"إن الله لا يَنسى قلباً لجأ إليه" ...
seen from China
seen from China

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Austria

seen from Maldives

seen from Uzbekistan
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
seen from Austria

seen from Australia
seen from Japan
seen from Saudi Arabia

seen from Saudi Arabia
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Vietnam
seen from Saudi Arabia
seen from Singapore
"إن الله لا يَنسى قلباً لجأ إليه" ...
اللهُمَّ غَيِّرني حتَّى تُحِبُّني
Oh Allah, change me until You love me
I'm jealous of the rain.
Alba Raja
KARENA BAHAGIA TAK SELALU DENGAN TAWA
(Lima hari menjadi pengamat rumah tangga)
—–
Liburan kemarin, aku mendapat kesempatan menginap di rumah sahabat lamaku yang menikah dua tahun lalu dan sudah dianugerahi seorang putri yang cantik. Akupun menjadi saksi bahwa mengurus keluarga memang tidak seenteng bayangan bujang lapuk dan tidak seindah imajinasi para perawan. Di balik kemesraan pasangan muda yang malang melintang di jagat dunia maya, tersimpan jutaan cerita pahit rumah tangga yang mereka sendiri pun enggan ceritakan. Hal yang selalu kuyakini sejak remaja, bahwa pernikahan bukanlah hal yang sepele dan berisi haha-hihi saja. Keyakinan yang hingga beberapa saat kemarin, masih menggelayut di ujung kening, membuatku selama ini berlari menjauhi pernikahan, takut darinya, mengabaikannya, bahkan sangat enggan berpikir kesana. Aku tahu aku manusia yang butuh cinta, namun tidak sekarang. Tidak di saat aku masih muda dan anganku masih sangat panjang.
Jadilah aku seorang wanita yang bersikap anti dengan pernikahan dini. Aku yakin bukan saatnya membicarakan ini. Bukan di saat studiku sedang mengasyikkan, bukan ketika aku masih punya banyak pekerjaan dan keinginan.
Namun, di tengah-tengah kesasksianku akan beratnya kehidupan berkeluarga, justru hatiku diketuk, “Lantas mau sampai kapan kau bermain-main?”
Kau mengasihani kehidupan mereka yang tampak sukar namun bisa jadi mereka pun mengasihanimu, yang terlanjur tertipu dengan kelalaianmu dan sudah terseret jauh dengan keegoisanmu.
Lihatlah mereka yang sudah berpasangan. Memikul tanggung jawab yang sebenarnya, sehingga tak ada lagi celah bagi mereka untuk menghindar. Melelahkan? Ya, sangat. Namun hidup mereka bertujuan. Kegiatan mereka terarah. Tak ada lagi waktu bersantai, karena harus menanggung urusan keluarga. Tak ada lagi keegoisan, karena harus memikirkan kepentingan bersama. Bersabar. Mengalah. Berjuang. Merelakan. Berubah menjadi bentuk kebahagiaan baru yang tak bisa dirasakan kecuali oleh mereka yang sudah menjalaninya. Titik balik menuju kedewasaan yang nyata.
Terlebih bila semua pengorbanan itu berlandaskan ibadah. Sungguh indah, hati yang kian pasrah pada ketentuanNya, badan yang makin giat mencari keberkahan dariNya, pengharapan yang penuh pada luas rahmatNya, lisan yang saling mengingatkan bahwa tujuan mereka surga. Tak ada kesempatan memikirkan caci dan opini orang lain. Hanya terus berharap Allah meridhoi cinta mereka, keturunan mereka, letih mereka. Hanya berharap semuanya tak akan menjadi kesia-siaan di akhirat nanti.
Semoga Allah merahmati mereka yang berusaha menjaga kehormatannya dengan jalan pernikahan, semoga Allah membantu mereka yang berjuang membina cinta karenaNya, semoga Allah membahagiakan mereka dengan rezeki yang berkah dan keturunan yang menyejukkan dada.
Dan sekembalinya aku, bukan bertambah anti justru aku mengerti. Tak lagi berlari aku pun mendekati. Semoga siapapun ia yang menjemputku melalui Papa adalah yang setia bersamaku mengejar Firdaus Al A'la. Bersedia berdua saja dalam romansa kehidupan yang pahit dan manis kadangkala.
“Ia memberi hikmah pada siapa saja yang Ia inginkan, dan mereka yang diberikan hikmah sungguh telah diberikan kenikmatan yang berlimpah. Dan yang mengambil pelajaran hanyalah orang-orang berakal.” (Al-Baqarah: 269)
