Dia bilang merindukanku, tapi langkahnya tetap menjauh.
Katanya ingatan tentangku masih melekat, tapi tangannya tak pernah berusaha menggenggam lagi.
Aku belajar bahwa rindu saja tak pernah cukup untuk membuat seseorang kembali.
Andira Wu
seen from South Korea

seen from United States

seen from Greece

seen from Italy
seen from Ecuador

seen from Argentina

seen from Belgium

seen from Germany
seen from South Korea

seen from Belgium
seen from China
seen from Belgium
seen from Pakistan
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Greece
seen from United States
seen from Germany
seen from Pakistan

seen from Canada
Dia bilang merindukanku, tapi langkahnya tetap menjauh.
Katanya ingatan tentangku masih melekat, tapi tangannya tak pernah berusaha menggenggam lagi.
Aku belajar bahwa rindu saja tak pernah cukup untuk membuat seseorang kembali.
Andira Wu
Be her safest place to fall. Don't make her hate herself because she loved you.
Excerpt from the book I’ll never write #88
Ini tentang hujan dan mengikhlaskanmu, bukan tentang kita. Ini tentang bagaimana aku ikhlas menerima jalan yang Dia tentukan, tentang seberapa kuatnya aku menjaga hatiku, dan juga tentang sebanyak apa lelahku berdo'a di sepertiga malam-malamku. Aku tidak meminta ditunggu ataupun menunggu, kamu bebas menentukan pilihanmu. Bukankah hidup selalu tentang menerima dan melepaskan, ditinggalkan dan didatangi, itu semua selalu siap aku terima. Aku terlalu lelah bercerita terus menerus tentang perasaan yang tidak sempat tersampaikan atau malah memang sudah terlalu terlambat untuk tersampaikan, akupun tak tahu lagi harus seperti apa menanggapi sikapmu yang memang seperti itu. Mau tak mau harus aku jalani semuanya dengan penuh keikhlasan, kehilanganmu. Hujan malam ini begitu setia menemaniku, berbohong sejenak tentang mengikhlaskanmu.
@langitsenjatanpamu
Adakah rasa penyesalan darimu karena tidak mencoba lebih keras? Atau mungkin, bagimu, aku memang tidak pernah cukup penting untuk diperjuangkan? Aku terus bertanya-tanya, apa aku terlalu cepat menyerah, atau justru kamu yang tak pernah benar-benar memulai. Setiap malam, bayangan akan 'seharusnya' menghantuiku—seharusnya kita bicara lebih jujur, seharusnya kita saling memahami lebih dalam. Tapi pada akhirnya, hanya aku yang bertahan di persimpangan itu, menunggu sesuatu yang bahkan kamu sendiri tak ingin kejar. Mungkin, penyesalan ini hanya milikku saja, tak pernah dimiliki olehmu.
Adakah sesal? // Andira Wu
Yang berbahaya adalah dirimu sendiri.
Karena kamu bersedia untuk terus mencoba lagi dan lagi.
Seakan senang menguji dirimu sendiri.
Seberapa dalam luka yang sanggup kamu terima.
Seberapa lama kamu bisa bertahan mencintai seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar menggenggammu.
Andira Wu
Kamu tetap menjadi pemenangnya, bukan karena kamu pantas, tapi karena aku yang terlalu tulus. Karena aku mencintaimu tanpa syarat, bahkan saat hanya setengah hatimu yang terlibat. Mulai saat ini aku akan berhenti berlari meski bayangmu masih jauh di depan—bukan karena aku kalah, tapi karena aku sudah lelah.
Andira Wu
Jantungku selalu berdebar lebih cepat setiap kali namamu muncul di notifikasi.
Sesekali kamu menyukai IG storyku, sesekali kamu membalas dengan singkat—cukup untuk membuatku bertanya-tanya.
Aku hampir mengetik pesan yang seharusnya tidak kukirim.
Aku hampir mengatakan bahwa aku masih merindukanmu.
Tapi kemudian aku sadar, kamu tak pernah mengirimiku pesan dari nomor pribadimu.
Kamu punya nomorku, masih sama seperti dulu, tapi entah mengapa, kamu memilih untuk tidak menggunakannya.
Mungkin aku hanya sekadar seseorang yang kamu ingat sesekali, bukan seseorang yang ingin kamu cari.
Dan di antara semua “hampir” yang pernah ada, aku sadar—aku hampir lupa bahwa kamu sudah lama berhenti memilihku.
Andira Wu
Sejak kepergianmu, aku kini bisa minum kopi. Sesuatu yang sebelumnya tidak bisa kulakukan. Menerima kepahitan kini terasa seperti kebiasaan baru—pahit yang mengingatkan bahwa aku pernah mencintai, dan pernah kehilangan.