Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat datang, para pembaca. Sebelumnya, ahsan, jika pembaca mengetahui bahwa tulisan ini dibuat bukan dari seorang penulis best seller, bukan dari seorang motivator, influencer, tetapi hanya ditulis oleh seorang seperti saya yang hanya senang menulis, hanya masih menghadapi sedikit proses belajar selama menjalani kehidupan, hanya seorang yang mencoba untuk sharing pengalaman, tanpa ada maksud dan kepentingan tertentu didalamnya. Karena saya seorang muslim, mukmin dewasa, saya ingin mengajak pembaca untuk selalu berprasangka baik dari setiap tulisan saya, inshaa Allah bermanfaat. Saya sangat menerima kritik dan saran dari pembaca, diskusi secara ilmiah, serta beradab.
Saya pernah mengalami kondisi dimana saya memiliki rasa kekhawatiran yang luar biasa didalam diri saya. Saya tidak tahu apa yang saya khawatirkan, apa yang membuat saya khawatir, kenapa saya khawatir, dan tidak ada iktikad didalam diri untuk segera mengatasi rasa khawatir yang berlebihan tersebut. Tidur sejenak, salah satu cara yang solutif untuk mengatasinya. Namun ternyata hanya bersifat sementara. Ketika saya terbangun, khawatir itu muncul kembali. Ketika tidur pun, mata terpejam, namun kekhawatiran itu masih ada. Saya jadi teringat ketika Allah berkata “Aku jadikan malam sebagai waktumu untuk beristirahat”, saya bergumam “Kagak ngaruh tuh dalam tidur malam gue”. Hingga di pagi hari ada rasa berat didalam hati menolak untuk menerima aktivitas yang akan dilakukan, menolak untuk bersemangat, menolak ajakan teman untuk hangout, menolak segala aktivitas yang mengusik hidup saya. Ternyata pada saat itu yang ingin saya lakukan adalah, hanya ini SENDIRI. Apakah pembaca pernah mengalami hal yang serupa dengan saya? Jika tidak, anggaplah sekarang Saudara sedang mendengarkan saya sedang curhat. Saya sangat mengapresiasi Saudara sudah membaca tulisan saya sampai pada tahap ini.
Kondisi itu terjadi hampir setiap hari, dengan masalah yang sama, dengan solusi yang sama, tapi tidak ada hasil yang sesuai dengan harapan, dan tidak ada pula iktikadbaik dari dalam diri saya untuk melakukan Evaluasi. Bodoh? Iya. Rugi waktu? Apalagi.
Akhirnya suatu hari, ada sedikit iktikad baik didalam hati untuk membuka buku khusus evaluasi diri saya, saya mencoba menulis satu persatu masalah yang sedang saya hadapi, dngan tertawa kecil saya melihat masalah tersebut bisa saya tulis dalam satu halaman penuh. Disaat itu saya merasa kasihan pada diri saya sendiri, bukan bangga hati menjadi orang yang paling menderita,namun setelah saya baca berulang-ulang hingga saya meneteskan air mata, masalah tersebut sangatlah RECEH.
Saya mulai menyusun masalah-masalah tersebut, mana yang harus segera diselesaikan, mana yang bisa ditunda terlebih dahulu untuk diselesaikan, dan mana yang tidak perlu dipermasalahkan. Ternyata masalah-masalah tersebut, lebih banyak masuk kedalam kelompok yang tidak perlu dipermasalahkan. Saya terjebak dengan masalah saya sendiri, saya khawatir atas kekhawatiran itu sendiri, saya kecewa atas kekecewaan itu sendiri, saya sedih atas kesedihan itu sendiri, saya menderita karena penderitaan itu sendiri, hingga akhirnya berdampak sangat buruk bagi saya sendiri. Sehingga saya merasa menjadi manusia yang paling bodoh tanpa tahu alasannya, mudah sekali marah, gampang kesal dengan perkara kecil, sehingga saya semakin khawatir karena tidak bisa melakukan segala sesuatunya dengan benar, dan saya semakin khawatir karena semakin bertambahkan rasa kekhawatiran saya. Apakah Saudara mengerti kondisi saya pada saat ini? Atau kondisi ini masih dalam tahap wajar? Atau sudah tidak waras? Saya pernah sampaikan kondisi ini ke orang tua saya, berharap mereka memberikan rasa Iba kepada saya, namun Ibu saya hanya berkata “Kamu seperti orang tak ber-Tuhan”. Saya dan Ibu saya terdiam cukup lama, dan saya menutup sambungan telpon tanpa pamit. Hati kecil saya berkata “Kamu tidak memiliki adab terhadap orang tua”. Saya seorang mukmin, namun dicap sebagai orang tidak ber-Tuhan. Saya marah dan menolak kebenaran yang disampaikan oleh Ibu saya.