——
Being inspired by you two, my inspiring couple: Arin dan Ihsan. May Allah bless your marriage life forever💞
#Silmemo by @nitasilmey 2017/04/11 17:30
I start this morning with a usual routine, praying, cleaning, reading some news, planning on what I’ll study for today and preparing my application for hospital clerkship comprehensive test. As I open the file to my certificate photo for the application, I stumble into some old photos. Quickly, I uploaded the photo that I need and immediately send them so I could see the old photos that I found.
The photos were taken when I was in junior high, note that I’ve finished my undergraduate study recently, it was sure an old one. It happened 10 years ago, for God sake! Such a long time, I don’t realize. Let me tell you a secret that I haven’t told anyone until now, those time when I was in junior high was the best moment I’ve ever had! My image of contentment paused in that 3 years of time. And every time I saw the photos, I wish I had realized that sooner.
You might not believe me when I tell you this, but let’s go to the beginning... In my elementary school, I was that kind of kid who got bullied every day. I have no friend until 6th grade. My money was taken, some animal corpse was found in my back, my hair was pulled, and even the hijab that I wear was gone sometimes. Each day I felt like I was in the deep abyss, I feel the torturing won’t end if I’m not dying. I tried putting up a fight, but it’s useless, it’s a group vs. me and me alone. I told my teacher and my mother that I was scared, but it’s no use. I was so scared going into the school, I usually pretended to be sick so that my mom wouldn’t ask me to go. Until, I finally graduated from there.
I was accepted in SMPIT Nur Hidayah, a junior high school that was located in a city called Solo, in Central Java. It was a simple green school (the paint is green, not that it was full of greenish tree :p so it was scorching hot out of the building) in the middle of paddy rice field. You couldn’t find any building in the radius of 2 km, not even a proper pathway in my first year. Yet, it was at that time when my journey began... It’s the place where I could actually found myself, where I learn how to cope with my problem, where I find some building that I could practically called ‘home’ other than my real home, where my heart felt content. I can’t really recall where that feeling comes from, perhaps it is from the understanding friends, a religious routine, a caring and loving teacher (we used to call our teacher ustadz/ ustadzah), and a selfless friend who will love you for whoever you are. I thank Allah for giving me those moments that I could remember and cherished every time I felt apart. Thanks for Giving me my parents who’s not giving up on me and my best friends who love me for whoever I am and whatever I become. Miss you girls :’)
I hope and pray that every moment will last like that. If I could meet elementary student self, I’ll tell her that you’ll be okay. You’ll work everything out, soon. And I know now, that everything will be okay as long as you believe in Him. Didn’t He already said in the Qur’an?
“So, verily, with every difficulty, there is relief. Verily with every difficulty there is relief.”
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا .. إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرً۬ا
This view😍
Raazi hain hum ussi mein, jismein teri razaa ho..
اَسْتَغفِرُاللّٰہَ رَبِّیْ مِنْ کُلِ ذَنْبٍ وَّاَتُوْبُ اِلَیْہِ
•
میں اللہ سے تمام گناہوں کی بخشش مانگتا ہوں جو میرا رب ہے اور اسی کی طرف رجوع کرتا ہوں۔
•
I seek forgiveness for all my sins, from Allah, who is my Lord. And to Him I turn.