Mendekati waktu Imsak, orang-orang mulai berjalan ke masjid. Aku mengambil jaketku, sembari bersiap turun dari kereta Turanggaku.
"Hrrr,, hatciiiw…", Aku bersin-bersin. Ini masih di tengah kota, tapi dinginnya udah luar biasa. Kemarin aku sudah menghubungi calon ibu kos kalau aku datang hari ini, Aku dikasih tahu beliau kalau dari stasiun Bandung aku bisa naik Angkot warna putih tujuan Lembang, nanti turun pertigaan depan Terminal Ledeng, lanjut naik ojek ke Desa Cihideung. Beruntungnya aku dapat Mamang Ojek yang baik banget, kebetulan beliau juga orang Cihideung, jadi kenal sama bu Euis, ibu kosku. Beliau aslinya orang Garut, tapi suami beliau, si Abah orang asli sini.
Desa tempatku tinggal ini terkenal sebagai desa agrowisata, sepanjang jalan desa ini banyak sekali pedagang tanaman, baik buah, bunga maupun sayur. Aku senang tinggal disini, abah dan emak (panggilan untuk bapak ibu kos) sangat baik. Mereka hanya tinggal berdua, anak-anaknya udah pada nikah dan tinggal di rumah mereka sendiri. Jadi aku sudah dianggap seperti anak sendiri.
Abah dan emak punya usaha budidaya tanaman dan pertanian buah juga. Sebagai lulusan pertanian, aku sangat senang karena merasa ilmuku sangat bermanfaat disini. Sudah tiga bulan aku tinggal di Bandung, Abah sering mengajakku keluar kota, bahkan sampai ke Jateng untuk menjual tanamannya, atau terkadang mencari bibit yang tidak ada di Bandung untuk Abah kembangkan di Kebunnya.
"Aa, kumaha? Tos betah henteu tinggal didieu?", Tanya si emak, disela-sela istirahat ku di kebun.
"Alhamdulillah, saya senang mak tinggal disini", balasku,
Meskipun aku sudah 3 bulan disini, aku masih kesulitan ngomong bahasa Sunda. Walaupun aku juga paham apa yang mereka ucapkan.
"A, udah tinggal disini aja, jadi urang Bandung. Siapa tahu jodohnya urang Bandung juga?", sahut Abah menggodaku.
"Hahaha, Abah bisa aja!", Balasku sambil tertawa.
Hari mulai semakin sore, sepulang dari kebun aku langsung beristirahat dan masuk kamar. Aku tiba-tiba kepikiran perkataan Abah tadi siang. Memang semenjak datang kesini, ada seorang perempuan warga sini yang jadi perhatianku. Gadis ini adalah seorang ustadzah yang biasa mengajar ngaji di TPQ depan kosanku. Aku belum tahu namanya, yang aku tahu dia anak pak Haji. Salah seorang tokoh agama yang disegani di kampung sini. Sepertinya Abah tahu kerisauan hatiku.
Aku tetiba teringat percakapan antara bapak, ibu, dan keluarga besar di Jogja beberapa tahun lalu. Mereka bercerita tentang adik sepupunya Bapak, yang barusan bercerai dengan istrinya. Istrinya ini cantik banget, namun dia tergoda oleh pria lain hingga meninggalkan om ku ini beserta anak-anaknya.
"Makanya, aku dulu kayak gak sreg saat Roni nikah sama orang Sunda… Udah cari yang sama-sama orang Jawa aja", begitu celetuk Bapakku.
Dulu aku cuek-cuek saja, sekarang aku kepikiran..
"Waduh, kalau aku mendekati anak pak Haji ini gimana ya tanggapan orang tuaku". Aku kepikiran terus.
Malam itu, aku tak bisa tidur nyenyak.. Jujur, aku galau… Padahal melangkah mendekatinya saja belum…