Bedanya setan dan manusia ada di potensinya untuk mencinta. Manusia rela meletakkan, bahkan menginjak logika dan harga dirinya demi cinta sehingga hilang kesombongan. Sujud pun ia laksanakan, kadang, buta saja tanpa perlu penjelasan soal apa dan mengapa.
Sujud sangat besar, luas, dalam, dan mikro maknanya. Cinta, menurutku, adalah salah satu bentuk sembahyang tertinggi seorang hamba pada Tuhannya.
Kesimpulannya, sejauh ini, dari sudut pandangku, disini letak nalar dan logika dalam menakar. Seberapa atau sejauh mana atau bijaknya bagaimana dalam mencinta. Selanjutnya, disesuaikan dengan subjek penerima.
Aku jauh dari kata perhitungan, namun ini urusan kehidupan dan ketuhanan dimana cinta adalah energi utama yang mematikan atau menghidupkan.
Rasanya ini lebih dari galau-galau itu...
Selanjutnya, yang paling aku takutkan, ketika mendengar tanya soal
Apa iya aku bisa menjawab sepenuh jiwa?
Bagaimana jika selama ini aku salah takar dan memiliki kecenderungan yang lebih besar pada dunia? atau salah satu makhlukNya? kucing misalnya, anak misalnya, karir, harta, atau jawaban lain yang bersifat posesif pada keduniawian. Bagaimana?
Apa ini tujuan Tuhan mematahkanku berkali-kali pada berbagai macam aspek kehidupan?
Agar pecah keduniawianku, kemudian utuh jiwaku untuk mencintaMu.
Agar mulus lisanku, menyebut asmaMu. Sepenuh-penuhnya inti hidupku. Kemudian berkasih dengan segalaMu, semestaMu.
Mungkin, patah-patahku ini tak ada apa-apanya, dibandingkan dengan sepi-sepi ketika Kau lepas kesadaranku tentangMu.
Jangan lepaskan aku, biar aku lepas yang perlu kulepas dengan kuat-kuat yang Allah kasih untukku. Biar. Biar saja.
walaupun sebenarnya aku juga ingin, tentu saja, jika diberi izin.
Dasar manusia, labil, dasar aku!