Matahari Terbit di Ujung Timur Jawa
Bagian 3: Terbenam
Matahari tergelincir dari garis cakrawala. Tenggelam menyisakan gelap. Seperti biasa, warga desa yang masih berlalu lalang di luar rumah menerangi langkahnya dengan obor. Sedangkan para wanita dengan lihainya menyalakan cempluk di rumah mereka.
Aku mengambil lampu ublik dan mengisinya dengan minyak jarak. Kemudian ku letakkan di kamar emak. Cahaya ublik menerangi wajah emak. Beberapa hari ini kondisi kesehatan beliau semakin menurun walaupun sudah kami bawa ke tabib.
Hatiku sedih melihat emak yang melahirkan dan membesarkanku tampak pucat. Hilang semu merah pipinya. Aku duduk di sampingnya.
“Le.. Seno..” Emak memanggilku, berusaha bangun dari pembaringannya.
“Jangan memaksakan duduk, Mak. Tidur saja” Tanganku menahan kedua bahu emak dengan hati-hati, mengantarkannya agar tidur lagi.
Ia berdehem-dehem berusaha menjernihkan suaranya yang parau. “Emak ini hidup dengan Apakmu lebih dari setengah abad. Mak tahu bagaimana sifat dan kebaikan beliau. Apakmu juga sama sepertimu, ingin sekali lepas dari belenggu penjajah”.
Aku hanya diam mendengarnya. Kuraih tangan Emak, kugenggam jemarinya.
“Kami minta maaf, tapi percayalah padaku dan Apakmu. Kau turuti keinginan kami ya, Le?”
“Tidak, Mak. Apalagi engan kondisi Mak yang seperti ini” Aku menggeleng dengan yakin, “maaf aku tidak bisa”.
“Umur Emak mungkin tidak akan lama, Le. Emak tidak apa-apa. Kau anak kami satu-satunya. Carilah medan perjuangan diluar sana. Mau kan, Le?”
Suara emak yang lembut dan terdengar pelan entah bagaimana bisa menyayat hatiku. Aku meneteskan air mataku. Jatuh pada tangan keriputnya.
“Baik, mak” Hanya itu saja kalimat yang mampu keluar dari bibirku. Harapanku hanya satu, agar emak bisa lega dan kesehatannya berangsur pulih.
“Kau adalah Seno Darmo. Kau bisa, Le. Emak percaya padamu” Tangannya menyentuh pipiku. Hangat.
Nyala ublik kian meredup. Angin yang berhembus sangat pelan sanggup memadamkan cahayanya. Begitu pula dengan cahaya teduh mata emak. Telah hilang sepenuhnya.
Emak telah tiada.
Malam itu juga emak dikebumikan. Para pakdhe, paklik, dan warga desa membantu kami mengurus pemakaman ibu. Air muka apak murung kehilangan separuh jiwanya. Aku sendiri bak kehilangan separuh duniaku.
Suasana rumah terasa tidak sama lagi. Sepi, seperti tak bernyawa. Bahkan suara kokok ayam yang datang bersahutan tidak mampu mengusir rasa sepi. Aku menghampiri apak yang sedang duduk di depan pintu rumah kami. Rasa kasihan menyeruak dalam dada, sedikit meredakan amarahku padanya.
Aku membicarakan tentang wasiat dari emak, “Apak akan sendirian disini kalau aku pergi merantau. Apa tidak usah kujalani saja wasiat dari emak?”
Bagaimanapun kesalnya aku dengannya, aku tidak tega melihatnya seperti ini.
“Apak masih mengharapkan kau pergi ke sana. Jangan kau khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja disini, bersama pakdhe, paklik, dan para sepupumu” Apak menatap wajahku, “Jalankan saja wasiat Emakmu, Seno”.
Singkat cerita, aku berpamitan kepada Apak. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diriku. Rasa marah dan kecewa kepada apak, rasa kasihan meninggalkan apak sendiri ditengah ancaman kecamuk perang, perasaan yang masih sedih karena ditinggal emak, hingga rasa malu karena mengkhianati kawan-kawan yang telah berjanji akan berjuang bersama.
Semuanya kugenggam dalam diriku, kubawa dalam setiap langkahku. Berharap semua akan baik-baik saja seiring dengan waktu.
***
Entah bagaimana pikiranku. Keinginan menuju Benteng Bayu masih menyelimuti. Ku perhitungkan apakah sebaiknya aku kesana atau tidak.
Baiklah, aku akan pergi kesana. Lagipula, tidak ada yang tahu apakah kelak aku bisa kembali ke Bumi Blambangan lagi, Setidaknya sedikit saja mencicipi keinginanku untuk berjuang bersama rakyat Bayu. Keinginan yang telah kukubur sebelum aku berusaha mewujudkannya. Tentu saja, aku berjanji akan berangkat ke Pasuruan setelah dari sana.
Setelah berjalan kaki sedari pagi, aku baru tiba di desa Bayu saat siang. Keringat sebiji jagung mengalir deras membasahi badan dan kepalaku. Tidak mudah menuju kesana. Harus melewati hutan yang menanjak. Apalagi bekas guyuran air hujan membasahi tanah. Jalanan menjadi licin. Perlu ekstra hati-hati supaya tidak tergelincir.
