Karena Cinta Tak Butuh Alasan Untuk Memaafkan
Rak-rak buku berbaris seperti layaknya hari Senin di lapangan upacara, bersama dengan jutaan judul buku yang berderet sunyi tak bergerak. Di perpustakaan kampus di masa akhir masa statusku menjadi seorang mahasiswa, aku sedang duduk berdua berseberangan bersama Gista, wanita yang sempat menjadi kisah indah di masa laluku.
Hanya ia dan meja bundar yang memberi jarak pada kami berdua. Jarak yang tidak berlaku untuk rasa cintaku yang selalu dekat untuknya, walau rasa sakit itu telah diperbuat olehnya beberapa bulan lalu. Dan di sini, di tempat di mana kekayaan intelektual dari para orang pintar di dunia disimpan dengan sangat rapi, beberapa mahasiswa sedang asik duduk untuk menenggelamkan dirinya bersama buku yang mereka bawa dari rak yang berbaris.
Tapi tidak untukku, begitupun dengannya. Kami sedang sibuk berdua, walau hanya ia yang berkata dan membuatku tertunduk meratapi gamang yang seketika hadir ketika Gista mengatakan itu.
“Apa kita bisa balikan lagi, Gensa?” harap itu tergambar jelas pada rautnya, juga dengan senyumnya yang terus menyungging walau aku tak menatapnya.
Angin pendingin ruangan yang tak jauh dari kami berdua berembus pelan, sesekali membuat beberapa helai rambutku dan ia bergerak-gerak. Walau begitu, tak ada sepatah kata pun yang mampu terujar dari mulutku. Gigi yang berbaris putih menggigit bibir bagian bawah. Dan entah mengapa, detak jantung ini berdetak tak menentu di dalam dada, membuat gamang merasuk lebih dalam pada pikiran dan hati ini.
Beberapa detik berselang, dan kalimat itu kembali terdengar olehku. “Gensa! Apa kita bisa balikan lagi?” Gista kembali mengatakannya, dengan jelas dan tegas.
Entahlah, rasanya air mendidih seperti sedang berada di dalam dada ini, dan seakan bersiap untuk meletus seperti merapi. Dan apa yang aku rasakan saat ini sama persis dengan apa yang aku rasakan ketika kalimat berbeda yang beberapa bulan lalu pernah diucapkannya terlontar.
“Aku nggak bisa sama kamu lagi, Gensa! Kita udahan aja sampe di sini!” kata Gista tanpa notasi nada yang meledak-ledak ataupun parau.
Di atas kursi besi di kantin kampus, kami berdua duduk bersebelahan. Gerimis sedang turun dari langit dengan sinar yang sudah dominan condong ke barat, sehingga lengkap rasanya untuk membuat sepasang mata ini yang mulai berkaca karena kalimat sederhana yang menyakitkan.
Kala itu, sebetulnya hatiku sedang hancur, bahkan sebelum kalimat dari wanita itu terdengar. Sudah berbulan-bulan lamanya Ibuku tak bisa bangkit dari muramnya, terus menangis karena perilaku Ayah yang meminta bercerai.
Dan di kala senja itu, sebetulnya aku ingin sekali meluapkan semua beban di dalam diri ini kepadanya yang juga aku cintai setelah Ibu, dengan harap agar masalah yang sedang menimpa kedua orangtuaku tak terlalu membuatku terbebani.
Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Beban yang semula bertengger dalam hati dan pikiran, seketika bertambah dengan sesuatu yang sangat menyakitkan yang begitu saja keluar dari mulutnya.
“Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu, Gista?” tatapku ke arahnya yang duduk di sebelah kiri. Kulihat wajahnya lurus tak berekspresi.
“Aku udah nggak bisa lagi sama kamu, Gensa! Apa kamu nggak bisa dengar?” Gista berbalik menatapku dengan tegas.
Aku berusaha untuk tenang, walau beban yang ada di dalam diri ini membuatku gugup. Namun wanita itu hanya menggelengkan kepala dan tidak berkenan untuk menjelaskan lebih lanjut maksud dari kalimat yang membuatku hancur lebur. Ia bangkit dari tempatnya, kemudian berbalik arah dan lalu melangkah meninggalkanku yang masih terpaku dengan pernyataannya.
“Gista, tunggu! Aku mohon jangan kamu lakuin ini sama aku!” Aku lantas berdiri sambil mengutarakannya dengan suara yang lantang. Namun tubuh dari wanita itu tetap membelakangiku, dengan suara langkahnya yang semakin lama semakin menjauh.
Aku kembali duduk dan mematung. Setelah menyadari sosok itu tak terlihat lagi oleh kedua mataku, bibir ini kaku, dan tak ingin rasanya mengutarakan sepatah katapun. Sama seperti saat ini, ketika aku telah berada di hadapannya dengan kalimat yang berbeda. Dan hati ini pun bergumam, namun tetap dalam sunyi yang diam.
“Semudah itukah ia mengatakan ingin kembali? Apakah ia tak mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan tanpa alasan yang sampai saat ini akupun tak tahu kejelasannya? Apa aku harus menggelengkan kepala, sebagai tanda aku menolak itikad baiknya untuk memperbaiki? Atau aku harus mengangguk, berusaha untuk melupakan luka yang selama ini bertengger di dalam dada?” wajahku masih tetap muram, dan menunduk untuk menenggelamkannya.
