Novel “Semua Ikan di Langit” yang Rumit Seperti Nama Pengarangnya, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Saya pernah bertemu sekali dengan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Nama yang rumit, unik, nyentrik, sekaligus panjang, bukan? Ketika itu, kami sama-sama menjadi pembicara dalam Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan pada bulan September 2016. Beliau adalah “senior” saya di serial Fantasteen yang dinaungi oleh penerbit kami yaitu DAR! Mizan.
Ketika kami bertemu di sana, sang pembawa acara talkshow menanyakan kepada Ziggy, mengapa namanya begitu unik? Dengan malu-malu, perempuan dengan rambut pendek sebahu itu menjawab bahwa nama yang panjang itu adalah pemberian ayahnya. Ayahnya memang gemar memberi nama anak-anaknya dengan nama yang nyentrik. Ziggy berujar saat itu bahwa ia sangat mengapresiasi siapapun yang dapat menyebutkan namanya dengan benar.
Perempuan itu begitu malu-malu. Berbanding terbalik dengan karya-karyanya yang sangat “berani”. Ziggy telah menerbitkan 22 novel dengan berbagai aliran, di antaranya horor, fantasi, dan fiksi romansa. Novelnya yang lain di antaranya adalah White Wedding, Teru-Teru Bozu, Saving Ludo, dan Jakarta Sebelum Pagi.
Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta adalah sayembara novel tingkat nasional yang sangat bergengsi. Total hadiahnya ratusan juta rupiah. Ziggy adalah salah satu kandidat yang menempati posisi atas. Tahun 2015 karyanya yang berjudul “Di Tanah Lada” memenangkan juara dua. Tahun selanjutnya, karyanya yang berjudul “Semua Ikan di Langit” berhasil memenangkan juara pertama. Khalayak jadi dibuat penasaran, sehebat apa tulisan Ziggy kali ini sampai-sampai ia mengalahkan seluruh peserta Sayembara Novel DKJ dengan mudah? Menunggu karyanya terbit memakan waktu cukup lama hingga akhirnya “Semua Ikan di Langit” muncul di pertengahan tahun 2017.
Sampulnya didominasi oleh warna hijau dan merah. Di bagian tengahnya terdapat sebuah bus yang tengah terbang dengan seorang anak lelaki berjubah yang duduk di atasnya diiringi dengan ikan julung-julung yang terbang. Di bagian atas, terdapat judul novel “Semua Ikan di Langit” berwarna putih. Di bagian bawah, terdapat nama penulis yang unik itu, “Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie” di dalam latar berwarna hijau.
Blurb novel menceritakan sekilas kepada pembaca bahwa ini adalah kisah sebuah Bus Damri dengan trayek Dipatiukur – Leuwipanjang yang bertemu Beliau. Bus itu memulai trayek baru melintasi angkasa, ruang, dan waktu bersama Beliau.
Pada awalnya, pembaca pasti kurang paham apa hubungannya antara ikan di langit, bus, dan Beliau. Pembaca juga merasa kurang yakin mengapa Beliau dicetak dengan huruf “B” yang besar dalam setiap cerita. Dalam buku, sosok Beliau digambarkan sebagai anak lelaki yang bertubuh kecil, memiliki tangan dan kaki yang kurus, serta kedua pipinya tampak berisi. Kakinya melayang. Mantelnya menyentuh tanah. Dia tak tidur dan beristirahat. Dia tak bernafas. Siapa dia sebenarnya?
Ketika membaca halaman pertama, pembaca merasa diculik ke dimensi yang lain. Lagi-lagi pembaca pasti bertanya dalam hati, akan dibawa ke mana oleh Ziggy? Seiring halaman demi halaman berlalu, pembaca akan dibawa turut serta dalam perjalanan tokoh “saya” yakni si bus itu sendiri yang terbang ke angkasa luas bersama Beliau. Tak lupa, ikan julung-julung selalu mengitari Beliau dan juga Nad, seekor kecoa bule asal Rusia yang anaknya telah mati dan menjadi ikan julung-julung yang selalu menemani Beliau kemana pun Beliau pergi.
Bab-bab selanjutnya mulai membuat pembaca memahami sedikit demi sedikit siapa Beliau ini. Hal yang membuat Beliau bahagia adalah dipuji untuk hal-hal yang setiap Beliau lakukan. Hal yang membuat Beliau sedih adalah peperangan. Dia akan menjahit hati yang rusak. Hal yang membuat Beliau marah adalah orang yang tidak punya sopan santun terhadap orang tua.
