seen from Malaysia
seen from Canada
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Mexico

seen from United States

seen from United States
seen from Argentina
seen from Spain

seen from United Kingdom
Mitsaqan Ghalizha: Janji Berat di Hadapan Allah
Akad nikah sering berlangsung singkat.
Beberapa kalimat diucapkan, saksi mengiyakan, doa dipanjatkan, keluarga tersenyum lega.
Namun di balik singkatnya lafaz itu, ada amanah yang panjang.
Pernikahan bukan sekadar hari bahagia yang dirayakan.
Bukan hanya busana, dokumentasi, undangan, dan ucapan selamat.
Ia adalah perjanjian yang kelak akan ditanya oleh Allah.
Allah menyebutnya dengan kalimat yang berat:
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul dengan sebagian yang lain, dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa: 21)
مِيثَاقًا غَلِيظًا
Perjanjian yang kuat.
Kalimat ini menahan seorang mukmin agar tidak memandang rumah tangga dengan ringan.
Suami tidak mengambil istri sebagai milik yang boleh diperlakukan sesuka hati.
Ia menerima amanah yang harus dijaga dengan takut kepada Allah.
Istri pun tidak memasuki ikatan itu untuk kehilangan kemuliaannya.
Ia masuk ke dalam rumah yang semestinya menjadi tempat penjagaan, rahmah, dan ketenangan.
Karena itu, pernikahan tidak cukup ditopang oleh rasa suka di awal.
Rasa bisa berubah.
Keadaan bisa sempit.
Harapan bisa bertemu kenyataan yang tidak selalu sama.
Tabiat pasangan yang dahulu tampak kecil bisa terasa berat ketika dijalani setiap hari.
Di sana nilai sebuah akad diuji.
Bukan ketika semuanya mudah.
Melainkan ketika kecewa datang, lisan sedang ingin menang, dan hati sedang merasa paling terluka.
Janji yang kuat terlihat bukan hanya saat cinta terasa manis, tetapi saat seseorang tetap menjaga adab ketika sedang tidak nyaman.
Maka jangan meremehkan kata-kata yang melukai.
Luka di rumah sering tidak terdengar oleh orang luar, tetapi Allah mengetahuinya.
Jangan mudah membuka aib pasangan demi mencari pembelaan.
Jangan menjadikan nafkah, kedudukan, atau kelebihan diri sebagai alat untuk merendahkan.
Jangan menggunakan diam sebagai hukuman yang memutus kasih sayang terlalu lama.
Jangan mengumpulkan kelemahan pasangan untuk dijadikan senjata ketika marah.
Sebab pasangan bukan lawan yang harus dikalahkan.
Ia amanah.
Ia manusia yang Allah hadirkan untuk diperlakukan dengan adil dan ihsan.
Ia teman perjalanan yang sama-sama membutuhkan ampunan Allah.
Rumah tangga tidak selalu lembut setiap hari.
Namun banyak pahala tersembunyi di dalamnya.
Pahala ketika menahan lisan dari kalimat yang bisa menghancurkan.
Pahala ketika meminta maaf meski gengsi masih terasa berat.
Pahala ketika tetap menunaikan hak, walau hati sedang belajar pulih.
Pahala ketika memilih memperbaiki, bukan membalas.
Pahala ketika mengingat bahwa Allah melihat apa yang terjadi di balik pintu rumah.
Untuk yang belum menikah, ayat ini mengajarkan agar tidak memasuki pernikahan hanya dengan bekal perasaan.
Siapkan iman, adab, tanggung jawab, dan kesiapan untuk belajar.
Untuk yang sudah menikah, ayat ini mengingatkan agar akad tidak hanya dikenang sebagai tanggal.
Ia perlu dihidupkan dalam cara berbicara, cara menafkahi, cara menghargai, cara meminta maaf, dan cara menyelesaikan luka.
Jika suatu hari rumah terasa berat, ingat kembali bahwa hubungan ini tidak dimulai dengan permainan.
Ada nama Allah yang disebut.
Ada keluarga yang menitipkan harapan.
Ada amanah yang harus dijaga.
Ada perjanjian yang kuat.
Maka rawatlah pernikahan dengan ilmu, sabar, dan takut kepada Allah.
Bukan karena pasangan selalu sempurna, tetapi karena akad itu berat di hadapan-Nya.
Ya Allah, berkahi rumah tangga kaum muslimin.
Jadikan pernikahan mereka tempat tumbuhnya sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Lembutkan hati suami dan istri dalam menjalankan amanah.
Jauhkan mereka dari zalim, khianat, dan keras hati.
Jadikan rumah mereka jalan untuk semakin dekat kepada-Mu.
Aamiin.
Invincible
Season 1: March 25 - April 29 2021
Season 2: November 29 2023 - April 4 2024
They're very much in love with each other, but refuse to admit.
Well get soon Annisa.
when: mid-february, early evening with: @annisa--adler where: anchorage regional hospital
The inescapable clutches of Death had already wrung themselves around Dr. Amoretto's very life; but that didn't make him any more comfortable with the concept. The mausoleum of his chest housed phantoms still grasping at outdated tradition, religion, and belief; and even though the good doctor had since left the shackles of the title of Catholicism in the dust behind him, it wasn't merely the artificial temperature that chilled him when he stepped into the morgue. By nature, he hated that place and what it housed.
The silence sent a sharp shiver down his spine. Goosebumps rose on his skin, refusing to warm up and go away. He didn't feel right...
No, no, it was simply just his general unease with the location itself. It was going to be fine...
—So why wasn't anyone down here? No medical examiners, no pathologists, no autopsy technicians, no maintenance or custodians. Not a soul to be seen. He bit his lip pensively as he peeped around, looking for anyone who could have helped him. "Hello?" he called out meekly. "Dr. Amoretto here, f-from pediatrics. D-Dr. Louro left his p-p-pager down here, and I was just...c-coming to fetch it..." It had been a simple errand, as Leo had finished a long day of hospital rounds (he'd always preferred clinic work, but this was his duty too). Still clad in his usual long-sleeve button-down, tie, and suspenders that he wore under his esteemed white coat, his colleague had tagged him for the quick errand. Leo wasn't fond of poking around the morgue, but here he was—so why wasn't anyone else here that was supposed to be? There was always somebody around, right?
A metallic sound just out of sight stopped Leo's breath in his throat. He froze in place, not even letting his lungs inflate with oxygen. "Hello?" he called out again. "This is. D...D...Dr. Leonardo Amoretto, p-pediatrics, my colleague f-forgot something down here, a-and I wanted to see if...if you'd seen it..." He crept closer in the direction of the sound. This is ridiculous, nothing is going to be haunting the morgue, ghosts aren't real...right? Cautiously he began rounding a corner, hoping he wouldn't look too foolish if it ended up just being a living, breathing human making the noise. "I d-don't mean to...to intrude, I'll..." His voice got stuck in his throat. "I'll be qu—quick and get out of your way..."
Christmas Eve 2021 🤍
https://www.instagram.com/p/CEUvs85Dn7-/?igshid=svahq8cube2q