nyiram
seperti batinku terlangitkan. setelah hampir tiga hari tidak mengorbit di area rumah, menengok ke jendela lalu batin bergumam yaaAllaah ini pada kering, nanti sore kali ya disiram, tapi ini badan masih sakit sakit kerjaan belum beres, apa sempat. setelah yaudah gimana nanti, melangkah ke dalam rumah. lalu ternyata bunyi rintik tiba, lantas menderas. allahumma shayyiban naafi'an. rasanya benar benar seperti tersampaikan. kemudian balasan surat yang dikirim cepat sekali tibanya. padahal bisa jadi ini gede rasaku saja. di luar sana, mungkin ada suara batin lain yang lebih kuat dan membutuhkan lalu inilah jawabnya. bukan jawaban dari suara batin yang sesaat sepertinya lebih dilatari keluhan dan malas. iya yang barusan itu aku maksudnya.
tapi di luar itu, syukur tetap harus dilangitkan kembali harap harap turun balasan hujan berkah. Allaah tambah nikmat hamba-Nya yang bersyukur. apa salahnya kegeeran bahwa Allaah sayang, 'kan. asal tahu diri memposisikan agar sungguhan pantas disayang Allaah (menampardirisendiri).
jangan-jangan, batin batinanku yang lain sudah terlangitkan lalu sampai. aduh.