Di depanku tampak tembok setinggi dua meter yang dibangun dari susunan bata mengikuti lengkungan lereng gunung Raung sebelah timur. Di ujungnya terdapat bastion yang berfungsi sebagai menara pengintaian. Di depan benteng terdapat palisada, pagar yang terbuat dari batang-batang pohon besar. Bagian atasnya dibuat runcing dan batang-batang pohonnya berjajar sangat rapat satu sama lain.
Ini dia benteng Bayu. Aku segera masuk menuju pusat perjuangan rakyat Blambangan, berencana menemui pangeran Jagapati. Syukurlah rencanaku berjalan dengan mulus, Pangeran sedang berada di Bayu. Seorang pria berkumis akan mengantarku ke kediaman Pangeran di dalam Benteng.
Aku terpana ketika memasuki gerbang. Takjub melihat benteng beserta segala keriuhan aktifitas penduduk Blambangan di dalamnya. Ada yang sedang berlatih fisik, ada yang sedang duduk-duduk berdiskusi. Banyak orang yang berlalu-lalang. Beberapa pria tampak saling bahu-membahu membuat parit di belakang tembok benteng. Atmosfir perjuangan terasa pekat.
Aku terus berjalan mengikuti pria berkumis. Dapat ku lihat seperangkat gamelan beserta pemainnya. Cukup unik.
“Untuk apa gamelan-gamelan itu, pak?” aku tak dapat mengelakkan rasa penasaranku.
“Tentu saja untuk dimainkan. Sekaligus sebagai simbol. Lambang kekuasaan dan kekuatan” pria berkumis memberi penjelasan singkat.
“Ooh..” Aku manggut-manggut mendengar jawabannya.
Kami terus berjalan melewati halaman luas. Akhirnya kami tiba di sebuah ruangan yang terletak di belakang. Sederhana, seperti rumah rakyat biasa. Tidak merepresentasikan sebagaimana ‘istana’ Pangeran.
Pria berkumis mengantarkanku masuk setelah ia berbicara sebentar dengan Pangeran. Aku duduk ditanah. Beralaskan tikar dari jerami untuk duduk di atasnya. “Pangeran Jagapati. Perkenalkan, hamba adalah Seno Darmo. Hamba tinggal di desa Caluring”
“Aku tidak pernah melihatmu disini. Apakah aku benar?” Pangeran bertanya kepadaku.
“Benar, Pangeran. Ini adalah kali pertama hamba datang ke Bayu”
“Apakah ada yang bisa ku bantu, Seno?”
Aku menyerahkan kantong kain yang diberi Apak sebelum aku berangkat. Berisi Gulden dari hasil ia menjual tanah di Ulupampang
“Apa ini?”
“Ini adalah sebagian harta hamba. Hamba memberikannya sebagai bentuk dukungan untuk Blambangan” Aku telah mengambil tiga Gulden dan beberapa Doit untuk bekal perjalananku. Jumlah yang cukup banyak. Toh nantinya aku masih bisa bekerja lagi. Setidaknya aku sedikit tenang karena telah berusaha melakukan sesuatu untuk perjuangan rakyat Bumi Blambangan.
“Terimakasih, Seno. Ini akan sangat berharga untuk para Pejuang Bayu. Tapi, tidak kah kau akan ikut berperang? Setelah kemenangan kita kemarin, aku yakin Belanda tidak akan tinggal diam. Perjuangan masih panjang”
“Sungguh, hamba ingin sekali, Pangeran. Tetapi orangtuaku melarangku mengikuti perang dan menyuruhku pergi ke Pasuruan. Aku segera menolak permintaan mereka”
Pangeran Jagapati diam, menungguku menyelesaikan kalimatku.
“Tetapi, di akhir hayatnya, ibuku memohon supaya mengikuti perintahnya. Ini adalah wasiat ibuku sebelum beliau meninggal”.
Pangeran Jagapati mengangguk-angguk penuh pengertian, “Jangalah risau, anak muda. Aku bisa melihat ketulusan di matamu. Tidak apa-apa. Pergilah. Penuhi permintaan ayahmu dan wasiat ibumu" Pangeran Jagapati berkata dengan lugas dan tenang. Kata-katanya meyakinkanku akan keputusan ini.
“Baik, pangeran. Hamba izin pamit. Hamba akan mulai berjalan menuju Pasuruan saat ini juga”.
“Kembalilah ke Bumi Blambangan, suatu hari nanti”. Pangeran Jagapati meletakkan tangannya di pundakku. Seolah memerintahku untuk menuruti titahnya.
“Tentu saja. Semoga hamba bisa bertemu Pangeran kembali di Blambangan”.
Aku segera undur diri, berjalan keluar benteng. Benteng Bayu membisu menyaksikanku pergi. Ia menatap punggungku menjauh, dan semakin jauh, meninggalkan Bumi Blambangan yang kucintai.
Bersambung











