Baru saja kami sama-sama berbahagia menanti kehadiran mu, mendengar suara tangismu, juga tawa riang mu. Nak, nyatanya kita sedang diuji.
Mama sedang diuji, pun Bapakmu.
Keluarga kita sedang diuji dengan sebuah harapan dan keinginan yang belum dikabulkan Allah.
Allah memberikan kami kesempatan Nak, tapi sepertinya Mama dan Bapak belum bisa memenuhi kriteria mampu untuk membesarkanmu untuk saat ini.
Tapi sebelum mama bercerita jauh tentang harapan kami kepadamu bolehkah Mama memanggil mu.
Seperti panggilan Lukman kepada anaknya, seperti panggilan Ibrahim As pada Ismail As. Panggilan yang begitu indah dan lembut dari orangtua untuk anaknya ?
Walau usiamu kala itu memasuki usia pekan kedelapan, entah bagaimana insting Mama mengatakan engkau adalah anak jagoan kami, engkau adalah anak laki-laki. Jadi izinkanlah Mama memanggil Yaa Bunayya.
Kami sadar kehadiranmu saat usia kehamilan memasuki pekan ke-enam. Sangat muda dan belum kuat untuk terlalu banyak menanggung getaran dan gerakan yang berlebihan.
Hari Ahad subuh, sebelum shalat subuh Mama terbangun dan bergegas ke kamar mandi. Mama dalam kondisi H2C (Harap-harap Cemas) karena mama kala itu terlambat mendapatkan tamu bulanan, dan "berharap" itu adalah tanda kehadiranmu.
Mama sempat kecewa menunggu hasil tes yang bergerak lambat dan samar cuma terlihat satu garis. Tapi, dalam hatiku sepertinya harus coba dengan alat tes satu lagi. Dengan harapan yang sama Mama pun mencoba dan tetap perlahan menunjukkan hasil.
Mama coba liat hasil tes sebelumnya, ada garis samar. Lalu menengok hasil tes kedua. Ternyata garis satunya samar.
Bergetar tangan Mama kala itu, lekas mengambil air wudhu dan menunaikan shalat subuh.
Setelah shalat tak henti-henti Mama mengucap syukur, tanda kehadiranmu muncul nak.
Bapak, kubangunkan dengan cara berbeda.
Cukup kuusap pipi Bapak mu nak, dan berkata "Yang, sepertinya garis dua ka (Yang, sepertinya saya garis dua)"
Diapun langsung terbangun, langsung menengok kepada Mama, lucunya nak wajah Bapakmu waktu itu. Mama masih bisa membayangkan raut gembira dan terkejut diwaktu yang bersamaan.
Bapak melihat hasil tes, dan bergegas shalat.
Sebelum engkau bertanya nak, Mama mau menjelaskan sebenarnya kami berdua ingin shalat berjamaah namun apalah daya kamar kami tidak cukup besar untuk shalat berdua, berjamaah. Harapan kami, jika engkau hadir kami akan rutinkan shalat berjamaah.
Bolak-balik Bapakmu melihat hasil tes secara berulang, melihat hasil tes ditangan kanan, lalu melihat hasil tes ditangan kiri.
Mama lupa merekam raut bahagia itu dari wajah Bapakmu. Alih-alih , jika kau besar nanti bisa kau liat betapa bahagianya kami memilikimu nak, bahkan sebelum engkau lahir.
Setiap hari, kami melewati waktu dengan penuh pengharapan agar engkau berkembang seperti janin sehat lainnya.
Tak henti-henti kami berdoa dan memohon doa kepada keluarga dekat agar engkau dan Mama sehat dan selamat hingga akhir perjuangan.
Taukah waktu kami memberikan kabar kepada kedua Kakek dan Nenek mu?
Berapa terharunya mereka mendengar engkau telah 'tinggal' mereka tentu berharap bisa menggendong mu diusia sepuh mereka.
Kau dicintai nak, bahkan sebelum engkau lahir.
Selama mengandung Mama merasakan beberapa perubahan dalam tubuh seperti layaknya ibu hamil pada umumnya.
Merindukan tiap hari Bapakmu yang kerja ratusan meter dari lokasi Mama tinggal saat itu.
Mama begitu bersyukur engkau tidak rewel dan tidak banyak ingin ini itu.
Engkau hanya ingin dekat dengan kami. Mama dan Bapakmu.
Kata orang Mama malas makan.
Kata orang Mama terlalu sering kerja ini itu.
Kata orang Mama terlalu banyak bergerak sana sini.
Mama sama sekali tidak ingin menghambat pertumbuhanmu didalam rahim.
Mama begitu lalai tidak memeriksakanmu jauh lebih cepat, agar kami tau kondisimu jauh lebih tanggap Hingga pendarahan dipekan kedelapan yang Mama alami.
Dokter memvonis engkau adalah janin yang tidak berkembang.
Mama merasa hilang tenaga kala itu, ingin menangis namun tertahan.
Kakek dan nenek yang mengantar ke rumah sakit terdengar memberikan semangat agar tidak berputus asa.
Mama begitu merasa bersalah kepadamu.
Mama begitu terpukul nak.
Padahal dimalam sebelum kejadian itu, kami sudah merencanakan pola asuh untukmu, bermimpi menyekolahkan mu di pesantren, menjadi orang yang senantiasa berjiwa besar seperti Kakek-kakekmu. Orang yang penuh cinta seperti Nenek-nenekmu. Baik hati serta penyayang seperti Bapakmu, menjadi anak aktif seperti Mama mu.
Allah memberikan kesempatan tapi sepertinya Mama dan Bapak belum terlihat mampu olehNya.
Walau kau sama sekali belum bisa melihat dunia ini, bahkan mendengar suara, engkau tetap hidup dalam kenangan kami.
Engkau telah hadir dalam tiap doa kami.
Mama dan Bapak tidak akan menyia-nyiakan proses belajar yang begitu berharga yang engkau ajarkan nak.
Kami akan senantiasa berusaha.
Kami cukupkan rasa sedih karena kehilanganmu.
Kami perlu sabar, karena Allah senantiasa bersama orang-orang yang bersabar.
Jumat, 18 Januari 2019 | Ummul Khaera