berdamai dengan kecemasan
Jumat 4 desember 2020 kemarin , saya mendapat kesempatan buat join kegiatan rutin bercerita bercengkrama . kegiatan yang selalu ada setiap jumat malam dari komunitas menjadi manusia. Hari itu kita ngebahas tema yang cukup menarik, dan tentu saja pernah di alami hampir setiap manusia, yaitu kecemasan. Yang hari itu medatangkan kak Edward Septianto Ghani,M.Psi., seorang psikolog klinis , membantu kita menjawab segala pertanyaan tentang perasaan cemas yang pernah kita alami. Ada satu hal yang sering banget kita lakukan tapi mungkin aja kita ngga sadar adalah terkadang kita sering ingin semua hal berada pada kontrol kita, tapi kita lupa bahwa banyak hal yang berada diluar kontrol kita. Sampai akhirnya kita membuat sekenario dan menciptakan kemungkinan kemungkinan dalam pikiran kita seperti
“kalau...” , “misalnya...” , “andai aja....” dll.
Perasaan cemas ,kita pasti pernah berfikir bahwa cemas itu hal yang buruk dan harus di hilangkan. Padahal sebenarnya cemas itu bentuk pertahanan diri kita,dari hal hal yang mungkin ngga pernah kita mau untuk terjadi. Kak edo menjelaskan bahwa cemas itu bisa berarti baik dan bisa menjadi buruk. Gimana sih sebenernya cemas yang baik itu ? cemas yang baik itu ketika kamu ngerasain cemas tapi kamu di gerakan oleh rasa cemas itu. Misalnya, ketika kita mau menghadapi ujian, kita cemas banget kalo misal nanti ujian kita nilainya jelek dan ngga lulus. Kecemasan jenis ini sebenernya suatu hal yang masih ada didalam kontrol kita, dengan cemas itu akhirnya menggerakan kita untuk belajar dan berusaha semaksimal mungkin sebelum ujian itu dimulai. Jadi cemas yang baik itu yang menggerakan kita.
Meski perlu diingat bahwa ada juga hal yang berada di luar kontrol kita. Tapi it’s okay, setidaknya kita ngga diam aja. Dan kesalahan saat cemas ,atau hal yang buat cemas kita itu jadi suatu yang buruk adalah ketika kita cemas kita jadi ngga berdaya dan terdiam. Kita cuman cemas aja tanpa melakukan apa-apa itu yang salah. Cemas itu ngga salah, karena dia akan selalu ada di pikiran kita tapi yang salah adalah respon kita dalam menghadapi perasaan cemas itu. Jangan sampai kita di kuasai oleh perasaan cemas hingga menganggu fungsi kita sebagai manusia, itu yang salah. Kita jadi kehilangan fungsi kita untuk berinteraksi dengan orang lain, fungsi kita untuk menjalankan hobi,kebiasaan sehari hari dan hubungan kita dengan orang lain. Padahal cemas itu sesuatu yang belum tentu nyata,antisipasi bentuknya.
Ada dua hal yang dapat menimbulkan rasa cemas. Yang pertama kita kada punya toleransi yang rendah terhadap ketidak pastian, yang kedua kita ingin memegang kendali penuh dalam hidup kita. Dan perlu diingat lagi, yang bisa kita kendalikan adalah respon kita terhadap cemas. Ngomongin soal cemas,beberapa dari kita pasti menganggap cemas dengan gangguan cemas adalah dua hal yang sama. Namun pada kenyataannya gangguan cemas itu merupakan cemas yang berlebih dan terjadi terus menerus yang disertai gejala fisik maupun psikis yang mempengaruhi fungsi kita sebagai manusia.jadi gangguan cemas berada pada tingkat yang lebih tinggi dari sekedar perasaan cemas. Ketika kalian ngerasa perasaan itu sudah sangat menganggu kalian it’s okay to asking help. Cari pertolonga, pergi ke psikolog atau psikiater. Jangan ngerasa takut atau malu. Dan terakhir ,ingat bahwa Ada hal hal di dunia ini yang perlu kita terima tanpa kita lawan. Jangan terlalu menghakimi diri sampai tidak mampu untuk bangkit,jangan lupa beri penghargaan untuk diri sendiri.