Semakin dewasa, kita harus semakin selektif dalam memilih siapa saja yg bisa masuk ke dalam hidup kita. Jangan sampai awalnya manis, tapi berakhir dengan tangis..
.
banditfluencer | Pekanbaru

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Spain
seen from China
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Japan
seen from Germany

seen from United States

seen from Australia

seen from United States
seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany
Semakin dewasa, kita harus semakin selektif dalam memilih siapa saja yg bisa masuk ke dalam hidup kita. Jangan sampai awalnya manis, tapi berakhir dengan tangis..
.
banditfluencer | Pekanbaru
Selektif Dalam Berteman
Untuk teman-temanku yang sudah lewati usia 20an, atau buat kalian yang sedang diusia ini, kalian pasti ngerasain bahwa semakin bertambahnya usia semakin sedikit jumlah teman yang ada dilingkaran pertemanan kita. Jangan sedih dan jangan pula menyalahkan diri sendiri, bukan cuma kamu aja kok yang merasakan tetapi aku juga merasakan hal yang serupa.
Kalau dulu zaman remaja, kita begitu bangga memiliki banyak teman sehingga pertemanan di dunia maya pun seperti Facebook saling berlomba-lomba agar banyak pertemanan, ini zaman aku dulu seperti itu. Hehe tapi sekarang tidak seperti itu lagi. Kita tidak lagi mementingkan kuantitas, lagi pula untuk apa memiliki banyak teman tapi tidak ada saat kita membutuhkannya. Sering ya kita dihadapkan pada situasi demikian:( Kalau ada perlu dia datang deketin kita, kalau lagi seneng bahagia seolah-olah lupa sama kita. Dan saat kita terpuruk, lemah, tidak punya apa-apa, kita bisa tau mana yang sesungguhnya teman sejati yang tulus berteman dengan kita atau justru mau berteman karena ada maksud tertentu saja. Kemudian kita akan lebih nyaman memiliki teman yang sedikit tapi berkualitas. Yang bisa kita percaya.
Kita juga akan meminimalisir teman yang penuh dengan drama dalam kehidupannya. Menghindari konflik yang mungkin sering terjadi. Kita akan malas berteman dengan mereka yang berprasangka buruk, menjudge, membicarakan aib, menghibah apalagi sampai memfitnah dibelakang kita. Terlepas dari apapun motif mereka. Kita lebih memilih teman yang bisa memberikan energi positif daripada energi buruk.
Pemahaman kita tentang kehidupan pun juga berubah. Dalam artian menuju kedewasaan. Kita akan lebih senang dan nyaman jika dipertemukan dengan teman yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, yang lebih banyak memberikan manfaat daripada hanya kesia-siaan belaka. Jika dulu kita senang menghabiskan waktu duduk di pohon rindang, nongkrong di cafe pinggiran maupun mall mewah, jalan-jalan yang tak bertujuan. Akhirnya kita lebih selektif dalam menerima ajakan dan lebih menghargai waktu yang akan kita pergunakan. Sehingga tak hanya menghabiskan waktu, tenaga, uang secara cuma-cuma melainkan lebih kepada membawa feedback baik untuk kehidupan kita.
Kita juga mulai menyadari bahwa ada masanya untuk fokus dengan cita-cita kita begitu juga dengan mereka yang ingin diwujudkan. Tentunya ada prioritas-prioritas yang berbeda dari masa saat sekolah dulu ketika kita lebih banyak bersama dengan teman-teman kita. Apalagi bila mereka telah menikah.
Dan terakhir tanpa disadari, kita telah terbuka dan jujur terhadap diri kita sendiri. Tidak lagi melakukan kepura-puraan dalam pertemanan hanya untuk disukai dan diakui oleh mereka. Melainkan membiarkannya seperti seleksi alam. Kita tidak lagi mempermasalahkan jika satu persatu dari mereka menghilang dengan sendirinya, dan kita bisa melihat mana yang tetap bertahan menjadikan kita sebagai temannya apalagi sahabat.
Dengan begitu, justru kita harus banyak bersyukur. Ada banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari sedikitnya teman yang kita miliki. Karena dengan siapa kita berteman sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian kita. Juga sangat menentukan tujuan kehidupan kita kelak apakah akan menghantarkan kita pada kesengsaraan atau justru kebahagiaan yang abadi.
Bogor, 4 Januari 2019
@aisyazaira
Pemilih
Oh bukankah itu manusiawi
Saat kalian memilih sesuatu untuk mendapatkan yang paling baik
Yang paling pas
Yang paling cocok
Yang paling sempurna menurut kalian
Apapun
Dari hal yang paling sepele,
Mambeli baju
Membeli makanan
Membeli rumah
Oh tidakkah begitu banyak hal yang kalian pertimbangkan?
Kalau aku, Ya.
Apalagi memilih hal sepenting
jodoh
Dia adalah seseorang yang sangat penting
Yang akan menjadi salah satu faktor terpenting bagaimana aku menjalani masa depanku kelak
Masa depan yang kuimpikan
Untuk hal sebesar itu,
Hal sepenting itu
Tak bolehkah aku berhati-hati?
Tak bolehkah aku menjaga hati agar tidak sembarang jatuh?
Tak bolehkah aku memasang standar yang tinggi?
Tak bolehkah aku
Menjadi perfeksionis dan
Menjadi wanita
Pemilih(?) .
Selektif menyelamatkan seseorang untuk jangka panjang.
Following vs Followers
Dulu aku tipe manusia yang menuntut followers harus lebih banyak daripada following wkwkwk *validbanget
Tapi semakin kesini semakin ngerasa harus selektif dengan hal-hal yang masuk ke otak
Mari kita cerna
Mekanisme :
Mata melihat > otak berpikir > pengaruh ke tingkat emosi > tindakan > karakter
Apa yang kita ikuti saat ini akan menuntun kita kedepannya.
Pertanyaannya :
Yang pertama,
Apakah tidak usah bersosial dengan orang lain? Lalu kita mengikuti motivator atau influencer yang positif saja?
Hehe aku tidak mengatakan harus menjadi individu yang tertutup.. silahkan saja enaknya bagaimana..
Yang kedua,
Lantas bagaimana kalau sudah terlanjur mengikuti orang yang kita ikuti dan membuat pengaruh negatif ke diri kita?
Kita kesampingkan saja hehe kalau memang benar benar toxic baru singkirkan..
Kalau kata seseorang : "Manfaatkan fitur mute, blokir, unfoll.. developer sudah susah-susah membuatnya, sayang kalau tidak dipergunakan dengan baik"
Bekasi, 31 Agustus 2020
SELEKTIF MEMILIH TEMAN #selektif #teman is.gd/GPDte is.gd/GPDig is.gd/GPDtwit www.galeriposterdakwah.com
Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama. . Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan: “Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261). . Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-: “Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama. . Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13). . Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-: “Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15). . Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur: “Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim1/14). . Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-: “Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29). . Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin. . 👤Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA 📝Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc, MA @sunnaheverywhere #ilmu #tholabulilmi #selektif #hatihati #bidah #khurafat #syubhat #ustadzretorika #ustadzsyubhat #sunnah #sunnaheverywhere
Ini cuma aku doang apa kalian juga makin kemari makin sering milih mana teman untuk dikategorikan sefrekuensi? 🗼 🗼 🗼 #selektif