in a Photography ❣
No title available
Cosimo Galluzzi

if i look back, i am lost

★

Love Begins
ojovivo

shark vs the universe

No title available
occasionally subtle
EXPECTATIONS
todays bird

Discoholic 🪩
seen from Türkiye
seen from Colombia

seen from Germany

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Jamaica

seen from Jamaica

seen from United States

seen from Bahamas
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@stmarwahakrim
"Tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu, jadi selamatkanlah dirimu sendiri." 🤍😇
Setiap kali harga naik, kita bilang, "Ya sudahlah, cuma segini."
Setiap kali tagihan bertambah, kita bilang, "Masih bisa diakali."
Setiap kali tenaga terkuras, kita berkata, "Nanti juga terbiasa."
Dan memang benar...
Kita terbiasa.
Terbiasa hidup lebih mahal.
Terbiasa bekerja lebih keras.
Terbiasa menunda istirahat.
Terbiasa memendam lelah.
Yang paling berbahaya bukan saat hidup terasa berat.
Yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai menganggap berat itu sebagai sesuatu yang normal.
Lalu suatu hari kita bertanya,
"Kenapa hidup rasanya sesak sekali?"
Padahal, kita tidak hancur dalam semalam.
Kita hancur sedikit demi sedikit, sambil terus berkata,
"Aku masih baik-baik saja."
Pilihan Baru
Luka yang sama akan terus-menerus mengetuk pintu dadamu, memutar kesedihan yang serupa dalam lingkaran takdir seolah tiada berujung. Alurnya enggan beranjak dari hidupmu sebelum engkau bersedia membuka mata untuk memetik hikmah tersembunyi yang dititipkan oleh sang waktu. Keberanianmu untuk mengayunkan langkah kaki menuju arah jalan yang berbeda menjadi pedang tajam yang memutuskan rantai belenggu masa lalu. Detik pembebasan itu meruntuhkan seluruh siklus semu, memberi ruang bagi jiwamu untuk bertumbuh dan memeluk fajar baru dengan ketabahan yang lebih utuh.
Sembuhlah.
"Siapa yang Mau Kamu Ajak Perang?"
Makanya pertanyaan Maudy itu berat. Bukan soal siapa yang paling kamu suka. Tapi siapa yang kamu percaya cukup untuk diajak ke medan perang dan tetap jalan berdampingan, bukan saling tembak di tengah jalan.
Relationship itu basically tugas bersama seumur hidup.
Repost -jurnalpelupa
Sekarang aku paham kenapa rasanya seperti pengasingan. Karena yang paling menyakitkan dari kehilangan bukan saat seseorang pergi.
Melainkan saat dia masih hidup, masih bernapas, masih ada di kota yang sama, masih berada di bawah langit yang sama, tapi kamu sudah tidak bisa lagi pulang ke hatinya.
Dan yang paling kejam dari semuanya adalah ternyata, kita tidak benar-benar saling kehilangan di hari perpisahan.
Kita kehilangan satu sama lain jauh sebelum itu.
Saat aku mulai berhenti mendengar isyaratmu.
Dan kamu mulai lelah berharap aku akan mengerti.
Adakalanya memang kita ini perlu adil terhadap penilaian ke diri sendiri. Ketika diminta untuk menilai orang lain kita dengan mudah menyebutkan deretan daftar baik pada dirinya, tetapi ketika hal sama ditujukkan kepada diri, begitu sukar lisan dan hati untuk menyebut sedikit saja kebaikan di dalam diri.
Meskipun, jika pada akhirnya "terpaksa" menyebutkan kekurangan diri sebagai bentuk muhasabah betapa jauhnya diri kita dari nilai-nilai Ilahi, sehingga melejitkan semangat untuk perbaikan diri, itu bagus. Namun, kalau yang terjadi justru kita menjadi hilang semangat, merasa diri tidak pantas mendapatkan kebaikan bahkan pada Dzat yang Maha Memberi, barangkali ada yang perlu dikoreksi.
Menilai diri menggunakan kacamata 'keunggulan' itu selama tidak berujung pada ujub, sah-sah saja. Tujuannya adalah untuk melihat dari sekian banyak hal potensi yang Allah titipkan, ada dimana kelebihan yang kita bisa kapitalisasikan untuk bekal kebaikan.
Meskipun kebaikan mungkin tidak melulu membutuhkannya (baca: potensi) itu, namun jika kita mampu mendefinsikan, kemudian mendalami sehingga kita unggul pada bidang itu, sehingga kebaikan yang kita torehkan semakin optimal, bukankah itu manifestasi paling tinggi dari rasa syukur?
Saya yakin, setiap insan pasti Allah berikan satu kelebihan. Namun, melihatnya memang harus dengan kacamata adil. Sehingga pandangan bahwa kita memang punya kekurangan itu benar, namun di tengah banyak kekurangan pasti terselip permata yang berkilau dari kegelapan.
