“Kapan sih LDM ini berakhir,?” aku mecoba mengeluarkan unek-unekku.
“Sabar,” jawaban andalan dari lelaki cuek yang sudah menikahiku hampir 3 tahun lalu.
“Suruh sabar aja terus, aku ikut kamu ke lombok aja ya Mas, Ibu diajak aja sekalian!” ucapku.
“Ga segampang itu dek, Kamu tau kan udah secinta apa ibu sama rumah ini dan udah nyaman sama suasana disini,”.
“Tapi kata ibu kemarin juga udah ngizinin aku ikut kamu lho?” meski rasanya ini tak mungkin karena aku sendiri yang tak tega melihat kalo beliau tinggal sendiri.
“Dek kita udah bahas ini dari sebelum menikah lho,!”
“Tapi mau sampai kapan mas aku harus jauh jauhan dari kamu? Kamu janji beberapa bulan sekali bakal pulang, kenyataannya jarang bahkan bisa dibilang setahun sekali bahkan komunikasi kita berantakan semenjak kamu pindah tugas,? Udah hampir 3 tahun lo mas ini dan masih gini gini aja,!” ucapku panjang lebar
“Kenapa mas? Ga bisa jawab kan,? Siapa tahu kalo kita tinggal bersama, keturunan yang kita harapkan juga hadir,” ucapku semakin lirih kemudian berlalu meninggalkannya mencegah emosi ku dan emosinya bertemu
Selama ini aku berusaha pendam semua ini, tapi kali ini rasanya dia harus tahu bagaimana rasanya memendam rindu setengah mati, bagaimana ocehan ocehan manusia tentang rumah tangga ini, istri yang durhaka lebih mementingkan karir, istri yang ga bisa ngurus rumah jadi tinggal sama mertua bahkan tentang kami yang belum dikasih keturunan.
Bagaimana bisa mereka berkomentar kalo aku lebih mementingkan karir dan juga ga bisa ngurus rumah jadi numpang di mertua padahal nyatanya tinggal bersama Ibu adalah kesepakatan kami dan agar aku tak kesepian dia tinggal, sekaligus menemani ibu yang tinggal sendiri di rumah dan kalo aku memang disuruh resign pun dengan senang hati aku akan melakukannnya. Dan terakhir, tentang kami yang belum mempunyai keturunan, ya bagaimana bisa dikaruniai kalo dia jarang pulang atau ya mungkin memang belum waktunya. Ingin rasanya membungkam mulut mereka, tapi juga tak ada gunanya dan rasanya sayang energi ku kubuang untuk menjelaskan itu semua.
Dari balkon kamar aku menatap langit malam yang bersih tanpa hamparan bintang bintang dengan tatapan nanar, berharap bisa sedikit menenangkan pikiran yang berkecamuk dan juga hati yang bergejolak, hingga aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku dan sudah tentu aku tahu siapa orangnya.
“Maaf,” ucapnya terdengar memelas.
Aku tak berniat membalas ucapanya.
“ Manusia berencana dan Allah lah yang berkehendak dan menentukan, Mas selalu berusaha untuk kita bisa bareng-bareng dek tapi nyatanya sampai sekarang surat pindah tugasku belum diterima, malah sekarang dioper ke Lombok dan sudah pasti jam kerja juga pasien ku juga nambah banyak karena disana memang kekurangan dokter spesialis. Doain dek biar semua dipermudah,” tuturnya begitu tulus.
“Apa ada masalah kamu dengan Ibu, ada perkataan atau perlakuan ibu yang membuatmu sakit hati,?” tanyanya menyelidik menelisik ke bola mataku.
Aku menghela napas “Bukan tentang ibu Mas, Ibu selalu baik, menguatkanku bahkan dari awal aku tak pernah mempermasalahkan jika harus tinggal bersama ibu, tapi ini tentang hubungan kita yang rasanya perlu diperbaiki,!” Aku berkata jujur karena nyatanya ibu mertuakulah yang selalu menguatkanku untuk bertahan menjalani LDM ini dan rasanya aku bersyukur mendapat ibu mertua seperti beliau.
“Sekali lagi aku minta maaf ya dek belum bisa jadi suami seperti yang kamu mau, aku janji bakal lebih sering pulang dan sering ngabarin kamu, memperbaiki komunikasi kita. Terima kasih sudah mau tinggal sementara bersama ibu dan selalu sabar,” ucapnya sembari menggenggam tanganku dan memelukku.
“Semoga aku kuat Mas,”ujarku dalam hati.