Bolehkah Kuberi Judul dengan Nama Miliknya?
Ternyata kita bisa menyukai lagu hanya karna orang yang kita suka menyukainya. Bisa mengabaikan seribu keburukannya demi mengagungkan satu kebaikannya saja. Bisa mengarang berbagai alasan, menangguhkan agenda-agenda penting demi sebuah pertemuan. Hari-hari terasa lebih cerah, biarpun badan kuyup kehujanan. Ringan sekali tersenyum sana-sini, ke orang tak dikenal sekalipun. Tubuh terasa terisi ribuan volt listrik, padahal hanya mendengar nama orang yang mirip dengannya. Sampai-sampai otak konslet, padam sudah logika.
.
Kita mungkin secara tak sadar menaruh harap, setidaknya tidak sepihak merasakannya. Naif menganggap hal sepele sebagai perhatian istimewa. Ingin kebersamaan dengannya berlangsung lama, kalau bisa terus-terusan ada di sampingnya. Berubah beringas tiap ada lawan hendak mencuri posisimu atau mencuri perhatiannya.
.
Layaknya kucing di musim kawin. Teriak-teriak nyaring tak karuan, tak berperi menggoda, lupa kalau makhluk lain juga hidup di Bumi, terganggu suara mereka. Mendadak berubah jadi singa bila pejantan lain mendekati betinanya.
.
Begitulah. Tetapi ada yang seringkali terlewat. Bagaimana jika manusia yang disukai membuat remuk hati? Menjatuhkan harap kita hingga berdebum babak belur? Bukan main.
Rasanya menjadi manusia paling kasihan dan menderita se-semesta, air mata tak kehabisan stok. Jangankan makan, bernafas saja terasa menyesakkan. Merasa diri tak pernah cukup pantas untuk siapapun, mengabaikan kesempatan baik— melewatkan orang-orang baik.
Waktu memang tak akan pernah bisa menyembuhkan hati yang remuk itu, karna hati memang didesain bisa mengobati dirinya sendiri. Jika tidak berupaya membantu hati sendiri bekerja sesuai mekanismenya, melainkan terus mengorek luka karna gatal mengingat masa yang indah, bagaimana akan melanjutkan hidup? Ada banyak orang baru yang akan ditemui, jika beruntung, akan ada kejadian penuh magis itu terjadi lagi bukan?
.
#quotes #poetry #poem #sajak

