Perjalanan di langit yang gelap, permen-permen di luar angkasa, dan hal-hal yang membuat heran sekaligus menakjubkan terus pembaca lalui bersama bus, Nad, dan ikan julung-julung itu. Sosok Beliau selain disegani, Dia juga dicintai. Kebaikan-kebaikan yang Beliau lakukan terhadap sesuatu di sekitarnya dan seisi dunia membuat saya turut menyayangi sosoknya.
Ikan julung-julung yang mengiringi Beliau begitu memesona. Mereka bisa serdawa. Ketika mereka serdawa, yang keluar adalah pendar perak yang berhamburan di udara. Sang bus memaknainya sebagai cikal bakal bintang yang bertaburan. Pembaca dibawa pergi berkelana jauh dengan hamparan keindahan pada setiap kata-katanya.
Tapi, perjalanan ke luar angkasa serta menembus ruang dan waktu itu tidak selamanya menyenangkan. Menjelang akhir, Ziggy menyuguhkan konflik besar dan menjadi sebuah rahasia yang terkuak dalam buku ini. Ziggy menggambarkan konflik Beliau dengan seorang lelaki memakai kaos merah dengan rompi yang banyak sakunya, berambut dan berjenggot keriting berwarna coklat kemerahan. Salah satu matanya rusak. Orang-orang menyebut lelaki itu Membingungkan. Namanya sungguh membingungkan, bukan? Ikan julung-julung memperingati sang bus untuk waspada dan tetap berpikir secara jernih ketika menghadapi lelaki itu.
Si Membingungkan menghancurkan segala sistem kehidupan. Dia menghasut para wanita supaya membunuh dan menggunakan darah korbannya untuk mandi agar tetap awet muda. Keberhasilan para wanita itu membuat para lelaki turut serta melakukan hal yang sama agar awet muda. Kemudian, seiring berjalannya waktu orang-orang tersebut berubah menjadi manusia berkulit merah. Manusia semakin langka karena semakin banyak yang dibunuh. Pembunuhan menjadi halal. Manusia-manusia berkulit merah itu hidup bergantung pada si anak jahat itu. Si Membingungkan tertawa terbahak-bahak. Manusia-manusia merah itu diibaratkan dengan kambing tolol. Si Membingungkan menghina Beliau.
Bus Damri yang merasa kesal itu pun melakukan perlawanan pada si Membingungkan menyebabkan kemarahan yang luar biasa. Lelaki jahanam itu menghancurkan bus hingga hancur berkeping-keping. Seluruh alam semesta hancur. Segalanya jadi gelap untuk sesaat.
Lalu jadilah terang. Muncul dunia baru. Plat kuning milik bus kembali. Penantian Beliau usai sudah.
Ketika pembaca telah selesai membaca novel sebanyak 259 halaman ini, pembaca barulah akan memahami banyak hal. Ziggy memanifestasikan Tuhan dalam bentuk tubuh anak kecil lelaki bernama Beliau. Sekumpulan ikan julung-julung berpendar yang senantiasa mengelilingi Beliau ialah malaikat yang siap siaga menemani Beliau agar tak kesepian. Ziggy menciptakan bus yang sederhana sebagai sosok baik yang diselamatkan Beliau atas kepatuhannya.
Sang pengarang mencoba mengisahkan kepada pembaca bahwa mencintai Tuhan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Memujinya dan memercayainya. Pembaca akan menyukai gaya penulis yang mencoba mengajari kita tentang mencintai Beliau dengan cara-cara yang ajaib dan menakjubkan tetapi tetap tidak mengurangi esensi ketuhanan itu sendiri. Pembaca bisa merasakan kasih sayang Beliau kepada orang-orang yang berbuat baik di novel ini.
“Tapi tidak pada setiap waktu, mencintai Beliau dilakukan dengan cara yang benar! Heheheh…” (halaman 191)
Kalimat itu akan membuat pembaca terhenyak beberapa detik. Kalimat tersebut sarat makna. Terkadang, kita mengakui bahwa kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, tapi kita tidak tahu apakah caranya sudah benar atau belum. Dengan bukunya, Ziggy mencoba memberi tahu tanpa maksud menggurui. Novel ini berkisah tanpa sama sekali merujuk pada suatu agama tertentu.
Ziggy juga mengaitkan si Membingungkan sebagai Dajjal. Menurut ajaran Islam, Dajjal muncul sebagai salah satu tanda akhir dari zaman. Kemunculan pria bermata satu itu menyebabkan kerusakan seluruh dunia beserta isinya yang kita kenal dengan kiamat. Dengan berbagai rujukan kisah, Ziggy mengemas kisah manusia di ambang kehancuran dengan tali temali yang erat. Ziggy memaparkan kisah “sakral” dengan cara yang tak kaku namun tetap memiliki makna yang sama.