Oleh karena itu, mari memulai memberi jarak dari rasa tidak pantas itu, selamilah permata yang lama tersingkap itu, dan jadikan itu sebagai bentuk syukur tertinggi kepada Sang Maha Memberi.
Bahkan seribu kehidupan mungkin belum cukup untuk mengenal diri sendiri. Kita terus berubah, berkali-kali runtuh, berkali-kali tumbuh. Mungkin, itulah harga untuk tetap hidup.
Tidak ada manusia yang benar-benar selesai menjadi dirinya. Setiap hari selalu ada sesuatu yang patah, tumbuh, hilang, lalu lahir kembali di dalam hati.
Ada hari ketika kita merasa setangguh gunung, lalu pada hari lain satu kalimat sederhana saja mampu mengguncangkan seluruh isi dada. Begitulah manusia; belajar tanpa pernah lulus, bertahan tanpa pernah benar-benar terbiasa.
Barangkali kesempurnaan memang bukan tujuan kita. Sebab jika seluruh luka hilang, seluruh takut lenyap, dan seluruh tanya terjawab, mungkin kita telah berhenti menjadi manusia.
Kita sering tergesa-gesa ingin sampai, padahal semesta tidak sedang menilai seberapa cepat langkah, melainkan seberapa berani kita tetap berjalan meski rasanya seluruh dunia sedang runtuh di atas bahu.
Sebab menjadi manusia bukan tentang akhirnya berhasil mengalahkan semua badai, melainkan tetap memilih hidup ketika hati terasa lebih berat daripada seluruh langit yang sedang memikul hujan.
Written by Aftansa
Tidak semua lelah perlu diceritakan
Tidak semua kecewa harus diperlihatkan
Ada hari yang meskipun kamu merasa berat untuk melaluinya sendirian,kamu tetap harus tersenyum.
Karna terkadang tanpa kamu sadari "senyummu" itu adalah energi bagi orang yang mencintaimu.
Aku yang tidak baik - baik saja ...🤍😇
Tanda Menua yang Baik
(Menata Hati — Part 12)
Umur kita itu pasti bertambah. Mau ditahan pakai filter sekencang apa pun, mau dirawat pakai perawatan sewajah apa pun, waktu bakal tetap berjalan maju. Kita semua pasti bakal nambah tua. Itu kepastian takdir yang nggak bisa kita nego lagi.
Maka, kalau ada hal yang bener-bener harus kita khawatirkan, itu sebenernya bukan gimana caranya menghentikan kerutan di wajah atau memutihnya rambut. Melainkan, gimana caranya agar kita bisa menua dengan cara yang baik, cara yang elegan, dan berkah.
Kenapa? Karena semua nilai kebaikan kita itu tergantung bagaimana bab akhirnya nanti (husnul khatimah). Jangan sampai masa tua—yang identik dengan fase mendekati garis finish kehidupan—justru membuat batin kita makin lemah, makin rewel, dan makin jauh dari kebaikan.
Nah, menua yang baik itu ada sinyal dan tandanya di dalam dada kita:
1. Semakin Zuhud dengan Urusan Dunia
Zuhud itu bukan berarti kita harus jadi miskin, anti-harta, atau mogok kerja, ya. Arti zuhud yang sesungguhnya itu adalah ketika kita mulai bisa memosisikan dunia murni cuma sebagai alat atau kendaraan buat bertakwa kepada Allah dan beramal shalih.
Dunia bukan lagi menjadi tujuan utama kita. Dunia nggak lagi kita simpan di dalam hati, tapi cuma sekadar kita taruh di telapak tangan. Makanya, hati kita nggak bakal kerasa berat atau rontok pas harus melepaskannya demi kebaikan.
Lama-kelamaan, cinta kita terhadap beberapa benda duniawi mulai berkurang dengan sendirinya. Cara pandang kita bergeser; semua barang mulai dilihat pakai prinsip "yang penting fungsinya", bukan lagi silau karena mewahnya atau gengsinya. HP yang penting bisa komunikasi, baju yang penting menutup aurat dan rapi, kendaraan yang penting fungsional. Gitu aja, simpel dan anti-ribet.
2. Makin Haus dan Mengerti Ilmu Agama
Logikanya gini: syarat mutlak agar kita bisa pandai mencari "jalan pulang" yang aman adalah kita harus tahu dulu peta dan arahnya. Dan agama adalah satu-satunya penunjuk jalan terbaik menuju proses "Pulang" ke kampung halaman yang abadi di akhirat nanti.
Ketika kita menua dengan baik, hari-hari kita bakal mulai diwarnai dengan rasa rindu yang mendalam sama majelis ilmu. Obrolan-obrolan tentang agama, perbaikan diri, dan akhirat mendadak jadi jauh lebih menarik perhatian serta sukses menggelitik hati kita.
Anehnya, fisik dan batin kita sekarang rasanya jauh lebih tenang, adem, dan nyaman saat duduk di majelis ilmu atau dengerin kajian daripada saat berada di tempat hiburan malam atau lokasi rekreasi yang bising. Seolah-olah, batin kita lagi mengirimkan sinyal halus: "Yuk berlabuh, di sinilah akhir dari segala petualangan panjangmu."
