Kejutan untuk Awan ( Part 02 )
Aku menengadahkan kepala menatap langit malam ini. Cerah namun tanpa bintang-bintang hanya ada satu bulan sabit ditengah awan. Bagiku langit selalu menenangkan seriuh apapun duniaku saat ini, langit selalu bisa memberikan sepaket kebahagiaan dan keindahan yang tak pernah kudapat semenjak hari itu.
Hari dimana aku memulai babak tunggalku untuk benar-benar berjuang sendiri. Setelah lulus sekolah dasar, ibu dan bapak sepakat mengirimku ke asrama diluar kota jauh dari tempat tinggalku dengan dalih agar aku bisa belajar lebih mandiri dan berjanji mengunjungiku beberapa bulan sekali. Meski nyatanya hanya ibu ataupun tante dari ibu yang terkadang mengunjungiku bergantian, sekedar untuk mengahadiri rapat antar wali murid atau mengambil rapor hasil belajarku. Dan bodohnya aku selalu berusaha memahami, mungkin bapak ibu sibuk dengan urusannya atau mungkin ini cara bapak ibu mendidik anak tunggalnya agar bisa mandiri. Enam tahun penuh dari SMP hingga SMA kuhabiskan di asrama karena kata Ibu tak usah pulang sebelum aku menamatkan sekolahku disini, buang-buang biaya untuk pulang. Lagi-lagi aku pun tak mempermasalahkannya dan berjanji akan menjadi lulusan terbaik untuk memberi kejutan bapak ibu agar bangga.
Dan saat itu saat hari kelulusan ku tiba, aku benar-benar menjadi lulusan terbaik, saat itu pula Ibu hadir dengan membawa kejutan untuk ku, kejutan dengan hadir bersama seorang laki-laki yang katanya harus kupanggil dengan sebutan Ayah. Ayah yang selama ini membiayai sekolahku, bukan Bapak, katanya. Ayah yang tak kutahu alasannya mengapa harus ku panggil dengan sebutan Ayah. Ayah yang dengan bangganya menerima ucapan selamat dan memperkenalkan diri kepada teman-temanku, kepada semua orang yang hadir di hari itu bahwa dialah Ayah dari lulusan terbaik tahun ini, Ayah yang aku sendiri saja sama sekali tak pernah mengenalnya. Ya Tuhan Kejutan macam apa lagi ini?
Aku mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi hingga tiba di sebuah ruang administrasi asrama dan hanya menyisakan kami bertiga, aku mencoba membuka suara untuk pertama kalinya,
“Kenapa Dia yang datang bukan Bapak”
Kalimatku sukses membuat dua pasang bola mata menoleh ke arahku, dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
“Lupakan Bapakmu itu, dan ini Ibu bawakan Ayah untukmu” napasku langsung tercekat mendengar ucapan ibu tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Ibu meninggalkan bapak demi laki-laki ini?” Aku tak percaya.
“Apa kamu bilang?” ucap laki-laki itu menimbrung
“Kenapa? Dimana bapak ku, kenapa anda yang datang?”
“Dasar anak tak tahu diuntung, kalo bukan karena saya, kamu tak bisa jadi lulusan terbaik, bapakmu itu yang ninggalin kamu dan ibumu, saya yang membiayai sekolah kamu, mau jadi apa kamu kalo tanpa saya, Hah..?”
“Saya nggak minta anda membiayai sekolah saya!”
Satu tamparan mendarat di pipi kiriku.
“Awan…. Minta maaf ke Ayahmu, Apa ini yang diajarkan di asrama selama 6 tahun, berani melawan orang tua,!”
Pandanganku kabur tanganku terkepal, gigiku menggertak berusaha menahan butiran-butiran kristal bening ini agar tak jatuh disini. Untuk pertama kalinya aku mendengar bentakan seorang yang selama ini aku jadikan sandaran dan segani.
“Bapak dimana? Apa benar bapak sudah tak peduli denganku?”
Aku hanya bisa bertanya dalam hati, sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan berharap ini hanya kejutan atau mimpi, ya meskipun aku tahu….. Ini kejutan nyata, teramat nyata dengan bekas dipipiku.