Saya juga mengapresiasi Ziggy yang memilih bus sebagai tokoh “saya”, tokoh utama yang tak pernah terpikirkan oleh seluruh pembaca. Bus yang memiliki karakter berbadan gendut, besar, kokoh, serta berwarna biru ini begitu bersahaja mengantarkan Beliau kemana pun yang Dia inginkan. Kepatuhan tokoh “saya” ini benar-benar mencerminkan seorang hamba yang diharapkan Tuhan. Kelak, hamba yang baik akan diselamatkan Tuhan ketika dunia ini berakhir. Kita dapat memetik banyak hal dari kepatuhan tokoh “saya” ini terhadap Beliau.
Awalnya, pembaca akan merasa takut untuk menempatkan diri ketika membaca novel ini. Berada di mana ia sekarang? Akankah ia menganggap Tuhan sebagai anak lelaki bertubuh kecil dan kurus pula? Pembaca dibuat sampai lupa jika yang dibaca ini adalah sebuah karya fiksi belaka. Akhirnya, pembaca kembali jalur yang benar, menempatkan diri pada posisi pembaca yang seolah-olah tengah menonton pertunjukan bioskop.
“Tapi menurut saya, kalau Tuhan mau membuat sesuatu dengan tidak sempurna, Dia bisa saja. Dia kan bisa melakukan segala hal; mungkin saja membuat sesuatu dengan begitu sempurna, mungkin saja membuat sesuatu dengan tidak sempurna. Masalahnya kan manusia saja yang melihatnya dengan cara yang berbeda, membangun opini mereka sendiri tentang apa yang sempurna dan tidak sempurna. Mereka anggap sesuatu ini, anggap sesuatu itu; padahal sebenarnya penilaian mereka itu tidak ada artinya. Sempurna itu hanya konsep buatan, diciptakan karena mereka – kita – suka menilai dan menghakimi satu sama lain. Yah, begitulah manusia!” (halaman 121)
Novel ini selain erat kaitannya dengan ilmu sains dan agama, juga mengandung sindiran-sindiran halus bagi kaum manusia yang ketika kita membacanya akan berpikir, “Wah, benar banget, nih!”
Salah satu kalimat sindiran yang saya sukai dalam novel ini adalah, “Kadang-kadang justru mahluk yang tidak hidup memiliki kemampuan lebih baik untuk mencintai.”. Kalimat tersebut terdapat di halaman 185 dan sangat relevan dengan kehidupan manusia. Terkadang manusia yang punya hati bertindak semena-mena dalam mencintai, bahkan kalah dengan makhluk tak hidup dan tak punya hati.
Novel “Semua Ikan di Langit” berkisah dengan gaya tutur narasi. Hanya ada sedikit percakapan di dalamnya. Bisa dibilang, delapan puluh persen adalah narasi sudut pandang “saya” sebagai bus. Gaya tertawa “hohohohoho” dalam novel ini adalah salah satu hal yang saya sukai ketika novel lain tertawa dengan gaya “hahahahaha”. Banyak filosofi tentang hidup dituangkan dalam novel ini.
Ketika pembaca masuk semakin dalam ke dalam novel, akan ada rasa khawatir yang menghinggapi hati. Semoga buku ini tidak dianggap sebagai “penistaan agama”. Ziggy seolah mengumpamakan Tuhan sebagai sosok anak kecil yang diikuti ikan julung-julung kemana pun ia pergi. Ada dua bab yang menyamai kisah kaum Nabi Luth dengan kaumnya yang zalim dan Nabi Ibrahim yang selamat ketika dibakar.
Memang, topik seperti itu agaknya terdengar sensitif di sebagian telinga khalayak. Apa lagi kisah seperti ini erat kaitannya dengan agama. Tampaknya akan ada beberapa yang merasa nyaman dan tak nyaman saat membacanya. Entahlah, terlepas dari fantasi gila yang dikemukakan Ziggy dalam novelnya, pembaca tetap bisa menikmati karya “Semua Ikan di Langit” sebagai fiksi sekaligus fantasi. Tak nyata sekaligus khayal. Yang harus diingat adalah seorang penulis adalah “Tuhan” bagi tulisannya sendiri. Tugas pembaca adalah mencari kesenangan dan emosi-emosi lain yang terkandung dalam sebuah karya.
Tampaknya, novel ini adalah novel yang pantas memenangkan juara pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Apalagi, ketika itu tidak ada juara kedua dan ketiga yang dipilih juri karena merasa tidak ada karya yang mendekati karya spektakuler Ziggy ini.
Secara keseluruhan, novel “Seluruh Ikan di Langit” pantas diberi apresiasi yang setinggi-tingginya. Novel yang berkisah mengenai bus yang berpetualang bersama Beliau ini mungkin hanya ada satu di segenap dunia ini. Tak ada duanya!