Sinyal kerinduan ini sebenarnya klop banget sama apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Jadi, kalau di usia sekarang kita makin hobi ngaji dan paham agama, selamat! Itu tanda valid kalau Allah lagi menghendaki kebaikan buat akhir hidup kita.
3. Semakin Pandai Melihat Aib Sendiri
Semakin bertambah angka usia, kita bakal makin sadar dan insyaf kalau yang ternyata masih banyak jeleknya, banyak kurangnya, dan banyak bolongnya itu adalah diri kita sendiri. Kita makin tahu diri.
Efek positifnya? Kita nggak bakal punya waktu lagi buat sibuk menyalahkan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, apalagi sampai gemar menjadikannya bahan rumpian atau gibah. Urusan privasi dan dosa orang lain otomatis kehilangan daya tariknya di mata kita.
Fokus kita sudah bergeser total: sibuk scanning aib sendiri, lalu buru-buru meng-istighfarinya sebelum terlambat. Karena kita tahu persis, lembar evaluasi diri inilah yang bakalan bermanfaat buat urusan akhirat kita nanti. Sementara sibuk menguliti dosa orang lain? Sama sekali tiada guna dan cuma bakal menyia-nyiakan sisa kuota umur kita yang makin menipis.
Menua dengan baik itu adalah proses ketika kita mulai pelan-pelan mengurangi drama duniawi, melipat ego kita erat-erat, dan mulai memperbanyak bekal buat perjalanan pulang.
Kalau hari ini umur kita sudah bertambah, mari kita coba sering berkaca: sudahkah tanda-tanda kebaikan ini mulai tumbuh di dalam dada kita?
Apa iya suami bisa maksa istrinya buat bersih-bersih, masak, sampai ngurus mertua 'atas nama Islam'? Jawabannya mungkin nggak seperti yang kamu bayangkan. Sebelum mutusin buat nikah (atau kalau pernikahanmu lagi di fase berat), kamu wajib baca pandangan Ustaz Nouman Ali Khan soal gimana bikin batasan yang sebenarnya.
View On WordPress
Aku tidak baik - baik saja
Ku terluka di tempat yang sama
🤍😇
Barangkali benar, tidak semua orang disemayamkan setelah mati. Sebab ada seseorang yang telah kehilangan dirinya, tanpa pernah kehilangan napasnya. Itulah mengapa ada kematian yang tak pernah diumumkan, dan ada pemakaman yang hanya dihadiri oleh waktu. Maka sepanjang perjalanan ini, aku terus berjalan bukan karena tahu ke mana harus menuju, melainkan karena belum juga menemukan di mana pusara seseorang yang dahulu kupanggil “aku”.
Ibadah yang paling panjang bukanlah pernikahan. Melainkan belajar berbaik sangka pada takdir Allah, bahkan saat kita belum memahami ke mana arahnya.
deep empathic resonance—sebuah kondisi di mana radar emosionalmu bekerja sangat kuat, hingga kamu bisa menangkap luka tersembunyi seseorang hanya dari cara dia diam atau menikmati sesuatu. Namun sayangnya, ironi terbesar dari sebuah hubungan adalah:
Kita bisa menjadi orang yang paling berniat baik sedunia, tetapi kita tetap tidak punya kendali atas bagaimana orang tersebut memilih untuk memperlakukan kita kembali.✍️🏻
Seni Menjaga Harga Diri
Ketika kata-katamu hanya membentur dinding bisu dan kehadiranmu tak lagi dianggap, di situlah momen terbaik untuk melangkah mundur. Tak perlu membuang energi untuk menjelaskan sesuatu kepada mereka yang memilih menutup telinga, atau memaksakan diri masuk ke dalam lingkaran yang sengaja menguncimu dari luar. Jagalah jarak secukupnya dengan penuh wibawa; jika mereka tidak membagikan ceritanya padamu, urungkan niat untuk bertanya, pun jika namamu tak ada dalam daftar undangan atau hanya diingat di saat mendesak, belajarlah untuk tersenyum dan memilih tidak datang.
Hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mengemis perhatian atau mengharapkan pemberian yang tak pernah diniatkan untukmu. Ketika tangan tak terulur menawarkan, kuatkan hatimu untuk tidak meminta ataupun berharap, bahkan ketika ketulusanmu dibalas dengan pengkhianatan yang menyayat. Kumpulkan sisa-sisa kekuatanmu untuk memaafkan, bukan demi mereka, melainkan agar langkah kakimu kembali ringan untuk melanjutkan sisa hidup tanpa beban dendam.
Kehormatan diri tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukanmu, melainkan bagaimana kamu merespons mereka. Saat dunia merendahkan atau meragukan mimpimu, simpan amarahmu rapat-rapat dan ubah menjadi bahan bakar dibalut bunyi yang tersembunyi. Tak perlu membalas cacian dengan makian yang serupa, karena balasan tercerdas atas segala hinaan adalah dengan membiarkan kedewasaanmu yang berbicara.
Jangan biarkan keegoisan orang lain menurunkan kelas harga dirimu.
Kita semua lelah,,, butuh es krim 😍