“Gensa, kenapa kamu nggak ngejawab pertanyaanku?” suara dari wanita itu kembali terdengar memecah lamunan masa lalu.
Tubuhku masih tetap mematung tanpa memberikan respon sedikitpun. “Gensa, tolong jawab, aku cuma mau memperbaiki kesalahan yang pernah aku perbuat sama kamu,” wajahnya mendekat ke arahku, walau aku tak menatapnya.
Saat parasnya berada pada jarak yang lebih dekat denganku yang masih menunduk, suara tetesan air terdengar beradu dengan meja bundar yang ada di depanku. Seketika tanpa diberi intruksi leher ini bergerak menjadi sedikit menengadah agar dapat mensejajarkan posisi wajahku dengannya.
Dan, di hadapanku, terlihat matanya yang sedang berkaca. Air berharga dari sepasang mata wanita itu meluap dan tak terbendung. Sejujurnya, ini adalah hal yang paling menyebalkan jika aku harus menyaksikan seorang wanita menangis. Aku tak mampu berbuat apa pun jika melihat itu, seperti ketika aku melihat Ibu melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba, tangan kananku bergerak tanpa diperintah. Kuletakan salah satu jari tanganku di daerah sekitar matanya yang berair, berusaha menyeka agar tidak terus meluap dan membuatku iba. Dan ketika itu barulah aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
“Kenapa kamu malah nangis?” tanyaku dengan suara yang parau.
“Kamu nggak bisa maafin aku, Gensa? Apa aku harus jelasin tentang semua yang pernah aku perbuat sama kamu di masa lalu? Aku sangat menyesal, dan aku nggak tahu apa yang kamu rasain setelah kejadian itu,” tangisnya tak tertahan dan meledak. Wajahnya yang sempat mendekat seketika menjauh dan membuat tubuhnya kembali pada di kursi yang berada di depanku.
Kedua telapak tangannya menutup wajah yang memerah karena tangis. Kini tak lagi terdengar kalimatnya yang menginginkanku kembali, melainkan suara lirih tangisan yang terdengar.
Tanpa diperintah, tubuh yang tadinya mematung di atas kursi akhirnya memberi respon dengan bangkit dari sana. Kedua kaki ini pun melangkah menuju seberang, di mana wanita yang sebetulnya masih aku cintai itu sedang sesegukan.
Beberapa pasang mata yang ada di sekitarku nampak menyaksikan kejadian itu. Namun aku tak mempedulikannya, langkah ini tetap kulakukan untuk menghampiri dirinya yang sedang rapuh.
“Kenapa kamu malah nangis?” tanyaku saat sudah berjongkok di sampingnya.
Ia masih belum memberikan respon, namun suara tangis itu tetaplah sama. Tanpa membiarkan waktu terus berlalu, tanganku meraih salah satu lengannya yang digunakan untuk menutupi wajahnya yang muram. Keras dan bertenaga, namun aku terus berusaha agar tangan itu dapat kugenggam.
“Maafin aku Gensa. Kalau kamu mau kasih aku kesempatan untuk kembali, aku bakal jelasin semuanya sekarang juga. Dan aku berjanji, aku nggak akan pernah mengulang kesalahan yang sama,” kedua telapak tangannya masih menutupi wajah yang memerah.
Inilah saat-saat yang membuatku tak berdaya, di mana aku harus menyaksikan dan juga mendengar tangisan dari seorang wanita. Sejak kejadian itu, di mana Ayah memutuskan untuk meninggalkan Ibu, ada janji yang terujar dalam hati untuk mengatakan tidak membuat seorang wanita menangis. Dan saat ini aku harus memenuhi janji itu, walau untuk wanita yang pernah membuatku sakit.
“Gensa, maafin aku. Aku nyesel nyesel udah ngelakuin semuanya,” wanita itu kembali berkata.
Dengan rasa cinta yang masih ada, juga dengan luka yang secara misterius tiba-tiba menghilang begitu saja, aku katakan kepadanya, “Ya, aku masih mau balikan lagi sama kamu!”
Tangis itu terhenti beberapa detik, namun entah mengapa ia kembali menangis, bahkan semakin kencang dari sebelumnya. Aku bingung, apa ada yang salah dengan yang kukatakan kepadanya barusan.
“Gista, kenapa kamu malah nangis lebih kencang?” aku bertanya dengan heran. Aku coba untuk kembali meraih tangannya, dan kali ini sangat mudah untuk mendapat tangan itu dalam genggaman.
“Gensa, aku bakal jelasin sekarang. Waktu itu aku...” belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, aku sudah menyuruhnya untuk diam dan berganti dengan aku yang berkata.
“Udah, aku nggak perlu penjelasan dari kamu. Walaupun aku pernah ngerasain sakit karena perilakumu, tapi jujur cinta yang ada di dalam hati ini masih ada dan tak akan pernah terganti. Malah, karena kesakitan yang pernah aku rasain ngebuat cinta ini semakin menggunung di dalam dada,” aku diam beberapa detik dan memberi senggang untuk sedikit mengambil napas.
“Aku tak butuh lagi alasanmu. Aku cuma mau ngelaksanain apa yang benar-benar masih ada di dalam hatiku, yaitu cinta buat kamu. Kalau kamu memang benar-benar mau balik sama aku, apa kamu bisa berhenti menangis? Karena cintaku tak butuh alasan untuk memaafkan.”
Foto & Naskah: Andry Bem Mandariana