Kopi dan Alibi Lainnya . Dan pada malam pria itu duduk lagi bersama kopi dan keripik, sembari sesekali mencorat-coret buku yang sudah lusuh dan terlipat-lipat, dengan pena yang sudah hampir habis tintanya. . Dia terlihat berpikir atau entahlah, matanya tertuju menatap satu titik yang entah apa, bahkan udara dingin dan dengung nyamuk tak cukup untuk mendistraksinya. . Maka dia mulai berpikir, Kenapa dia terus minum kopi saat dia tahu dia kesulitan terlelap? Kenapa dia senang pergi ke tempat asing saat dia tahu dia tidak suka berinteraksi dengan manusia? Kenapa dia melanjutkan studi saat dia tahu dia benci sistem sekolah? . Dan masih banyak kenapa lainnya, lalu lama diam sampai akhirnya, mungkin itulah yang membuat dia hidup, dia secara tak sadar menjadi lebih hidup dengan tekanan agar dia bisa beralibi lalu melakukan pemberontakan dengan tenang. . Dia langgar apa yang sebenarnya akan membuatnya lebih nyaman, lalu dia mencari hal yang menekannya kemudian mencari cara menyerangnya balik, memberontak. . Premis yang lucu dan cenderung tolol, lantas dengan penasaran aku bertanya pada pria bodoh itu, kenapa dia melakukan itu, lantas dia menjawab. . "Aku senang karena dengan ini aku bisa menertawakan diri sendiri, karena jika aku tidak menertawakan hidupku sendiri, aku menangis." . Bulaksumur, 7 Januari 2018 Pratamasyah Alam #artnomaly *Setelah pertemuan dengan si brengsek Alam. @30haribercerita #30haribercerita #30hbc1807
