Saya terlalu sibuk melihat sosial media melihat sekian banyak orang sudah mendapatkan beasiswa keluar negeri, teman-teman sekolah banyak yang menikah bulan ini, sekian banyak orang membawa orang tua mereka naik haji, sekian banyak orang sukses menjalankan usaha bisnis kuliner, sementara saya terjebak di rumah sewaan, sedang membersihkan kamar mandi. Saya akhirnya berfikir bahwa hidup saya sangat menyebalkan dan akan selalu menyebalkan dari yang semula saya pikirkan.
Hingga akhirnya saya menyadari bahwa saya sedang berada di Lingkaran Setan. Apakah memang seperti ini uniknya kehidupan, uniknya menjadi manusia, karena sebagai seorang muslim seharusnya suatu keistimewaan bagi saya untuk berfikir lebih dalam bahwa saya adalah seorang pecundang dan jauh dari rasa syukur. Saya lupa bahwa saya seorang muslim, saya lupa bahwa saya sudah dewasa, saya lupa ada Sang Pencipta yang mengawasi saya 24 jam. Saya Lupa! Saya Lalai! Acuh kepada Rabb yang memberi ruh, yang memberi akal sehat untuk saya, hingga membuat-Nya cemburu. Saya acuh kepada Tuhan. Namun hal ini yang membuat saya bangun dan berfikir kembali bahwa sebenarnya I am truly fine, nothing’s wrong with me.
Satu-satunya solusi dan saya sangat berharap agar terlepan dari lingkaran setan adalah kembali menjalin hubungan romantis kepada Sang Khalik. Saya lupa bahwa saya hanya ‘numpang’ untuk membekali diri didalam salah satu planet ciptaanNya. Saya lupa bahwa keyakinan saya kepada Tuhan, tidak membuat saya benar-benar patuh pada aturanNya. Saya juga berterima kasih kepada Mark Manson didalam bukunya “The Subtle Art of Not Giving A F*ck”, Manson juga menyebutkan kondisi yang saya alami karena saya berada didalam lingkaran Setan. Namun dengan cara yang berbeda, Manson mengatakan kuncinya adalah masa bodoh, memang kita harus menerima bahwa dunia ini benar-benar kepar*t dan itu tidak apa-apa,karena memang seperti itu, dan akan seperti itu adanya, dengan tidak ambil pusing ketika merasa buruk, tetap berusaha untuk memutus lingkaran setan.
Saya semakin merasa orang yang paling bodoh, karena konsep Manson sudah diterapkan lebih dahulu oleh Rasulullah dengan cara yang lebih romantis, lebih beradab, hingga akhirnya datang wahyu kepada Beliau dan saya temukan wahyu itu dalam Surah Al Balad : 4 “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. Saya lupa setiap masalah atau musibah yang menimpa saya, atau orang lain telah dicatat oleh Tuhan lima puluh ribu tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi. Saya lupa bahwa ada wahyu yang lain dalam Surat Al-Baqarah : 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya....”, seharusnya kondisi atau masalah yang saya alami bisa saja lalui dengan baik. Saya ‘lupa’ meminta pertolongan ‘kembali’ ke Sang Pencipta.